وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ

Dan pada hari itu didatangkan Jahanam; pada hari itu manusia teringat, tetapi bagaimana peringatan itu berguna baginya?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَwa-jii'a yawma'idzin bi-jahannamadan pada hari itu didatangkan Jahanam
  2. يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰyawma'idzin yatadzakkaru l-insaanu wa-annaa lahu dz-dzikraapada hari itu manusia teringat, tetapi bagaimana peringatan itu berguna baginya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَجِيءَwa-jii'adan didatangkan
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. بِجَهَنَّمَbi-jahannamadengan Jahanam
  4. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  5. يَتَذَكَّرُyatadzakkarumengambil pelajaran
  6. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  7. وَأَنَّىٰwa-annaadan bagaimana
  8. لَهُlahubaginya
  9. الذِّكْرَىٰdz-dzikraaperingatan

Inti bacaan

Kesadaran yang datang terlambat: 'pada hari itu didatangkan Jahanam; pada hari itu manusia teringat, tetapi bagaimana peringatan itu berguna baginya?', pengakuan bahwa kesadaran yang muncul pada momen krisis tidak lagi memiliki nilai praktis untuk mengubah nasib.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) muncul dua kali di dalam ayat ini sendiri, dan itu satu-satunya ayat di dalam surah ini yang mengulang kata itu. Jadi penanda waktunya disebut dua kali di dalam satu ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.

Kata (وَأَنَّىٰ, wa annaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 34:52 dan 89:23. Di 34:52 kata itu dipakai untuk orang yang menyatakan beriman ketika waktunya sudah lewat, sehingga maksudnya berdekatan dengan maksud di sini.

Jadi dua ayat memakai kata yang sama untuk menyatakan bahwa sesuatu sudah terlambat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang di dua tempat yang berjauhan. Kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru) di sini berpelaku manusia, bukan Yang berfirman.

Kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Kesejajaran dengan 87:9 patut dicatat, sebab di sana peringatan itu diperintahkan selama ia bermanfaat, dan di sini ia disebut ketika sudah tidak berguna.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai kata yang sama pada dua ujung waktunya: yang di sana peringatan yang masih bisa berguna, dan yang di sini peringatan yang datang terlambat. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) menyusulnya, dan keduanya berasal dari satu akar.

Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaanu) muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:15, dan keduanya memakai kata sandang. Jadi manusia disebut sebagai jenis dua kali: sekali ketika salah membaca pemberian, dan sekali ketika teringat terlambat.

Kata kerja (وَجِيءَ, wa jii-a) berbentuk pasif dan berbentuk lampau, sehingga tidak disebutkan siapa yang mendatangkan. Bentuk lampau untuk peristiwa yang akan datang dipakai juga di 89:22, sehingga dua ayat berturut-turut memakai cara yang sama.

Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu sepuluh kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma tiga sampai lima kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya, dan penyimpangan itu jatuh tepat di ayat yang menyebut kesadaran yang terlambat. Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) muncul dua kali di dalam ayat ini sendiri.

Kata (بِجَهَنَّمَ, bi-jahannama) tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia nama yang berdiri sendiri tanpa keluarga kata. Jadi ia satu-satunya nama tempat yang disebut di dalam surah ini, dan tidak ada satu pun bentuk lain yang seakar dengannya.

Kata kerja (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru) berpola kelima, sehingga artinya menerima peringatan pada dirinya sendiri. Bentuk berpola sama dipakai di 87:10 pada surah yang berdekatan, dan di sana ia menyebut orang yang akan menerima peringatan sebelum terlambat.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kesadaran yang datang terlambat sudah tidak berguna lagi bagi manusia, dan penanda waktunya muncul dua kali di dalam ayat ini sendiri sehingga ia satu-satunya ayat di dalam surah ini yang mengulang kata itu.

Kata kedelapannya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 34:52 dan 89:23. Di 34:52 kata itu dipakai untuk orang yang menyatakan beriman ketika waktunya sudah lewat, sehingga maksudnya berdekatan dengan maksud di sini.

Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Kesejajaran dengan 87:9 patut dicatat, sebab di sana peringatan itu diperintahkan selama ia bermanfaat, dan di sini ia disebut ketika sudah tidak berguna.

Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu sepuluh kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma tiga sampai lima kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya, dan penyimpangan itu jatuh tepat di ayat yang menyebut kesadaran yang terlambat.

Kata keempatnya tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia nama yang berdiri sendiri tanpa keluarga kata. Jadi ia nama tempat yang disebut di dalam surah ini, dan morfologi tidak memberinya keluarga kata sama sekali. Kata untuk manusia muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:15, dan keduanya memakai kata sandang sehingga keduanya menyebut jenis.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Kesejajaran dengan 87:9 patut dicatat, sebab di sana Allah memerintahkan peringatan selama ia bermanfaat, dan di sini ia disebut ketika sudah tidak berguna. Jadi dua surah yang berdekatan memakai kata yang sama pada dua ujung waktunya. Peringatan di dua ujung waktunya menuntut pembacanya menimbang di ujung mana ia sedang berdiri sekarang.
  • Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu sepuluh kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma tiga sampai lima kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya, dan penyimpangan itu jatuh tepat di ayat yang menyebut kesadaran yang terlambat. Allah tidak menandai penyimpangan itu dengan satu kata pun. Panjang yang menyimpang paling jauh jatuh di ayat yang menyebut kesadaran terlambat, dan itu tidak ditandai.
  • Penanda waktunya muncul dua kali di dalam ayat ini sendiri, dan itu satu-satunya ayat di dalam surah ini yang mengulang kata itu. Jadi Allah menyebut waktunya dua kali di dalam satu ayat: sekali untuk apa yang didatangkan, dan sekali untuk apa yang terjadi pada manusia. Pengulangan itu tidak diterangkan. Penanda waktu yang diulang di dalam satu ayat memusatkan seluruh ayatnya pada satu saat yang sama. Panjang yang menyimpang paling jauh jatuh di ayat tentang kesadaran terlambat, dan itu tidak ditandai.
  • Kata kedelapannya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 34:52 dan 89:23. Di 34:52 kata itu dipakai untuk orang yang menyatakan beriman ketika waktunya sudah lewat. Jadi dua ayat memakai kata yang sama untuk menyatakan bahwa sesuatu sudah terlambat, dan Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata yang menandai keterlambatan di dua tempat berjauhan menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut. Peringatan di dua ujung waktunya menuntut pembacanya menimbang di ujung mana ia sedang berdiri.
  • Kata untuk manusia muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:15, dan keduanya memakai kata sandang. Jadi Allah menyebut manusia sebagai jenis dua kali: sekali ketika salah membaca pemberian, dan sekali ketika teringat terlambat. Kedua penyebutan itu berjarak delapan ayat dan keduanya menyangkut kekeliruan yang sama. Manusia yang disebut dua kali dengan dua kekeliruan berbeda tetap satu jenis, bukan dua golongan. Panjang yang menyimpang paling jauh jatuh di ayat tentang kesadaran terlambat, dan itu tidak ditandai. Di ujung mana seseorang sedang berdiri sekarang: pada peringatan yang masih bisa berguna, atau pada peringatan yang sudah lewat waktunya?
  • Kata kerja pertamanya berbentuk pasif dan berbentuk lampau, sehingga tidak disebutkan siapa yang mendatangkan. Bentuk lampau untuk peristiwa yang akan datang dipakai Allah juga di 89:22, sehingga dua ayat berturut-turut memakai cara yang sama untuk menyatakan kepastian sesuatu yang belum terjadi. Bentuk pasif untuk peristiwa yang belum terjadi menyatakan kepastiannya tanpa menyebut siapa pelakunya. Peringatan di dua ujung waktunya menuntut pembacanya menimbang di ujung mana ia sedang berdiri.