كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا
Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncang-hancurkan berkeping-keping,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّاkallaa idzaa dukkati l-ardhu dakkan dakkansekali-kali tidak, apabila bumi diguncang-hancurkan berkeping-keping
Terjemahan per kata (6 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- إِذَاidzaaapabila
- دُكَّتِdukkatidihancurkan
- الْأَرْضُl-ardhubumi
- دَكًّاdakkansehancur-hancurnya
- دَكًّاdakkansehancur-hancurnya
Inti bacaan
Transisi menuju momen krisis kosmik: 'sekali-kali jangan! Apabila bumi diguncang-hancurkan berkeping-keping', peralihan dari kritik sosial menuju gambaran konsekuensi eskatologis yang akan menegaskan akuntabilitas atas seluruh perilaku yang telah dikritik.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:17, dan seluruh kemunculannya di Al-Qur'an ada 33 kali, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15.
Rangkaian (دَكًّا دَكًّا, dakkan dakkan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti meratakan sampai hancur. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 7:143, 18:98, 69:14, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 69:14 akar yang sama dipakai untuk bumi dan gunung yang dihancurkan dengan satu kali hancuran. Jadi dua ayat menyebut peristiwa yang sama, dan yang di sana sekali sedangkan yang di sini berulang. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu. Kata (دَكًّا دَكًّا, dakkan dakkan) di sini diulang, berbeda dari bentuk tunggalnya di 69:14.
Di 7:143 akar itu dipakai untuk gunung yang hancur ketika Tuhan menampakkan diri kepadanya, dan di 18:98 untuk dinding yang akan diratakan pada waktu yang dijanjikan. Jadi akar ini memikul hancurnya gunung, runtuhnya dinding, dan hancurnya bumi. Bentuk (دُكَّتِ, dukkati) berbentuk pasif, dan yang menghancurkannya tidak disebut.
Susunan yang mengulang kata yang sama dua kali dipakai lagi di 89:22 pada kata yang berbeda. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama, yaitu mengulang satu kata utuh, dan susunan itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Kata (دَكًّا دَكًّا, dakkan dakkan) diulang utuh, sama seperti susunan di 89:22.
Kata kerja (دُكَّتِ, dukkati) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menghancurkannya. Jadi ayat ini menyebut peristiwanya tanpa menyebut pelakunya, dan pelakunya baru terbaca dari 89:22 yang menyebut kedatangan Tuhanmu.
Kata (الْأَرْضُ, al-ardhu) berasal dari akar yang berarti bumi. Akar itu dipakai di 461 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Kesejajaran dengan 88:20 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menyebut bumi yang dihamparkan, dan di sini bumi yang sama dihancurkan.
Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu, dan ia membuka kalimat syarat yang jawabannya tidak pernah disebutkan. Jadi susunan ayat 89:21 sampai 89:23 memuat syarat tanpa jawaban, dan Al-Qur'an membiarkan kalimat itu menggantung tanpa menutupnya.
Kata (كَلَّا, kallaa) di awal ayat ini menandai pembalikan yang kedua di dalam surah ini sesudah 89:17. Jadi surahnya berbelok dua kali dengan kata yang sama, dan kedua belokan itu berjarak empat ayat. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.
Perbedaan kedua belokan itu patut dicatat. Yang di 89:17 membalikkan anggapan manusia tentang dirinya, dan yang di sini membalikkan perhatian dari harta kepada hari perhitungan. Jadi kata yang sama dipakai untuk dua pembalikan yang berbeda arahnya.
Tafsiran
Ayat ini beralih menggambarkan kedahsyatan Hari Kiamat sebagai akibat kelalaian tersebut, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 7:143, 18:98, 69:14, dan ayat ini. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 69:14 akar yang sama dipakai untuk bumi dan gunung yang dihancurkan dengan satu kali hancuran. Jadi dua ayat menyebut peristiwa yang sama, dan yang di sana sekali sedangkan yang di sini berulang.
Di 7:143 akar itu dipakai untuk gunung yang hancur ketika Tuhan menampakkan diri kepadanya, dan di 18:98 untuk dinding yang akan diratakan pada waktu yang dijanjikan. Jadi akar ini memikul hancurnya gunung, runtuhnya dinding, dan hancurnya bumi.
Kata kerjanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menghancurkannya. Jadi ayat ini menyebut peristiwanya tanpa menyebut pelakunya, dan pelakunya baru terbaca dari 89:22 yang menyebut kedatangan Tuhanmu.
Kata pertamanya menandai pembalikan yang kedua di dalam surah ini sesudah 89:17, dan kedua belokan itu berjarak empat ayat. Yang di 89:17 membalikkan anggapan manusia tentang dirinya, dan yang di sini membalikkan perhatian dari harta kepada hari perhitungan. Kata keduanya menandai waktu dan membuka kalimat syarat yang jawabannya tidak pernah disebutkan, sehingga susunan 89:21 sampai 89:23 menggantung tanpa penutup.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 7:143, 18:98, 69:14, dan 89:21. Di 69:14 akar yang sama dipakai Allah untuk bumi dan gunung yang dihancurkan dengan satu kali hancuran. Jadi dua ayat menyebut peristiwa yang sama, dan yang di sana sekali sedangkan yang di sini berulang. Sekali berbanding berulang pada peristiwa yang sama menuntut kedua ayat dibaca bersama, bukan sendiri-sendiri.
- Di 7:143 akar kata terakhirnya dipakai untuk gunung yang hancur ketika Allah menampakkan diri kepadanya, dan di 18:98 untuk dinding yang akan diratakan pada waktu yang dijanjikan. Jadi akar ini memikul hancurnya gunung, runtuhnya dinding, dan hancurnya bumi, dan ketiganya sama-sama terjadi atas kehendak-Nya. Satu akar untuk hancurnya gunung, dinding, dan bumi menaruh ketiganya di dalam satu perbuatan. Sekali berbanding berulang pada peristiwa yang sama menuntut kedua ayat dibaca bersama-sama.
- Susunan yang mengulang kata yang sama dua kali dipakai Allah lagi di 89:22 pada kata yang berbeda. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama, yaitu mengulang satu kata utuh, dan susunan itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Pengulangan itu menyatakan bahwa perbuatannya bertubi-tubi. Mengulang satu kata utuh menguatkan tanpa menambah kata baru, dan itu dipakai di dua ayat berurutan. Kalimat syarat yang tidak pernah ditutup meninggalkan pembacanya menggantung sampai ujung bagiannya.
- Kata kerjanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menghancurkannya. Jadi ayat ini menyebut peristiwanya tanpa menyebut pelakunya, dan pelakunya baru terbaca dari 89:22 yang menyebut kedatangan Allah. Penahanan sekejap itu membuat kedatangan-Nya di ayat berikutnya terbaca sebagai jawaban. Menahan pelaku sekejap membuat penyebutannya di ayat berikutnya terbaca sebagai jawaban atas pertanyaan. Sekali berbanding berulang pada peristiwa yang sama menuntut kedua ayat dibaca bersama-sama.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 461 ayat. Kesejajaran dengan 88:20 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menyebut bumi yang dihamparkan Allah, dan di sini bumi yang sama dihancurkan. Jadi dua surah berurutan menyebut satu benda pada dua ujung keadaannya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu benda pada dua ujung keadaannya di dua surah berurutan berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Kalimat syarat yang tidak pernah ditutup meninggalkan pembacanya menggantung sampai ujung bagiannya.
- Kata keduanya menandai waktu, dan ia membuka kalimat syarat yang jawabannya tidak pernah disebutkan Allah. Jadi susunan ayat 89:21 sampai 89:23 memuat syarat tanpa jawaban, dan Al-Qur'an membiarkan kalimat itu menggantung. Apa yang tersisa pada pembacanya ketika sebuah kalimat dibuka dengan apabila dan tidak pernah ditutup? Kalimat syarat yang tidak pernah ditutup meninggalkan pembacanya menggantung, dan itu bagian dari caranya.