وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
Dan datanglah Tuhanmu, sedang para malaikat berbaris-baris,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاwa-jaa'a rabbuka wa-l-malaku shaffan shaffandan datanglah Tuhanmu, sedang para malaikat berbaris-baris
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَجَاءَwa-jaa'adan datang
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- وَالْمَلَكُwa-l-malakudan malaikat
- صَفًّاshaffanberbaris
- صَفًّاshaffanberbaris
Inti bacaan
Momen kedatangan otoritas tertinggi: 'dan datanglah Tuhanmu, sedang para malaikat berbaris-baris', gambaran formal dan tertib dari momen penghakiman, ketertiban di tengah skala peristiwa yang luar biasa.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (صَفًّا صَفًّا, shaffan shaffan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berbaris rapi. Ia cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 18:48, 20:64, 22:36, 24:41, 37:1, 37:165, 52:20, 61:4, 67:19, 78:38, 88:15, dan ayat ini.
Kesejajaran dengan 88:15 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk bantal yang tersusun. Jadi dua surah berurutan memakai akar yang sama: yang di sana untuk perabot, dan yang di sini untuk malaikat.
Di 37:1 dan 37:165 akar itu dipakai untuk yang berbaris dengan barisan yang rapat, dan di 78:38 untuk berdirinya ruh dan malaikat dalam barisan pada hari itu. Jadi akar yang sama menyebut barisan malaikat di beberapa tempat, dan ayat ini salah satunya. Kata (صَفًّا صَفًّا, shaffan shaffan) di sini menyifati malaikat, bukan perabot.
Kata kerja (وَجَاءَ, wa jaa-a) berasal dari akar yang berarti datang. Akar itu dipakai di 278 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Bentuknya lampau, sehingga peristiwa yang belum terjadi dinyatakan dengan bentuk yang menyebut sesuatu yang sudah selesai.
Bentuk lampau untuk peristiwa yang akan datang dipakai ketika kepastiannya hendak dinyatakan. Bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23 pada kata kerja yang lain, sehingga dua ayat berturut-turut memakai cara yang sama untuk menyatakan kepastian. Bentuk (وَجَاءَ, wa jaa-a) berbentuk lampau meskipun peristiwanya belum terjadi.
Kata (رَبُّكَ, rabbuka) muncul untuk keempat kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, 89:13, dan 89:14. Jadi sesudah berhenti selama tujuh ayat, sebutan itu kembali tepat di ayat yang menyebut kedatangan-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan penundaan itu.
Kata (وَالْمَلَكُ, wa-l-malaku) berbentuk tunggal meskipun yang dimaksud banyak, dan susunan berbaris yang menyusulnya menyatakan jumlahnya. Jadi bilangannya tidak dinyatakan oleh kata bendanya melainkan oleh keterangan yang mengikutinya.
Susunan ayat ini menyebut dua pihak yang datang, yaitu Tuhanmu dan para malaikat, tetapi cuma yang kedua yang diberi keterangan tentang caranya. Jadi kedatangan yang pertama disebut tanpa satu keterangan pun, dan Al-Qur'an tidak menambahkan apa-apa padanya.
Kata (وَالْمَلَكُ, wa-l-malaku) berasal dari akar yang berarti menguasai. Akar itu dipakai di 206 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kerajaan dan untuk raja, antara lain di 2:247 dan 3:26. Jadi satu akar memikul malaikat, kerajaan, dan yang memiliki.
Kesejajaran dengan 88:15 dan 89:22 juga tampak pada urutannya. Di surah tetangga barisan itu berupa bantal di dalam taman, dan di sini berupa malaikat yang menyertai kedatangan. Jadi dua surah berurutan memakai gambaran berbaris untuk dua hal yang jauh berbeda kedudukannya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kedatangan Tuhan disertai para malaikat yang berbaris, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 18:48, 20:64, 22:36, 24:41, 37:1, 37:165, 52:20, 61:4, 67:19, 78:38, 88:15, dan ayat ini. Kesejajaran dengan 88:15 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk bantal yang tersusun.
Kata kerja pertamanya berbentuk lampau, sehingga peristiwa yang belum terjadi dinyatakan dengan bentuk yang menyebut sesuatu yang sudah selesai. Bentuk lampau untuk peristiwa yang akan datang dipakai ketika kepastiannya hendak dinyatakan.
Susunan ayat ini menyebut dua pihak yang datang, yaitu Tuhanmu dan para malaikat, tetapi cuma yang kedua yang diberi keterangan tentang caranya. Jadi kedatangan yang pertama disebut tanpa satu keterangan pun, dan Al-Qur'an tidak menambahkan apa-apa padanya.
Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 206 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kerajaan dan untuk raja, antara lain di 2:247 dan 3:26. Jadi satu akar memikul malaikat, kerajaan, dan yang memiliki, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Kata untuk Tuhan muncul untuk keempat kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, 89:13, dan 89:14, dan sesudah berhenti selama tujuh ayat sebutan itu kembali di sini.
Renungan dan Hikmah
- Akar dua kata terakhirnya cuma dipakai di 12 ayat, dan kesejajaran dengan 88:15 patut dicatat sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk bantal yang tersusun. Jadi dua surah berurutan memakai akar yang sama: yang di sana untuk perabot di dalam taman, dan yang di sini untuk malaikat yang datang bersama Allah. Satu akar untuk perabot dan untuk malaikat menaruh keduanya di dalam satu gambaran, yaitu tersusun rapi.
- Susunan ayat ini menyebut dua pihak yang datang, yaitu Allah dan para malaikat, tetapi cuma yang kedua yang diberi keterangan tentang caranya. Jadi kedatangan-Nya disebut tanpa satu keterangan pun. Apa yang dikerjakan sebuah ayat pada pembacanya ketika ia menerangkan yang menyertai dan tidak menerangkan Yang disertai? Menerangkan yang menyertai dan tidak menerangkan Yang disertai menaruh seluruh perhatian pada yang kedua.
- Kata kerja pertamanya berbentuk lampau, sehingga peristiwa yang belum terjadi dinyatakan Allah dengan bentuk yang menyebut sesuatu yang sudah selesai. Bentuk lampau untuk peristiwa yang akan datang dipakai ketika kepastiannya hendak dinyatakan, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23 pada kata kerja yang lain. Bentuk lampau untuk yang akan datang menyatakan kepastian, dan itu dipakai di dua ayat berurutan. Bentuk lampau untuk yang akan datang menyatakan kepastian tanpa satu kata tambahan yang menyebutnya.
- Kata untuk Tuhan muncul untuk keempat kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, 89:13, dan 89:14. Jadi sesudah berhenti selama tujuh ayat, sebutan itu kembali tepat di ayat yang menyebut kedatangan Allah. Al-Qur'an tidak menerangkan penundaan itu, dan yang bisa dicatat cuma di mana sebutan itu kembali muncul. Sebutan yang kembali sesudah berhenti lama menandai tempat kembalinya, dan itu tidak diterangkan. Bentuk lampau untuk yang akan datang menyatakan kepastian tanpa satu kata tambahan yang menyebutnya.
- Kata ketiganya berbentuk tunggal meskipun yang dimaksud banyak, dan susunan berbaris yang menyusulnya menyatakan jumlahnya. Jadi bilangannya tidak dinyatakan oleh kata bendanya melainkan oleh keterangan yang mengikutinya. Allah tidak menyebut berapa, dan yang dinyatakan cuma bahwa mereka berbaris-baris. Bentuk tunggal yang berarti banyak menyerahkan bilangannya kepada keterangan, bukan kepada kata bendanya. Menerangkan yang menyertai dan tidak menerangkan Yang disertai menaruh seluruh perhatian pada yang kedua.
- Di 37:1 dan 37:165 akar dua kata terakhirnya dipakai untuk yang berbaris dengan barisan yang rapat, dan di 78:38 untuk berdirinya ruh dan malaikat dalam barisan pada hari itu. Jadi akar yang sama menyebut barisan malaikat Allah di beberapa tempat, dan ayat ini salah satunya. Barisan yang disebut di beberapa tempat menandai satu gambaran yang tetap tentang bagaimana mereka datang. Menerangkan yang menyertai dan tidak menerangkan Yang disertai menaruh seluruh perhatian pada yang kedua.