فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُfa-ammaa l-insaanu idzaa maa btalaahu rabbuhu fa-akramahu wa-na'amahuadapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan
- فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِfa-yaquulu rabbii akramaniberkatalah dia, Tuhanku telah memuliakanku
Terjemahan per kata (11 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- إِذَاidzaaapabila
- مَاmaaapa pun
- ابْتَلَاهُbtalaahumengujinya
- رَبُّهُrabbuhuTuhannya
- فَأَكْرَمَهُfa-akramahumaka Dia memuliakannya
- وَنَعَّمَهُwa-na'amahudan Dia menyenangkannya
- فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- أَكْرَمَنِakramanimemuliakanku
Inti bacaan
Kesalahan asumsi tentang kemakmuran: 'apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia: Tuhanku telah memuliakanku', kritik terhadap kecenderungan menafsirkan kelimpahan material sebagai bukti otomatis kemuliaan spiritual, kesalahpahaman yang perlu dikoreksi.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu dari akar yang berarti mengatakan lewat morfologi. Kata (أَكْرَمَنِ, akramani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima surahnya.
Kata kerja (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata membuka kedua sisi pasangan ini, dan Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan.
Akar (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) berarti menguji. Akar itu dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata yang sama dipakai untuk pemuliaan di ayat ini dan untuk penyempitan di 89:16. Jadi Al-Qur'an menamai kedua keadaan itu ujian, dan yang berbeda cuma bentuknya. Manusia menyangka yang satu tanda kemuliaan dan yang lain tanda kehinaan. Kata (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) di sini membuka sisi yang menyenangkan, bukan yang menyempitkan.
Kata kerja (وَنَعَّمَهُ, wa na''amahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti hidup senang dan tercukupi. Ia dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 88:8. Bentuknya berpola kedua, sehingga artinya membuat seseorang menikmati.
Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan. Jadi tiga perbuatan dari satu pihak disusul satu kesimpulan dari pihak lain, dan kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaanu) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23, sehingga kata itu muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menyebut jenis.
Bentuk (أَكْرَمَنِ, akramani) memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Al-Qur'an memperdengarkan kesimpulannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai lagi di 89:16 dan 89:24 di dalam surah ini.
Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 89:16. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan yang tidak bisa dipecah, dan membaca salah satunya sendirian menghilangkan separuh yang dinyatakannya.
Bentuk (فَأَكْرَمَهُ, fa-akramahu) berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja sesudahnya yang berpola kedua. Jadi dua perbuatan yang disebut sesudah ujian sama-sama memakai pola yang menyatakan membuat sesuatu terjadi, dan keduanya dikerjakan atas manusia itu, bukan olehnya.
Tafsiran
Ayat ini mencatat kekeliruan manusia yang mengira kenikmatan dunia sebagai tanda kemuliaan di sisi Allah, dan kutipnya dibuka serta ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu lewat morfologi.
Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata membuka kedua sisi pasangan ini, dan Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan.
Akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian.
Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan. Jadi tiga perbuatan dari satu pihak disusul satu kesimpulan dari pihak lain, dan kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama.
Kata pertamanya huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 89:16. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan yang tidak bisa dipecah, dan membaca salah satunya sendirian menghilangkan separuh yang dinyatakannya. Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23 di dalam surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi Allah memakai satu kata untuk membuka kedua sisi pasangan ini, dan kata yang sama menamai pemuliaan dan penyempitan. Yang berbeda cuma bentuk ujiannya, bukan kedudukannya sebagai ujian. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan bahwa keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya. Ucapan yang dikutip langsung terdengar sendiri, dan itu bekerja berbeda dari laporan tentang ucapan.
- Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan Allah berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan manusia. Kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama. Apa yang terjadi pada penilaian seseorang ketika ia menghitung apa yang diterimanya dan melewatkan bahwa ia sedang diuji? Menghitung apa yang diterima dan melewatkan bahwa itu ujian mengubah seluruh kesimpulan tanpa mengubah kenyataannya.
- Akar kata kerja keduanya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai Allah untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian. Jadi akar yang sama menamai ujian yang menyusahkan dan ujian yang menyenangkan. Satu akar untuk ujian yang menyusahkan dan yang menyenangkan menaruh keduanya di dalam satu nama. Ucapan yang dikutip langsung terdengar sendiri, dan itu bekerja berbeda dari laporan tentang ucapan.
- Bentuk kata terakhirnya memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Allah memperdengarkan kesimpulannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai lagi di 89:16 dan 89:24 di dalam surah ini, sehingga tiga ucapan manusia dikutip langsung. Ucapan yang dikutip langsung bekerja berbeda dari ucapan yang dilaporkan, sebab yang pertama terdengar sendiri.
- Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai Allah lagi di 89:23, sehingga kata itu muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menyebut jenis. Jadi tidak ada satu pun golongan yang dikecualikan dari pernyataannya. Menyebut manusia sebagai jenis menutup jalan keluar bagi siapa pun yang menganggap ayatnya tentang orang lain. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya.
- Bentuk kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima surahnya, sama seperti bentuk di 89:4, 89:9, dan 89:16. Jadi empat kata di dalam surah ini dipendekkan Allah dengan cara yang sama, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sedikit pun. Bentuk yang dipendekkan demi rima berulang di beberapa ayat, dan pengulangan itu menandai satu kebiasaan susunan. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya.