وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Dan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِwa-laa tahaadhdhuuna 'alaa tha'aami l-miskiinidan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَحَاضُّونَtahaadhdhuunakalian saling mendorong
- عَلَىٰ'alaaatas
- طَعَامِtha'aamimakanan
- الْمِسْكِينِl-miskiiniorang miskin
Inti bacaan
Kegagalan kolektif kedua: 'dan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin', kritik terhadap ketiadaan budaya saling mengingatkan untuk berbuat baik, kepedulian sosial yang tidak dibudayakan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mendesak menganjurkan. Ia cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini di luar pokok itu, dan tiga tempat itu satu-satunya tempat pokok tersebut dinamai dengan kata ini.
Di 69:34 dan 107:3 tertulis rangkaian yang sama persis, yaitu tidak mendorong memberi makan orang miskin. Jadi dua surah memakai kalimat yang sama kata demi kata, dan ayat ini memakai kalimat yang hampir sama dengan bentuk kata kerja yang berbeda.
Perbedaan bentuknya patut dicatat. Yang di 69:34 dan 107:3 berorang ketiga tunggal dan berpola pertama, sedangkan yang di sini berorang kedua jamak dan berpola keenam. Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari saling mendorong di antara mereka.
Kata (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3, yaitu tiga tempat yang sama dengan tiga tempat akar kata kerjanya. Jadi kedua kata itu selalu muncul bersama-sama dan tidak pernah terpisah.
Akar (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) berarti diam dan tenang. Akar itu dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Jadi satu akar memikul diam, tenang, dan orang miskin.
Kata (طَعَامِ, tha'aami) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 107:3. Kesejajaran dengan 88:6 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai kata yang sama untuk makanan yang tidak berguna.
Bentuk (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17. Jadi empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang, dan keempatnya menyebut satu perbuatan yang tidak dikerjakan atau yang dikerjakan berlebihan.
Kata (عَلَىٰ, 'alaa) menyatakan sasaran dorongan, sehingga yang dinyatakan mendorong kepada sesuatu, bukan mendorong seseorang. Jadi yang diingkari bukan mendorong orang miskin melainkan mendorong kepada perkara memberinya makan. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Susunan ayat ini memakai kata untuk makanan yang disandarkan kepada orang miskin, bukan kata kerja memberi makan. Jadi yang disebut perkaranya, bukan perbuatannya. Susunan yang sama dipakai di 69:34 dan 107:3, sehingga tiga ayat memakai rangka yang sama persis. Kata (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) di sini berpola keenam, berbeda dari bentuknya di dua ayat itu.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian kelalaian sosial: tidak peduli terhadap orang miskin, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini di luar pokok itu, dan tiga tempat itu satu-satunya tempat pokok tersebut dinamai dengan kata ini.
Di 69:34 dan 107:3 tertulis rangkaian yang sama persis, dan ayat ini memakai kalimat yang hampir sama dengan bentuk kata kerja yang berbeda. Yang di sana berorang ketiga tunggal dan berpola pertama, sedangkan yang di sini berorang kedua jamak dan berpola keenam.
Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari saling mendorong di antara mereka. Jadi yang dituntut bukan cuma memberi melainkan menggerakkan orang lain supaya ikut memberi.
Huruf sesudah kata kerjanya menyatakan sasaran dorongan, sehingga yang dinyatakan mendorong kepada sesuatu, bukan mendorong seseorang. Jadi yang diingkari bukan mendorong orang miskin melainkan mendorong kepada perkara memberinya makan, dan perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya. Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17, sehingga empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3. Ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini oleh Allah di luar pokok itu, dan kelangkaan itu justru memusat pada satu perkara. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya pada satu pokok.
- Bentuk kata kerjanya berpola keenam, sedangkan bentuk di 69:34 dan 107:3 berpola pertama. Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari Allah saling mendorong di antara mereka. Jadi yang dituntut bukan cuma memberi melainkan menggerakkan orang lain supaya ikut memberi. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakan tuntutan itu. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya.
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3, yaitu tiga tempat yang sama dengan tiga tempat akar kata kerjanya. Jadi kedua kata itu selalu muncul bersama-sama dan tidak pernah terpisah di dalam Al-Qur'an, dan Allah tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun. Dua kata yang tidak pernah terpisah di seluruh Al-Qur'an menandai keduanya sebagai satu pasangan yang tetap. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakannya.
- Akar kata terakhirnya dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Jadi satu akar memikul diam, tenang, dan orang miskin. Yang menyatukan seluruhnya gambaran sesuatu yang tidak bergerak, sebab yang miskin tidak punya daya untuk berpindah keadaan. Satu akar untuk diam, tenang, dan miskin menyatukan ketiganya lewat gambaran sesuatu yang tidak bergerak.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 107:3. Kesejajaran dengan 88:6 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai kata yang sama untuk makanan yang tidak berguna yang diberikan Allah kepada yang celaka. Kata yang sama di dua surah berurutan untuk dua jenis makanan menaruh keduanya di dalam satu ukuran. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya.
- Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17. Jadi empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang, dan keempatnya menyebut satu perbuatan yang tidak dikerjakan atau yang dikerjakan berlebihan. Apa yang menyatukan keempat perbuatan itu selain bahwa semuanya menyangkut harta? Empat teguran yang seluruhnya menyangkut harta menandai satu pokok yang tidak dinyatakan namanya. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakannya.