فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Lalu masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَادْخُلِي فِي عِبَادِيfa-dkhulii fii 'ibaadiilalu masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَادْخُلِيfa-dkhuliimaka masuklah
  2. فِيfiike dalam
  3. عِبَادِي'ibaadiihamba-hamba-Ku

Inti bacaan

Kehormatan tertinggi bergabung dengan komunitas mulia: 'lalu masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku', pengakuan status istimewa sebagai bagian dari komunitas hamba pilihan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(golongan)" tidak dipakai. Kata kerja (فَادْخُلِي, fa-dkhulii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti masuk. Ia dipakai di 126 ayat, antara lain 2:208, 4:31, 39:73, 66:10, dan 110:2.

Di 39:73 dan 110:2 akar itu dipakai untuk masuk ke dalam taman dan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Jadi akar yang sama menamai masuk ke dalam tempat dan masuk ke dalam golongan, dan ayat ini memakai yang kedua. Kata (عِبَادِي, 'ibaadii) di sini menjadi yang dimasuki, bukan yang mewarisi bumi.

Kata (عِبَادِي, 'ibaadii) muncul 17 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:186, 15:42, 17:53, 21:105, dan 25:17. Akarnya berarti mengabdi. Ia dipakai di 251 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul.

Kesejajaran dengan 21:105 patut dicatat, sebab di sana tertulis bahwa bumi akan diwarisi hamba-hamba-Nya yang saleh. Jadi kata yang sama menyebut pihak yang mewarisi bumi dan pihak yang dimasuki jiwa yang tenang, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Kata ganti pada ujung (عِبَادِي, 'ibaadii) berbentuk orang pertama, sehingga Yang berfirman menyebut mereka sebagai milik-Nya sendiri. Jadi dua ayat terakhir surah ini memakai kata ganti orang pertama, sedangkan seluruh ayat sebelumnya menyebut-Nya sebagai pihak ketiga.

Huruf fa di depan (فَادْخُلِي, fa-dkhulii) menyatakan urutan yang rapat, sehingga masuk itu menyusul kembali tanpa jeda. Huruf yang berbeda dipakai di awal 89:30, yaitu huruf waw yang cuma menyambungkan. Jadi dua perintah terakhir disambungkan dengan dua huruf yang berlainan.

Perbedaan itu patut dicatat. Yang di sini menyatakan akibat langsung dari perintah di 89:28, dan yang di 89:30 cuma menambahkan satu perintah lagi. Jadi tiga perintah di tiga ayat penutup tidak sederajat hubungannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Yang dimasuki di ayat ini golongan, bukan tempat, dan tempatnya baru disebut di 89:30. Jadi Al-Qur'an menyebut siapa lebih dulu dan di mana belakangan. Urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa golongannya didahulukan.

Kata (فِي عِبَادِي, fii 'ibaadii) memakai huruf yang menyatakan berada di dalam, sama seperti huruf di 89:30. Jadi dua perintah terakhir sama-sama memakai huruf itu, dan yang berbeda cuma apa yang dimasuki: yang di sini golongan, dan yang di sana tempat.

Bentuk (عِبَادِي, 'ibaadii) berbentuk jamak, sehingga yang dimasuki banyak orang, bukan satu. Jadi jiwa yang diseru itu tidak diminta berdiri sendirian melainkan bergabung. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma bentuk jamaknya.

Tafsiran

Ayat ini mengundang jiwa yang tenang untuk bergabung bersama hamba-hamba Allah lainnya, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 126 ayat, antara lain 2:208, 4:31, 39:73, 66:10, dan 110:2.

Di 39:73 dan 110:2 akar itu dipakai untuk masuk ke dalam taman dan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Jadi akar yang sama menamai masuk ke dalam tempat dan masuk ke dalam golongan, dan ayat ini memakai yang kedua.

