وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاwa-tuhibbuuna l-maala hubban jammandan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَتُحِبُّونَwa-tuhibbuunadan kalian mencintai
  2. الْمَالَl-maalaharta
  3. حُبًّاhubbancinta
  4. جَمًّاjammanyang berlimpah

Inti bacaan

Akar dari seluruh kegagalan moral: 'dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan', identifikasi sumber utama dari perilaku bermasalah sebelumnya, obsesi material yang mengalahkan pertimbangan etis.

Penjelasan pilihan kata

Kata (جَمًّا, jamman) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti banyak berlimpah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan tidak ada surah lain di sekitarnya yang memuat dua. Kata (جَمًّا, jamman) di sini menyifati kecintaannya, bukan hartanya.

Kata (حُبًّا, hubban) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas.

Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul cinta yang terbesar kepada Allah, cinta yang melampaui batas kepada manusia, dan cinta yang berlebihan kepada harta. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (الْمَالَ, al-maala) menjadi objeknya, dan keduanya berdiri di satu ayat.

Kata (الْمَالَ, al-maala) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 2:177 kata itu berada di dalam pujian bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya.

Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji karena hartanya diberikan meski dicintai dan yang lain menegur karena hartanya dicintai berlebihan. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (حُبًّا, hubban) di sini disifati kata sesudahnya, bukan berdiri sendiri.

Rangkaian (حُبًّا جَمًّا, hubban jamman) memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat, sama persis seperti susunan di 89:19. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama dengan kata yang berbeda.

Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan. Jadi daftar tegurannya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai, dan yang menandainya cuma kata pertama di ayat berikutnya.

Kata (وَتُحِبُّونَ, wa tuhibbuuna) berasal dari akar yang berarti mencintai. Akar itu dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:31, 5:54, 61:4, dan 76:8. Di 3:31 akar itu dipakai untuk syarat dicintai Allah, dan di 76:8 untuk memberi makan atas dasar cinta kepada-Nya.

Kesejajaran dengan 76:8 patut dicatat, sebab di sana cinta justru menjadi sebab memberi makan kepada orang miskin, sedangkan di sini cinta kepada harta berdiri berdampingan dengan tidak mendorong memberi makan di 89:18. Jadi satu akar berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Tafsiran

Ayat ini menutup rincian kelalaian dengan kecintaan berlebihan terhadap harta, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13. Keduanya berjarak tujuh ayat.

Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas.

Kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Di 2:177 kata itu berada di dalam pujian bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya. Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji dan yang lain menegur.

Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:31, 5:54, 61:4, dan 76:8. Di 76:8 akar itu dipakai untuk memberi makan atas dasar cinta kepada Allah, sedangkan di sini cinta kepada harta berdiri berdampingan dengan tidak mendorong memberi makan di 89:18. Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan dengan mengulang kata pertama di 89:17.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan Allah menaruh keduanya pada dua perkara yang berbeda. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun.
  • Kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Di 2:177 kata itu berada di dalam pujian Allah bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya. Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji karena hartanya diberikan meski dicintai dan yang lain menegur. Memberi meski mencintai dipuji, dan mencintai berlebihan ditegur, dan keduanya memakai kata yang sama.
  • Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul tiga arah cinta yang berbeda-beda sasarannya. Satu kata untuk tiga arah cinta menaruh seluruhnya di dalam satu ukuran, dan yang membedakan sasarannya.
  • Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda lalu menambahkan kata sifat, sama persis seperti susunan di 89:19. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama dengan kata yang berbeda, dan Allah tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Cara menguatkan yang sama di dua ayat berurutan menandai keduanya sebagai satu pasangan teguran. Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun.
  • Yang ditegur Allah bukan mencintai harta melainkan kadar cintanya, sebab 2:177 justru memuji orang yang memberi meski mencintai hartanya. Jadi yang menentukan bukan ada atau tidaknya cinta itu melainkan berapa banyak. Apa ukuran yang bisa dipakai seseorang untuk mengetahui apakah cintanya kepada harta sudah melewati batas? Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya.
  • Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan. Jadi daftar teguran Allah berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai, dan yang menandainya cuma kata pertama di ayat berikutnya yang mengulang kata pertama di 89:17. Daftar yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri bahwa pokoknya sudah berganti. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya.