وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
Dan Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِwa-fir'awna dzii l-awtaadidan Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَفِرْعَوْنَwa-fir'awnadan Firaun
- ذِيdziipemilik
- الْأَوْتَادِl-awtaadipasak-pasak
Inti bacaan
Contoh ketiga kekuasaan besar: 'dan Firaun yang mempunyai pasak-pasak', simbol kekuasaan dan kekokohan kerajaan yang pada akhirnya tetap runtuh.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akar (الْأَوْتَادِ, al-awtaadi) berarti pasak. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya: yang di sana berbaris dammah dan yang di sini berbaris kasrah, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda.
Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar, dan yang membedakan cuma apakah yang dihitung katanya atau bentuknya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu tanda pun. Kata (الْأَوْتَادِ, al-awtaadi) di sini disandarkan kepada seorang penguasa, bukan kepada bumi.
Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan Yang berfirman pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Bentuk (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) berbaris kasrah, berbeda dari bentuknya di 38:12.
Kesejajaran dengan 88:19 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang dipancangkan, dan yang di sana milik Yang berfirman sedangkan yang di sini milik manusia.
Nama penguasa di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti dua nama di 89:7 dan 89:9. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan ketiganya berkumpul di empat ayat berturut-turut.
Susunan (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak.
Ketiga kaum yang disebut di 89:6 sampai ayat ini seluruhnya dikenalkan lewat sesuatu yang mereka tegakkan atau miliki, yaitu tiang, batu yang dipahat, dan pasak. Jadi tidak satu pun dikenalkan lewat apa yang mereka percayai, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (وَفِرْعَوْنَ, wa Fir'auna) dibuka huruf waw yang menyambungkannya kepada dua nama sebelumnya, sama seperti huruf di awal 89:9. Jadi tiga nama itu satu daftar yang tidak terputus, dan yang menandainya cuma dua huruf penyambung yang sama.
Yang disebut di ayat ini satu orang, sedangkan dua yang sebelumnya kaum. Jadi daftarnya tidak seragam jenisnya: dua kaum dan satu penguasa. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseragaman itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyatukan ketiganya baru dinyatakan di 89:11.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan Fir'aun sebagai contoh ketiga penguasa yang dibinasakan, dan rangkaian keterangannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini.
Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan ayat ini. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda.
Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar, dan yang membedakan cuma apakah yang dihitung katanya atau bentuknya.
Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan Yang berfirman pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa.
Yang disebut di ayat ini satu orang, sedangkan dua yang sebelumnya kaum. Jadi daftarnya tidak seragam jenisnya: dua kaum dan satu penguasa. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseragaman itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyatukan ketiganya baru dinyatakan di 89:11. Susunan keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan 89:10. Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan Allah pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan-Nya pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu. Satu akar untuk pasak bumi dan pasak penguasa menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda. Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar. Angka kata dan angka bentuk memberi dua hitungan, dan keduanya benar selama disebutkan yang mana yang dihitung. Pasak yang dipancangkan pada bumi dan pasak yang dimiliki penguasa berbagi satu akar yang langka.
- Nama penguasa di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti dua nama di 89:7 dan 89:9. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan ketiganya berkumpul di empat ayat berturut-turut. Sesudah 89:10 tidak ada satu nama pun yang disebut Allah sampai ujung surahnya. Tiga nama tanpa keluarga kata yang berkumpul di empat ayat menandai bagian itu sebagai satu kesatuan tersendiri. Dikenalkan lewat yang dibangun berbeda dari dikenalkan lewat yang diyakini, dan pilihan itu tidak diterangkan.
- Susunan keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak. Yang pertama milik orang yang selamat, dan dua lainnya milik yang binasa. Susunan kepemilikan yang sama untuk yang selamat dan yang binasa menaruh keduanya di dalam satu rangka kalimat. Pasak yang dipancangkan pada bumi dan pasak yang dimiliki penguasa berbagi satu akar yang langka.
- Ketiga kaum yang disebut Allah di 89:6 sampai ayat ini seluruhnya dikenalkan lewat sesuatu yang mereka tegakkan atau miliki, yaitu tiang, batu yang dipahat, dan pasak. Jadi tidak satu pun dikenalkan lewat apa yang mereka percayai. Apa yang membuat sesuatu yang dibangun lebih pantas dijadikan tanda pengenal sebuah kaum daripada apa yang mereka yakini? Dikenalkan lewat yang dibangun berbeda dari dikenalkan lewat yang diyakini, dan pilihan itu tidak diterangkan.
- Kesejajaran dengan 88:19 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan menyebut gunung yang ditegakkan Allah. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang dipancangkan, dan yang di sana milik-Nya sedangkan yang di sini milik manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah berurutan yang menyebut sesuatu yang dipancangkan berdiri sejajar tanpa saling menyebut satu kali pun.