ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida lagi diridai,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةًirji'ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyatankembalilah kepada Tuhanmu dengan rida lagi diridai
Terjemahan per kata (5 kata)
- ارْجِعِيirji'iikembalilah
- إِلَىٰilaakepada
- رَبِّكِrabbikiTuhanmu
- رَاضِيَةًraadhiyatanyang rida
- مَرْضِيَّةًmardhiyyatanyang diridai
Inti bacaan
Undangan kembali dengan hubungan timbal balik: 'kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida lagi diridai', gambaran hubungan harmonis yang saling menguntungkan, kepuasan yang mengalir dua arah antara hamba dan Tuhannya.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (ارْجِعِي, irji'ii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kembali. Ia dipakai di 103 ayat, antara lain 2:28, 21:93, 30:11, 86:8, dan 86:11. Kesejajaran dengan 86:8 dan 86:11 patut dicatat, sebab akar yang sama muncul dua kali di surah itu.
Bentuknya bentuk perintah kepada orang kedua tunggal perempuan, dan bentuk itu jarang dipakai di dalam Al-Qur'an. Jadi tiga kata kerja di 89:28, 89:29, dan 89:30 seluruhnya memakai bentuk perempuan, mengikuti kata untuk jiwa di 89:27. Kata (رَاضِيَةً, raadhiyatan) di sini berbaris fathah, berbeda dari bentuknya di 88:9.
Kata (رَاضِيَةً, raadhiyatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris fathah ini, dan kata (مَرْضِيَّةً, mardhiyyatan) juga muncul 1 kali. Jadi dua kata di ayat ini sama-sama tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
Akar keduanya sama, yaitu akar yang berarti rela menerima yang dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 88:9, dan 98:8. Yang di sini berbentuk pelaku dan yang kedua berbentuk yang dikenai, sehingga keduanya menyatakan dua arah dari satu perbuatan yang sama. Bentuk (مَرْضِيَّةً, mardhiyyatan) menjadi pasangannya, dan keduanya seakar.
Kesejajaran dengan 88:9 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai kata seakar untuk wajah yang rela atas usahanya, tetapi cuma menyebut satu arah. Jadi yang di sana satu arah dan yang di sini dua arah, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu. Kata (رَاضِيَةً, raadhiyatan) di sini berbentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai.
Di 5:119, 9:100, dan 98:8 tertulis susunan dua arah yang sama, yaitu rela dan direlai. Jadi ayat ini salah satu dari beberapa tempat yang memakai susunan itu, dan yang khas di sini bahwa ia dialamatkan kepada jiwa, bukan kepada golongan.
Kata (رَبِّكِ, rabbiki) memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan, berbeda dari bentuk laki-laki yang dipakai empat kali di 89:6, 89:13, 89:14, dan 89:22. Jadi sebutan yang sama dipakai lima kali di surah ini dengan dua bentuk kata ganti yang berbeda.
Susunan ayat ini menaruh dua kata sifat sesudah perintahnya, sehingga yang diperintahkan bukan cuma kembali melainkan kembali dalam keadaan tertentu. Jadi keadaannya bagian dari perintahnya, dan bukan keterangan tambahan yang bisa dilepaskan. Bentuk (ارْجِعِي, irji'ii) mendahului keduanya, dan ketiganya satu kalimat.
Kata (ارْجِعِي, irji'ii) berdiri sebagai perintah pertama dari tiga perintah di ayat-ayat penutup surah ini. Jadi yang diminta lebih dulu kembali, baru masuk, dan baru masuk lagi. Urutan itu bergerak dari meninggalkan tempat sekarang kepada memasuki tempat yang baru.
Bentuk (مَرْضِيَّةً, mardhiyyatan) bentuk yang dikenai, sedangkan pasangannya bentuk pelaku. Jadi keduanya berlawanan arahnya meskipun berasal dari satu akar. Susunan dua bentuk berlawanan dari satu akar seperti itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Tafsiran
Ayat ini mengundang jiwa yang tenang untuk kembali kepada Tuhannya dalam keadaan saling meridai, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 103 ayat, antara lain 2:28, 21:93, 30:11, 86:8, dan 86:11. Kesejajaran dengan 86:8 dan 86:11 patut dicatat, sebab akar yang sama muncul dua kali di surah itu untuk dua pengembalian yang berbeda.
Dua kata terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berasal dari satu akar yang dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 88:9, dan 98:8. Yang pertama berbentuk pelaku dan yang kedua berbentuk yang dikenai, sehingga keduanya menyatakan dua arah dari satu perbuatan yang sama.
Kesejajaran dengan 88:9 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai kata seakar untuk wajah yang rela atas usahanya, tetapi cuma menyebut satu arah. Jadi yang di sana satu arah dan yang di sini dua arah, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerjanya berdiri sebagai perintah pertama dari tiga perintah di ayat-ayat penutup surah ini. Jadi yang diminta lebih dulu kembali, baru masuk, dan baru masuk lagi. Urutan itu bergerak dari meninggalkan tempat sekarang kepada memasuki tempat yang baru. Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan, berbeda dari bentuk laki-laki yang dipakai empat kali di 89:6, 89:13, 89:14, dan 89:22.
Renungan dan Hikmah
- Dua kata terakhirnya berasal dari satu akar yang dipakai di 64 ayat, dan yang pertama berbentuk pelaku sedangkan yang kedua berbentuk yang dikenai. Kesejajaran dengan 88:9 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai kata seakar untuk wajah yang rela atas usahanya tetapi cuma menyebut satu arah. Jadi yang di sana satu arah dan yang di sini dua arah dari Allah dan kepada-Nya. Satu arah dan dua arah kerelaan di dua surah berurutan menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut.
- Bentuk kata kerjanya bentuk perintah kepada orang kedua tunggal perempuan, dan bentuk itu jarang dipakai di dalam Al-Qur'an. Jadi tiga kata kerja di 89:28, 89:29, dan 89:30 seluruhnya memakai bentuk perempuan, mengikuti kata untuk jiwa di 89:27. Kesesuaian itu mengikat empat ayat penutup menjadi satu seruan. Bentuk perempuan yang berulang di tiga perintah mengikat empat ayat penutup menjadi satu seruan. Satu arah dan dua arah kerelaan di dua surah berurutan berdiri sejajar tanpa saling menyebut.
- Dua kata terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga keduanya sama-sama tidak punya pembanding di tempat lain mana pun. Jadi pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengan keduanya, dan kelangkaan berpasangan seperti itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini. Dua kata langka di dalam satu ayat memusatkan kelangkaannya, dan pemusatan itu tidak terulang di surahnya.
- Susunan ayat ini menaruh dua kata sifat sesudah perintahnya, sehingga yang diperintahkan Allah bukan cuma kembali melainkan kembali dalam keadaan tertentu. Jadi keadaannya bagian dari perintahnya, dan bukan keterangan tambahan yang bisa dilepaskan. Kembali tanpa keadaan itu bukan yang diperintahkan di sini. Keadaan yang menjadi bagian dari perintah tidak bisa dilepaskan, sebab tanpanya perintahnya belum ditunaikan. Keadaan yang menjadi bagian dari perintah tidak bisa dilepaskan tanpa membatalkan penunaiannya.
- Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan, berbeda dari bentuk laki-laki yang dipakai empat kali di 89:6, 89:13, 89:14, dan 89:22. Jadi sebutan yang sama dipakai lima kali di surah ini dengan dua bentuk kata ganti yang berbeda, dan yang terakhir dialamatkan kepada jiwa. Satu sebutan dengan dua bentuk kata ganti menandai dua pihak yang diseru, dan yang terakhir bukan manusia. Keadaan yang menjadi bagian dari perintah tidak bisa dilepaskan tanpa membatalkan penunaiannya.
- Akar kata kerjanya dipakai di 103 ayat, dan kesejajaran dengan 86:8 serta 86:11 patut dicatat sebab akar yang sama muncul dua kali di surah itu untuk dua pengembalian yang berbeda. Apa bedanya bagi seseorang antara dikembalikan tanpa diminta dan diperintahkan kembali dengan kata-kata yang menyapanya langsung? Diperintahkan kembali dengan kata yang menyapa berbeda dari dikembalikan tanpa diminta pendapatnya. Satu arah dan dua arah kerelaan di dua surah berurutan berdiri sejajar tanpa saling menyebut.