وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُwa-ammaa idzaa maa btalaahu fa-qadara 'alayhi rizqahusementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya
  2. فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِfa-yaquulu rabbii ahaananiberkatalah dia, Tuhanku telah menghinaku

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. مَاmaaapa pun
  4. ابْتَلَاهُbtalaahumengujinya
  5. فَقَدَرَfa-qadaramaka Dia membatasi
  6. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  7. رِزْقَهُrizqahurezekinya
  8. فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
  9. رَبِّيrabbiiTuhanku
  10. أَهَانَنِahaananimenghinakanku

Inti bacaan

Kesalahan asumsi sebaliknya tentang kesulitan: 'apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia: Tuhanku telah menghinaku', kritik terhadap interpretasi sebaliknya, menafsirkan keterbatasan material sebagai bukti kehinaan, keduanya adalah kesalahan penilaian yang sama-sama keliru.

Penjelasan pilihan kata

Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu dari akar yang berarti mengatakan lewat morfologi. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima, sama seperti bentuk di 89:15.

Akar (أَهَانَنِ, ahaanani) berarti ringan dan hina. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan.

Jadi akar yang sama memikul kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang ringan dan tidak berat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia.

Kata kerja (فَقَدَرَ, fa-qadara) berasal dari akar yang berarti mengukur dan menentukan. Akar itu dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 87:3. Kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk.

Jadi akar yang di 87:3 menyebut penentuan ukuran sebagai sifat yang terpuji, di sini menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan. Yang berbeda bukan perbuatannya melainkan bagaimana manusia membacanya, dan Al-Qur'an tidak menunjuk hal itu. Bentuk (فَقَدَرَ, fa-qadara) berpelaku Tuhannya, bukan manusia yang diuji.

Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.

Kata (رِزْقَهُ, rizqahu) berasal dari akar yang berarti memberi rezeki. Akar itu dipakai di 123 ayat, antara lain 2:3, 11:6, 51:22, 65:3, dan 67:21. Di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali.

Bentuk (فَيَقُولُ, fa-yaquulu) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja sebelumnya berbentuk lampau. Jadi ujiannya sudah terjadi dan ucapannya masih berlangsung. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan susunan yang sama dipakai di 89:15.

Kata (وَأَمَّا, wa ammaa) huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 89:15. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan, dan huruf pembukanya sendiri yang menandai bahwa keduanya harus dibaca bersama-sama.

Susunan ayat ini tidak menyebut ulang kata untuk manusia, berbeda dari 89:15 yang menyebutnya. Jadi pokok kalimatnya dibawa dari ayat sebelumnya, dan penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat panjang yang dipisah menjadi dua bagian. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) menutup ayat ini, dan pokok kalimatnya dibawa dari 89:15.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kekeliruan sebaliknya: manusia mengira kesempitan rezeki sebagai tanda kehinaan di sisi Allah, dan kutipnya dibuka serta ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu lewat morfologi.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan.

Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 87:3. Kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk.

Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.

Kata pertamanya huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 89:15. Susunan ayat ini juga tidak menyebut ulang kata untuk manusia, sehingga pokok kalimatnya dibawa dari ayat sebelumnya. Penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat panjang yang dipisah menjadi dua bagian. Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 123 ayat, dan di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai Allah untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan. Jadi akar yang sama memikul kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa. Satu akar untuk kerendahan hati dan kehinaan menaruh keduanya di dalam satu gambaran yang sama. Kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa berbagi satu gambaran di dalam satu akar.
  • Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, dan kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk. Jadi akar yang di 87:3 menyebut sifat Allah yang terpuji, di sini menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan itu berlaku pada kedua sisi pasangan ini.
  • Yang berbeda antara 87:3 dan ayat ini bukan perbuatan Allah melainkan bagaimana manusia membacanya. Perbuatan yang sama dinamai penentuan ukuran di satu tempat dan disangka penghinaan di tempat lain. Apa yang menentukan apakah seseorang membaca sebuah keadaan sebagai ukuran yang ditetapkan atau sebagai penghinaan yang ditimpakan? Cara membaca sebuah keadaan menentukan seluruh kesimpulan, dan kenyataannya sendiri tidak berubah sedikit pun.
  • Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi Allah tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun di dalam kedua ayat. Ketidakseimbangan panjang antara dua sisi pasangan menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan satu kalimat pun. Kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa berbagi satu gambaran di dalam satu akar.
  • Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 123 ayat, antara lain 2:3, 11:6, 51:22, 65:3, dan 67:21. Di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki dari Allah bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali. Jadi akar yang menamai jaminan itu juga menamai apa yang disempitkan di ayat ini. Akar yang menamai jaminan juga menamai apa yang disempitkan, dan keduanya berasal dari satu tangan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan kenyataannya tidak berubah.
  • Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja sebelumnya berbentuk lampau. Jadi ujian dari Allah sudah terjadi dan ucapan manusia masih berlangsung. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan susunan yang sama dipakai di 89:15 dengan urutan yang sama persis. Bentuk waktu yang berbeda di dalam satu ayat menandai bahwa yang satu selesai dan yang lain masih berjalan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan kenyataannya tidak berubah.