فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ
Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌfa-yawma'idzin laa yu'adzdzibu 'adzaabahu ahadunmaka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَيَوْمَئِذٍfa-yawma'idzinmaka pada hari itu
- لَاlaatidak
- يُعَذِّبُyu'adzdzibumengazab
- عَذَابَهُ'adzaabahuazab-Nya
- أَحَدٌahadunseorang pun
Inti bacaan
Ketakterbandingan konsekuensi: 'maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya', penegasan skala unik hukuman yang tidak bisa disamai oleh kekuatan mana pun.
Penjelasan pilihan kata
Kata (عَذَابَهُ, 'adzaabahu) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 17:57, 24:2, dan 89:25. Di 17:57 kata itu dipakai untuk azab Tuhan yang ditakuti, dan di 24:2 untuk hukuman yang dijatuhkan atas dua orang yang berzina.
Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul azab yang ditakuti, hukuman yang dijalankan manusia atas sesamanya, dan azab yang tidak tertandingi pada hari itu. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (عَذَابَهُ, 'adzaabahu) di sini bertakrif dengan kata ganti, berbeda dari bentuknya di 89:13.
Kata kerja (يُعَذِّبُ, yu'adzdzibu) dan kata bendanya berasal dari satu akar yang sama, yaitu akar yang berarti menyiksa. Jadi perbuatan dan objeknya berbagi satu sumber, dan susunan yang mengulang akar seperti itu dipakai untuk menegaskan. Susunan yang sama dipakai di 89:26 dengan akar yang berbeda.
Kata (أَحَدٌ, ahadun) tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.
Kata ganti pada ujung (عَذَابَهُ, 'adzaabahu) berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang. Yang paling masuk akal Yang berfirman sendiri, tetapi Al-Qur'an tidak menamainya, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama.
Bentuk (فَيَوْمَئِذٍ, fa-yauma-idzin) memakai penanda waktu yang sama dengan penanda di 89:23, dan huruf fa di depannya menyambungkan ayat ini kepada apa yang disebut sebelumnya. Jadi tiga penyebutan penanda waktu itu berkumpul di 89:23 dan ayat ini.
Susunan ayat ini dan 89:26 sejajar hampir kata demi kata: pengingkaran, kata kerja, kata benda seakar dengan kata ganti, lalu kata yang berarti seorang pun. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma akarnya. Bentuk (أَحَدٌ, ahadun) tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran.
Yang dinyatakan bukan bahwa azab-Nya paling berat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya. Jadi yang ditutup bukan perbandingan kadarnya melainkan kemungkinan adanya pembanding sama sekali, dan perbedaan itu perlu dijaga.
Kata (فَيَوْمَئِذٍ, fa-yauma-idzin) dibuka huruf fa yang menyambungkannya kepada 89:24, sehingga ayat ini akibat dari apa yang baru disebut. Jadi ketiadaan pembanding bagi azab itu dinyatakan sesudah penyesalan diucapkan, bukan sebelumnya.
Bentuk (يُعَذِّبُ, yu'adzdzibu) berpola kedua, sehingga artinya menjatuhkan azab berulang atau dengan sungguh-sungguh. Jadi yang diingkari bukan kemampuan menyiksa sekali melainkan kemampuan menjatuhkan azab seperti yang dijatuhkan-Nya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa azab Allah pada hari itu tak tertandingi oleh siksaan mana pun, dan kata keempatnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 17:57, 24:2, dan 89:25.
Di 17:57 kata itu dipakai untuk azab Tuhan yang ditakuti, dan di 24:2 untuk hukuman yang dijatuhkan atas dua orang yang berzina. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul azab yang ditakuti, hukuman yang dijalankan manusia atas sesamanya, dan azab yang tidak tertandingi pada hari itu.
Kata kerjanya dan kata bendanya berasal dari satu akar yang sama. Jadi perbuatan dan objeknya berbagi satu sumber, dan susunan yang mengulang akar seperti itu dipakai untuk menegaskan. Susunan yang sama dipakai di 89:26 dengan akar yang berbeda.
Yang dinyatakan bukan bahwa azab-Nya paling berat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya. Jadi yang ditutup bukan perbandingan kadarnya melainkan kemungkinan adanya pembanding sama sekali, dan perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Kata pertamanya dibuka huruf yang menyambungkannya kepada 89:24, sehingga ayat ini akibat dari apa yang baru disebut. Jadi ketiadaan pembanding bagi azab itu dinyatakan sesudah penyesalan diucapkan, bukan sebelumnya, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun, dan kata yang sama diulang di 89:26.
Renungan dan Hikmah
- Yang dinyatakan Allah bukan bahwa azab-Nya paling berat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya. Jadi yang ditutup bukan perbandingan kadarnya melainkan kemungkinan adanya pembanding sama sekali. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama masih menempatkan-Nya di dalam satu deret, dan yang kedua mengeluarkan-Nya dari deret itu. Meniadakan pembanding berbeda dari menyatakan yang terberat, sebab yang pertama mengeluarkan dari deret.
- Kata keempatnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 17:57, 24:2, dan 89:25. Di 17:57 kata itu dipakai untuk azab Allah yang ditakuti, dan di 24:2 untuk hukuman yang dijatuhkan atas dua orang yang berzina. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul azab-Nya dan hukuman yang dijalankan manusia atas sesamanya. Satu kata untuk azab Allah dan hukuman manusia menaruh keduanya di dalam satu nama tanpa menyamakannya. Meniadakan pembanding berbeda dari menyatakan yang terberat, sebab yang pertama mengeluarkan dari deret.
- Susunan ayat ini dan 89:26 sejajar hampir kata demi kata: pengingkaran, kata kerja, kata benda seakar dengan kata ganti, lalu kata yang berarti seorang pun. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma akarnya. Kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu pasangan. Dua ayat dengan rangka yang sama persis menandai keduanya sebagai satu pasangan yang tidak bisa dipecah.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan. Jadi Allah tidak menyisakan satu nama pun yang bisa disebut sebagai pengecualian. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kekecualian sebelum satu pun sempat dibayangkan.
- Kata kerjanya dan kata bendanya berasal dari satu akar yang sama, sehingga perbuatan dan objeknya berbagi satu sumber. Susunan yang mengulang akar seperti itu dipakai Allah untuk menegaskan, dan susunan yang sama dipakai di 89:26 dengan akar yang berbeda. Jadi dua ayat penutup bagian ini sama-sama menguatkan tanpa menambah kata. Mengulang akar untuk perbuatan dan objeknya menguatkan tanpa menambah satu kata baru pun. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kekecualian sebelum satu pun sempat dibayangkan.
- Kata ganti pada ujung kata keempatnya berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang. Yang paling masuk akal Allah sendiri, tetapi Al-Qur'an tidak menamainya. Apa yang dijaga sebuah teks ketika ia menahan diri dari menamai apa yang sudah bisa ditebak setiap pembacanya? Menahan diri dari menamai apa yang sudah bisa ditebak menjaga teksnya tetap sepersis yang tertulis. Meniadakan pembanding berbeda dari menyatakan yang terberat, sebab yang pertama mengeluarkan dari deret.