يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Wahai jiwa yang tenang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُyaa ayyatuhaa n-nafsu l-muthma'innatuwahai jiwa yang tenang
Terjemahan per kata (4 kata)
- يَاyaawahai
- أَيَّتُهَاayyatuhaawahai
- النَّفْسُn-nafsujiwa
- الْمُطْمَئِنَّةُl-muthma'innatuyang tenang
Inti bacaan
Sapaan penuh kasih bagi jiwa yang damai: 'wahai jiwa yang tenang', transisi dramatis dari gambaran konsekuensi keras menuju penghiburan bagi golongan yang telah mencapai ketenteraman batin melalui iman.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمُطْمَئِنَّةُ, al-muthma-innatu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti tenang. Ia cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 2:260, 3:126, 4:103, 5:113, 8:10, 10:7, 13:28, 16:106, 16:112, 17:95, 22:11, dan ayat ini.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:28 akar yang sama dipakai untuk hati yang menjadi tenang dengan mengingat Allah. Jadi akar yang menamai jiwa di ayat ini juga menamai keadaan hati yang disebutkan sebabnya di sana, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (النَّفْسُ, an-nafsu) di sini menjadi pihak yang diseru, bukan isi sumpah.
Di 2:260 akar itu dipakai untuk permintaan Ibrahim supaya hatinya menjadi tenang, dan di 16:106 untuk hati yang tetap tenang di dalam keimanan. Jadi akar ini memikul ketenangan yang diminta, ketenangan yang bertahan, dan di sini ketenangan sebagai sifat yang melekat. Bentuk (الْمُطْمَئِنَّةُ, al-muthma-innatu) bertakrif, mengikuti kata bendanya.
Kata (النَّفْسُ, an-nafsu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah bertakrif ini. Akarnya berarti napas dan jiwa. Ia dipakai di 253 ayat, antara lain 2:48, 6:93, 12:53, 75:2, dan 91:7.
Kesejajaran dengan 91:7 patut dicatat, sebab di sana jiwa disumpahkan bersama penyempurnaannya, dan di sini jiwa disapa langsung. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk dua kedudukan yang berbeda: yang di sana isi sumpah, dan yang di sini pihak yang diseru.
Kata (يَا أَيَّتُهَا, yaa ayyatuhaa) berbentuk seruan perempuan, dan bentuk itu jarang dipakai di dalam Al-Qur'an sebab sebagian besar seruan memakai bentuk laki-laki. Jadi bentuk seruannya sendiri sudah menandai bahwa yang diseru bukan orang melainkan jiwa.
Ayat ini membuka empat ayat penutup surah yang seluruhnya berupa seruan kepada satu pihak. Jadi sesudah dua puluh enam ayat yang berbicara tentang kaum, tentang manusia, dan tentang hari perhitungan, surahnya berakhir dengan menyapa satu jiwa secara langsung.
Yang diseru di ayat ini bukan orang beriman, bukan hamba yang saleh, dan bukan golongan mana pun, melainkan jiwa yang tenang. Jadi yang dipilih Al-Qur'an sebagai penerima seruan terakhirnya sebuah keadaan batin, bukan sebuah nama atau golongan. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Kata (يَا أَيَّتُهَا, yaa ayyatuhaa) berdiri sebagai seruan pembuka, dan ini satu-satunya seruan langsung di dalam surah ini. Dua puluh enam ayat sebelumnya tidak memuat satu pun seruan semacam itu, sehingga ayat ini menandai peralihan yang paling tajam di dalam surahnya.
Bentuk (الْمُطْمَئِنَّةُ, al-muthma-innatu) bentuk pelaku berpola keempat dan bertakrif, mengikuti kata bendanya. Jadi keduanya terikat sebagai satu satuan, dan sifatnya tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada jiwanya.
Tafsiran
Ayat ini beralih menyapa jiwa yang tenang sebagai penutup penuh kabar gembira, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 2:260, 3:126, 4:103, 5:113, 8:10, 10:7, 13:28, 16:106, 16:112, 17:95, 22:11, dan ayat ini.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:28 akar yang sama dipakai untuk hati yang menjadi tenang dengan mengingat Allah. Jadi akar yang menamai jiwa di ayat ini juga menamai keadaan hati yang disebutkan sebabnya di sana.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah bertakrif ini. Akarnya dipakai di 253 ayat, antara lain 2:48, 6:93, 12:53, 75:2, dan 91:7.
Yang diseru di ayat ini bukan orang beriman, bukan hamba yang saleh, dan bukan golongan mana pun, melainkan jiwa yang tenang. Jadi yang dipilih Al-Qur'an sebagai penerima seruan terakhirnya sebuah keadaan batin, bukan sebuah nama atau golongan.
Kata pertamanya berdiri sebagai seruan pembuka, dan ini satu-satunya seruan langsung di dalam surah ini. Dua puluh enam ayat sebelumnya tidak memuat satu pun seruan semacam itu, sehingga ayat ini menandai peralihan yang paling tajam di dalam surahnya. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah bertakrif ini, dan kesejajaran dengan 91:7 patut dicatat sebab di sana jiwa disumpahkan.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 12 ayat. Di 13:28 akar yang sama dipakai untuk hati yang menjadi tenang dengan mengingat Allah. Jadi akar yang menamai jiwa di ayat ini juga menamai keadaan hati yang disebutkan sebabnya di sana, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Akar yang menamai ketenangan hati karena mengingat menaruh sebabnya di tempat lain, bukan di ayat ini.
- Yang diseru di ayat ini bukan orang beriman, bukan hamba yang saleh, dan bukan golongan mana pun, melainkan jiwa yang tenang. Jadi yang dipilih Allah sebagai penerima seruan terakhir surah ini sebuah keadaan batin, bukan sebuah nama atau golongan. Apa yang berubah pada sebuah panggilan ketika yang dipanggil bukan namanya melainkan keadaannya? Memanggil keadaan alih-alih nama membuat panggilannya terbuka bagi siapa pun yang keadaannya sesuai.
- Di 2:260 akar kata terakhirnya dipakai untuk permintaan Ibrahim supaya hatinya menjadi tenang, dan di 16:106 untuk hati yang tetap tenang di dalam keimanan. Jadi akar ini memikul ketenangan yang diminta kepada Allah, ketenangan yang bertahan, dan di sini ketenangan sebagai sifat yang sudah melekat. Ketenangan yang diminta, yang bertahan, dan yang melekat berbagi satu akar, dan ketiganya berbeda tingkatnya. Empat ayat penutup yang seluruhnya seruan mengubah nada surahnya tanpa satu kata penghubung pun.
- Kata pertamanya berbentuk seruan perempuan, dan bentuk itu jarang dipakai di dalam Al-Qur'an sebab sebagian besar seruan memakai bentuk laki-laki. Jadi bentuk seruannya sendiri sudah menandai bahwa yang diseru Allah bukan orang melainkan jiwa, dan penandaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Bentuk seruan yang jarang dipakai menandai bahwa yang diseru bukan orang, dan itu terbawa di dalam bentuknya. Memanggil keadaan alih-alih nama membuat panggilannya terbuka bagi siapa pun yang keadaannya sesuai.
- Ayat ini membuka empat ayat penutup surah yang seluruhnya berupa seruan kepada satu pihak. Jadi sesudah dua puluh enam ayat yang berbicara tentang kaum, tentang manusia, dan tentang hari perhitungan, surahnya berakhir dengan Allah menyapa satu jiwa secara langsung tanpa satu kata penghubung pun. Empat ayat penutup yang seluruhnya seruan mengubah nada surahnya tanpa satu kata penghubung pun. Memanggil keadaan alih-alih nama membuat panggilannya terbuka bagi siapa pun yang keadaannya sesuai.
- Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya dipakai di 253 ayat. Kesejajaran dengan 91:7 patut dicatat, sebab di sana jiwa disumpahkan Allah bersama penyempurnaannya, dan di sini jiwa disapa langsung. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk dua kedudukan yang berbeda. Satu kata untuk jiwa yang disumpahkan dan jiwa yang diseru menaruh keduanya di dalam satu nama. Empat ayat penutup yang seluruhnya seruan mengubah nada surahnya tanpa satu kata penghubung pun.