كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَkallaa bal laa tukrimuuna l-yatiimasekali-kali tidak, sebaliknya kalian tidak memuliakan anak yatim

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. بَلْbalbahkan
  3. لَاlaatidak
  4. تُكْرِمُونَtukrimuunakalian memuliakan
  5. الْيَتِيمَl-yatiimaanak yatim

Inti bacaan

Pembongkaran kegagalan moral sesungguhnya: 'sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim', pengalihan fokus dari asumsi keliru tentang kekayaan menuju kegagalan nyata dalam tanggung jawab sosial, kritik terhadap kelalaian melindungi yang rentan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan di surah ini ia muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21.

Kata (بَلْ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia berdiri tepat sesudah kata pertama. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Kata (الْيَتِيمَ, al-yatiima) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Akarnya berarti sendirian tanpa ayah. Ia dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama.

Kesejajaran dengan 93:9 juga patut dicatat, sebab di sana yang diperintahkan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Jadi tiga surah di juz yang sama menyebut anak yatim dengan bentuk kata yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Bentuk kata kerja (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi surah ini berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.

Akar (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) sama dengan akar kata di 89:15, yaitu akar yang berarti mulia dan murah hati. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang.

Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya. Jadi bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak sebelum kalimat berikutnya. Kata yang sama dipakai lagi di 89:21, dan di sana pun ia berdiri sendiri.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15. Jadi satu pola dipakai untuk pemuliaan yang diterima manusia dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan, dan kesejajaran pola itu menambah satu lapis lagi pada kesejajaran akarnya.

Kata (بَلْ, bal) berdiri sebagai kata kedua, sehingga pembalikannya datang segera sesudah penolakan di kata pertama. Jadi Al-Qur'an menolak lalu membalik di dalam dua kata berturut-turut, dan tidak ada satu kata pun yang berdiri di antara keduanya.

Tafsiran

Ayat ini membantah anggapan keliru tersebut dan mengungkap akar masalah sesungguhnya: kelalaian sosial, dan kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15.

Di surah ini kata itu muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21. Kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18.

Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim, dan kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Kata pertamanya berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya, sehingga bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak. Bentuk kata kerjanya juga berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15, sehingga satu pola dipakai untuk dua pemuliaan yang berbeda arahnya. Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, dan akarnya dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Allah dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menunjuknya dengan satu kalimat pun. Satu akar untuk pemuliaan yang diterima dan yang tidak diberikan menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi Allah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah. Pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut.
  • Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini. Dua penanda pembalikan di dalam satu ayat memusatkan belokannya, dan kepadatan itu tidak terulang di surahnya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi Allah berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Pembacanya tiba-tiba menjadi pihak yang ditegur. Berpindah dari menyebut kepada menyapa menarik pembacanya masuk tanpa satu kata yang memberitahunya. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah Allah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang, dan cara hidup tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Dua ayat sebelumnya berbicara tentang kekayaan dan kesempitan, dan ayat ini menjawabnya dengan menyebut anak yatim. Jadi Allah menjawab persoalan tentang pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan. Apa hubungan antara salah membaca pemberian yang diterima dan lalai memberi kepada orang yang tidak punya? Menjawab persoalan pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan memindahkan seluruh ukurannya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.