فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ

Lalu memperbanyak kerusakan di dalamnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَfa-aktsaruu fiihaa l-fasaadalalu memperbanyak kerusakan di dalamnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَكْثَرُواfa-aktsaruumaka mereka memperbanyak
  2. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  3. الْفَسَادَl-fasaadakerusakan

Inti bacaan

Konsekuensi langsung dari melampaui batas: 'lalu memperbanyak kerusakan di dalamnya', hubungan sebab-akibat antara pelanggaran batas dan kerusakan tatanan yang meluas. Baris ini juga penutup daftar tiga kaum, dan baris pertama yang menyebut perbuatan mereka sesudah lima baris pengenalan; sesudahnya nama mereka tidak disebut lagi sampai ujung surah.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti banyak. Ia dipakai di 162 ayat, dan itu salah satu akar yang sering muncul, antara lain di 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1.

Kesejajaran dengan 102:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) di sini menjadi objek, bukan pokok kalimat.

Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12. Akarnya berarti rusak. Ia dipakai di 47 ayat, antara lain 2:11, 5:33, 7:56, 27:34, dan 30:41.

Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan berbuat kerusakan di bumi, dan di 30:41 untuk kerusakan yang tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia. Jadi akar yang sama menyebut larangan, akibat, dan di sini perbuatan tiga kaum terdahulu. Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) di sini bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.

Bentuk (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi banyak, bukan menjadi banyak sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan yang disengaja, bukan keadaan yang terjadi begitu saja. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Huruf fa di depan (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda. Jadi Al-Qur'an menyatakan dua perbuatan sebagai satu rangkaian sebab dan akibat, dan yang menandainya cuma satu huruf.

Kata (فِيهَا, fiihaa) memakai kata ganti yang berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya negeri-negeri di 89:11. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jeda bacaannya karena itu jatuh di tengah kalimat.

Yang dinyatakan bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya.

Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) bertakrif, sehingga yang disebut kerusakan sebagai jenis, bukan satu kerusakan tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu memperluas cakupannya, dan menyebutnya sebagai satu perbuatan tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi lebih kecil daripada yang tertulis.

Bentuk (فِيهَا, fiihaa) menyebut tempat, dan kata ganti pada ujungnya menggantikan kata benda di 89:11. Jadi Al-Qur'an tidak mengulang kata bendanya melainkan memakai kata ganti, dan penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat yang tidak terputus.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa mereka memperbanyak kerusakan di negeri-negeri, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 162 ayat, antara lain 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1.

Kesejajaran dengan 102:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan.

Kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12. Akarnya dipakai di 47 ayat, antara lain 2:11, 5:33, 7:56, 27:34, dan 30:41. Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan berbuat kerusakan di bumi.

Yang dinyatakan bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya.

Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut kerusakan sebagai jenis, bukan satu kerusakan tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu memperluas cakupannya, dan menyebutnya sebagai satu perbuatan tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi lebih kecil daripada yang tertulis. Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda, dan huruf yang sama dipakai di awal 89:13.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dinyatakan Allah bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya yang berarti membuat sesuatu menjadi banyak. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri. Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungannya.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 162 ayat, antara lain 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1. Di 102:1 akar yang sama menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia dari Allah. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu akar untuk memperbanyak harta dan memperbanyak kerusakan menaruh keduanya di dalam satu ukuran kata. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri.
  • Kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12, dan akarnya dipakai di 47 ayat. Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan Allah berbuat kerusakan di bumi, dan di 30:41 untuk kerusakan yang tampak karena perbuatan tangan manusia sendiri. Larangan, akibat, dan perbuatan yang dinamai satu akar menerangkan bahwa ketiganya menyangkut satu perkara. Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungannya.
  • Bentuk kata kerjanya berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi banyak, bukan menjadi banyak sendiri. Jadi yang dinyatakan Allah perbuatan yang disengaja, bukan keadaan yang terjadi begitu saja. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab yang disengaja bisa dituntut sedangkan yang terjadi cuma bisa disesali. Yang disengaja bisa dituntut, dan yang terjadi cuma bisa disesali, dan bentuk katanya yang menentukan yang mana.
  • Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda. Jadi Allah menyatakan dua perbuatan sebagai satu rangkaian sebab dan akibat, dan yang menandainya cuma satu huruf. Apa yang menghubungkan melampaui batas dengan bertambahnya kerusakan? Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungan antara keduanya.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti yang berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya negeri-negeri di 89:11. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jeda bacaannya karena itu jatuh di tengah kalimat, bukan di ujungnya. Kalimat yang dipisah menjadi beberapa ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang belum selesai maknanya. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri.