فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍfa-shabba 'alayhim rabbuka sawtha 'adzaabinmaka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَصَبَّfa-shabbamaka Dia menimpakan
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- سَوْطَsawthacambuk
- عَذَابٍ'adzaabinazab
Inti bacaan
Respons tegas terhadap kerusakan yang meluas: 'maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab', metafora hukuman yang berulang dan menyakitkan, konsekuensi proporsional terhadap tingkat kerusakan yang dilakukan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (سَوْطَ, sawtha) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti cambuk. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 89:20. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Kata (سَوْطَ, sawtha) di sini disandingkan dengan azab, dan keduanya menjadi satu satuan.
Kata kerja (فَصَبَّ, fa-shabba) berasal dari akar yang berarti menuangkan. Akar itu cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan ayat ini. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa.
Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Kesejajaran dengan 80:25 patut dicatat, sebab susunannya di sana hampir sama dengan susunan di sini, dan yang berbeda cuma apa yang dicurahkan. Bentuk (فَصَبَّ, fa-shabba) berbentuk lampau dan berpelaku Tuhanmu.
Rangkaian (سَوْطَ عَذَابٍ, sawtha 'adzaabin) menyandingkan alat pemukul dengan azab. Jadi azabnya digambarkan sebagai cambuk, bukan disebut dengan namanya sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan gambaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma kata yang tidak punya pembanding.
Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sejenis azab, bukan azab yang sudah tertentu. Bandingkan dengan 89:25 yang memakai bentuk bertakrif dengan kata ganti. Jadi dua penyebutan azab di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda.
Kata (رَبُّكَ, rabbuka) muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14. Jadi tiga penyebutan itu berkumpul di bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan tidak ada satu pun sesudah 89:14 sampai 89:22.
Huruf fa di depan (فَصَبَّ, fa-shabba) menyatakan urutan yang rapat, sehingga azab itu menyusul kerusakan tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai di awal 89:12, sehingga dua ayat berturut-turut memakai penyambung yang sama untuk menyatakan dua akibat yang beruntun.
Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) berasal dari akar yang berarti menyiksa. Akar itu dipakai di 322 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama muncul lagi di 89:25 dua kali, sehingga ia dipakai tiga kali di dalam surah ini.
Jadi akar untuk azab muncul di dua tempat yang berjauhan di surah ini: sekali untuk azab yang menimpa kaum terdahulu dan dua kali untuk azab pada hari perhitungan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) di sini tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 89:25.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan akibat yang menimpa ketiga kaum tersebut: azab dari Tuhan, dan kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Yang lain berada di 89:20, dan keduanya berjarak tujuh ayat.
Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan ayat ini. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa.
Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Kesejajaran dengan 80:25 patut dicatat, sebab susunannya di sana hampir sama dengan susunan di sini, dan yang berbeda cuma apa yang dicurahkan.
Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 322 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 89:25 dua kali sehingga ia dipakai tiga kali di dalam surah ini. Jadi akar untuk azab muncul di dua tempat yang berjauhan: sekali untuk azab yang menimpa kaum terdahulu dan dua kali untuk azab pada hari perhitungan. Kata untuk Tuhan muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14 sebelum berhenti sampai 89:22.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempat ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 89:20, sehingga keduanya berjarak tujuh ayat. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar tidak punya pembanding, dan itu memusatkan perhatian padanya.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan 89:13. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan Allah dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa. Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Satu akar untuk curahan yang menghidupkan dan yang menyiksa menaruh keduanya di dalam satu perbuatan.
- Rangkaian di ayat ini menyandingkan alat pemukul dengan azab. Jadi azab dari Allah digambarkan sebagai cambuk, bukan disebut dengan namanya sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan gambaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma kata yang tidak punya pembanding di tempat mana pun. Gambaran yang memakai kata tanpa pembanding meninggalkan pembacanya tanpa ukuran dari tempat lain. Curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa berbagi satu akar yang cuma hidup di empat ayat. Apa yang tersisa dari sebuah gambaran ketika kata yang memikulnya tidak pernah dipakai lagi di tempat mana pun?
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sejenis azab, bukan azab yang sudah tertentu. Bandingkan dengan 89:25 yang memakai bentuk bertakrif dengan kata ganti. Jadi dua penyebutan azab di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Dua cara penakrifan untuk satu hal menandai dua kedudukan yang berbeda, dan keduanya dipakai di dalam satu surah. Curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa berbagi satu akar yang cuma hidup di empat ayat.
- Kata untuk Tuhan muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14. Jadi tiga penyebutan itu berkumpul di bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan tidak ada satu pun sesudah 89:14 sampai 89:22. Allah menahan sebutan itu sesudah ceritanya selesai. Sebutan yang berkumpul di satu bagian dan berhenti sesudahnya menandai batas bagian itu tanpa kata penanda. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar memusatkan perhatian pada satu tempat saja.
- Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga azab itu menyusul kerusakan tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai Allah di awal 89:12. Jadi dua ayat berturut-turut memakai penyambung yang sama untuk menyatakan dua akibat yang beruntun, dan tidak ada satu pun jeda yang disebut di antaranya. Dua akibat yang beruntun tanpa jeda tidak menyisakan tempat untuk berhenti di antara keduanya. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar memusatkan perhatian pada satu tempat saja.