إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِinna rabbaka la-bi-l-mirshaadisesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- لَبِالْمِرْصَادِla-bi-l-mirshaadibenar-benar di tempat pengintaian
Inti bacaan
Jaminan pengawasan yang tak pernah lengah: 'sesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian', penegasan bahwa keadilan selalu siaga, tidak ada yang bisa lolos dari perhatian yang konstan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengintai. Ia cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang berfirman sendiri. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Kata (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) di sini menyebut kedudukan, bukan perbuatan.
Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang dilewati. Kata (الْمِرْصَادِ, al-mirshaadi) di sini berpola tempat, bukan pola perbuatan.
Bentuk (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) memikul dua huruf tambahan sekaligus, yaitu huruf penegas dan huruf yang menyatakan berada di. Bersama huruf inna di awal ayat, susunannya memuat tiga penanda penegasan di dalam satu ayat yang cuma tiga kata.
Jadi ayat ini yang paling padat penegasannya di dalam surah ini. Susunan berlapis seperti itu dipakai di 89:23 dengan cara yang berbeda, dan di kedua tempat itu yang dikuatkan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Kata (رَبَّكَ, rabbaka) muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6 dan 89:13. Jadi ayat ini menutup rangkaian tiga penyebutan itu, dan sesudahnya Allah disebut dengan bentuk yang berbeda-beda sampai ujung surahnya.
Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan sesudahnya 89:15 berpindah kepada manusia secara umum. Jadi ceritanya ditutup bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat Yang mengawasi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Bentuk (الْمِرْصَادِ, al-mirshaadi) berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat mengintai, bukan perbuatan mengintai. Jadi yang dinyatakan kedudukan-Nya, bukan perbuatan-Nya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "di tempat pengintaian", memakai kata tempat untuk menahan pola tempat yang sama.
Kata (إِنَّ, inna) huruf penegas, dan ia dipakai lagi di 89:23 pada surah ini. Jadi dua ayat di surah ini memakai huruf itu, dan keduanya berada di ayat yang menyatakan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata: yang di sini kedudukan Yang mengawasi, dan yang di sana keadaan pada hari itu.
Ayat ini cuma tiga kata, sedangkan ayat sebelumnya lima kata dan ayat sesudahnya lima belas kata. Jadi ia berdiri di antara dua ayat yang jauh lebih panjang, dan kependekannya membuatnya menonjol tanpa perlu ditandai dengan kata apa pun. Bentuk (إِنَّ, inna) mendahuluinya, dan keduanya bekerja pada arah yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menutup kisah peringatan dengan penegasan bahwa Tuhan senantiasa mengawasi, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan ayat ini.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang berfirman sendiri.
Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang dilewati.
Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan sesudahnya 89:15 berpindah kepada manusia secara umum. Jadi ceritanya ditutup bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat Yang mengawasi.
Ayat ini cuma tiga kata, sedangkan ayat sebelumnya lima kata dan ayat sesudahnya lima belas kata. Jadi ia berdiri di antara dua ayat yang jauh lebih panjang, dan kependekannya membuatnya menonjol tanpa perlu ditandai dengan kata apa pun di dalam teksnya. Huruf di awal ayat dipakai lagi di 89:23, dan keduanya berada di ayat yang menyatakan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan 89:14. Di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Allah sendiri. Satu akar untuk tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Allah menaruh keduanya di dalam satu kata.
- Kata terakhirnya memikul dua huruf tambahan sekaligus, dan bersama huruf di awal ayat susunannya memuat tiga penanda penegasan di dalam satu ayat yang cuma tiga kata. Jadi ayat ini yang paling padat penegasannya di dalam surah ini, dan yang dikuatkan Allah sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata. Tiga penanda penegasan di dalam tiga kata membuat ayatnya paling padat, dan kepadatan itu jatuh pada yang tak terlihat. Tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang mengawasi berbagi satu akar yang langka.
- Bentuk kata terakhirnya berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat mengintai, bukan perbuatan mengintai. Jadi yang dinyatakan kedudukan Allah, bukan perbuatan-Nya. Terjemahannya memakai kata tempat untuk menahan pola tempat yang sama, dan menggantinya dengan kata perbuatan akan mengubah pernyataan tetap menjadi kejadian. Menyebut kedudukan berbeda dari menyebut perbuatan, sebab yang pertama tetap dan yang kedua bisa berhenti.
- Di 72:9 dan 72:27 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang pasti dilewati. Menanti di tempat yang pasti dilewati berbeda dari mencari, sebab yang pertama tidak menuntut usaha sama sekali. Tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang mengawasi berbagi satu akar yang langka.
- Kata untuk Tuhan muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6 dan 89:13. Jadi ayat ini menutup rangkaian tiga penyebutan itu, dan sesudahnya Allah disebut dengan bentuk yang berbeda-beda sampai ujung surahnya. Tiga penyebutan itu seluruhnya berada di bagian yang menceritakan kaum terdahulu. Sebutan yang muncul tiga kali lalu berhenti menandai batas sebuah bagian tanpa satu kata penanda pun. Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya.
- Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan ceritanya ditutup Allah bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat-Nya sendiri. Apa yang berubah pada sebuah kisah peringatan ketika yang tinggal di ujungnya bukan nasib pelakunya melainkan kedudukan Yang mengawasi? Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya. Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya.