وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا
Dan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّاwa-ta'kuluuna t-turaatsa aklan lammaadan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَتَأْكُلُونَwa-ta'kuluunadan kalian memakan
- التُّرَاثَt-turaatsawarisan
- أَكْلًاaklanmemakan
- لَمًّاlammaadengan rakus
Inti bacaan
Praktik serakah dalam warisan: 'dan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis', kritik terhadap keserakahan yang mengabaikan hak pihak lain (termasuk perempuan dan anak-anak) dalam pembagian warisan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mewarisi. Ia dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74. Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba yang saleh.
Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) di sini menjadi objek, bukan pokok kalimat.
Kata (لَمًّا, lamman) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melahap sekaligus. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Di 53:32 akar itu dipakai untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja. Jadi akar ini memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, dan di sini justru menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Bentuk (لَمًّا, lamman) menyifati cara makannya, bukan bendanya.
Rangkaian (أَكْلًا لَمًّا, aklan lamman) memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat. Jadi penegasannya bertingkat dua: pengulangan akar dan kata sifat yang menyusulnya. Susunan yang sama dipakai di 89:20 pada kata yang berbeda.
Bentuk (وَتَأْكُلُونَ, wa ta-kuluuna) berorang kedua jamak, sama seperti dua kata kerja sebelumnya di 89:17 dan 89:18. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma apakah kata kerjanya berada di dalam pengingkaran atau tidak.
Perbedaan itu patut dicatat. Dua ayat sebelumnya menyebut apa yang tidak mereka kerjakan, dan ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan. Jadi teguran itu berbalik arah tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun.
Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) bertakrif, sehingga yang disebut harta warisan sebagai jenis, bukan satu warisan tertentu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "harta warisan", memakai kata jenis untuk menahan ketertentuan yang menyebut jenis alih-alih menyebutnya sebagai milik seseorang.
Kata (وَتَأْكُلُونَ, wa ta-kuluuna) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 109 ayat, antara lain 2:174, 4:2, 4:10, 18:19, dan 51:27. Di 4:10 akar itu dipakai untuk orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya.
Kesejajaran dengan 4:10 patut dicatat, sebab ayat ini berdiri dua ayat sesudah teguran tentang anak yatim di 89:17. Jadi dua perkara yang di 4:10 disatukan di dalam satu ayat, di sini dipisah menjadi dua teguran yang berjarak dua ayat.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian kelalaian dengan keserakahan atas harta warisan, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74.
Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba yang saleh. Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan ayat ini. Di 53:32 akar itu dipakai untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja.
Jadi akar ini memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, dan di sini justru menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 109 ayat, antara lain 2:174, 4:2, 4:10, 18:19, dan 51:27. Di 4:10 akar itu dipakai untuk orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, dan ayat ini berdiri dua ayat sesudah teguran tentang anak yatim di 89:17. Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda lalu menambahkan kata sifat, dan susunan yang sama dipakai di 89:20.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan 89:19. Di 53:32 akar itu dipakai Allah untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja. Jadi akar yang memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, di sini menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya sendiri.
- Akar kata keduanya dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74. Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba Allah yang saleh. Jadi akar yang menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan. Warisan yang diatur pembagiannya dan warisan yang dimakan tanpa perhitungan berbagi satu nama. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya.
- Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat. Jadi penegasannya bertingkat dua: pengulangan akar dan kata sifat yang menyusulnya. Susunan yang sama dipakai Allah di 89:20 pada kata yang berbeda, sehingga dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama. Penegasan bertingkat dua menguatkan tanpa menambah kata baru, dan itu dipakai di dua ayat berurutan.
- Dua ayat sebelumnya menyebut apa yang tidak mereka kerjakan, dan ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan. Jadi teguran Allah berbalik arah tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun. Yang menandainya cuma hilangnya huruf pengingkaran yang dipakai di dua ayat sebelumnya. Teguran yang berbalik dari apa yang tidak dikerjakan kepada apa yang dikerjakan tidak ditandai satu kata pun. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya.
- Bentuk kata kerja pertamanya berorang kedua jamak, sama seperti dua kata kerja sebelumnya di 89:17 dan 89:18. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma apakah kata kerjanya berada di dalam pengingkaran atau tidak. Kesejajaran itu mengikat keempat teguran menjadi satu daftar. Bentuk yang berulang di tiga ayat mengikat keempat teguran menjadi satu daftar yang tidak terpisah. Menegur cara memperlakukan sesuatu lebih luas daripada menegur satu perbuatan yang bisa dihentikan.
- Kata keduanya bertakrif, sehingga yang disebut harta warisan sebagai jenis, bukan satu warisan tertentu. Terjemahannya memakai kata jenis untuk menahan ketertentuan itu alih-alih menyebutnya sebagai milik seseorang. Apa yang berubah pada sebuah teguran ketika yang ditegur bukan satu perbuatan melainkan seluruh cara memperlakukan sesuatu? Menegur cara memperlakukan sesuatu lebih luas daripada menegur satu perbuatan yang bisa dihentikan.