Kata terakhirnya muncul 17 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:186, 15:42, 17:53, 21:105, dan 25:17. Kesejajaran dengan 21:105 patut dicatat, sebab di sana tertulis bahwa bumi akan diwarisi hamba-hamba-Nya yang saleh.

Yang dimasuki di ayat ini golongan, bukan tempat, dan tempatnya baru disebut di 89:30. Jadi Al-Qur'an menyebut siapa lebih dulu dan di mana belakangan. Urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.

Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan berada di dalam, sama seperti huruf di 89:30. Jadi dua perintah terakhir sama-sama memakai huruf itu, dan yang berbeda cuma apa yang dimasuki: yang di sini golongan, dan yang di sana tempat. Kata ganti pada ujung kata terakhirnya berbentuk orang pertama, sehingga dua ayat terakhir surah ini memakai bentuk itu sedangkan seluruh ayat sebelumnya tidak.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dimasuki di ayat ini golongan, bukan tempat, dan tempatnya baru disebut Allah di 89:30. Jadi Al-Qur'an menyebut siapa lebih dulu dan di mana belakangan. Urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Apa yang dinyatakan sebuah undangan ketika yang ditawarkan lebih dulu bukan tempatnya melainkan siapa yang akan menemani? Menawarkan teman sebelum tempat menaruh nilainya pada siapa, bukan pada di mana. Dua huruf penyambung yang berbeda menandai dua hubungan yang tidak sederajat di antara tiga perintah.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 126 ayat, antara lain 2:208, 4:31, 39:73, 66:10, dan 110:2. Di 39:73 dan 110:2 akar itu dipakai untuk masuk ke dalam taman dan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Jadi akar yang sama menamai masuk ke dalam tempat dan masuk ke dalam golongan, dan ayat ini memakai yang kedua. Satu akar untuk masuk tempat dan masuk golongan menaruh keduanya di dalam satu perbuatan. Menawarkan teman sebelum tempat menaruh nilainya pada siapa, bukan pada di mana ia akan berada.
  • Kata ganti pada ujung kata terakhirnya berbentuk orang pertama, sehingga Allah menyebut mereka sebagai milik-Nya sendiri. Jadi dua ayat terakhir surah ini memakai kata ganti orang pertama, sedangkan seluruh ayat sebelumnya menyebut-Nya sebagai pihak ketiga. Jarak antara Yang berfirman dan yang diseru berubah di ujung surahnya. Kata ganti orang pertama yang muncul di ujung surah mengubah jarak antara Yang berfirman dan yang diseru.
  • Kata terakhirnya muncul 17 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:186, 15:42, 17:53, 21:105, dan 25:17. Kesejajaran dengan 21:105 patut dicatat, sebab di sana tertulis bahwa bumi akan diwarisi hamba-hamba Allah yang saleh. Jadi kata yang sama menyebut pihak yang mewarisi bumi dan pihak yang dimasuki jiwa yang tenang. Kata yang menyebut pewaris bumi dan yang dimasuki jiwa menaruh keduanya di dalam satu sebutan.
  • Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sedangkan huruf di awal 89:30 cuma menyambungkan. Jadi Allah menyambungkan dua perintah terakhir dengan dua huruf yang berlainan: yang di sini menyatakan akibat langsung dari perintah di 89:28, dan yang di sana cuma menambahkan satu perintah lagi. Dua huruf penyambung yang berbeda menandai dua hubungan yang tidak sederajat di antara tiga perintah. Dua huruf penyambung yang berbeda menandai dua hubungan yang tidak sederajat di antara tiga perintah.
  • Tiga perintah di tiga ayat penutup tidak sederajat hubungannya, sebab yang kedua menyusul yang pertama sebagai akibat sedangkan yang ketiga cuma ditambahkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma dua huruf berbeda yang dipakai Allah di awal dua ayat. Tiga perintah yang tidak sederajat hubungannya menuntut pembacanya memperhatikan huruf, bukan cuma katanya. Menawarkan teman sebelum tempat menaruh nilainya pada siapa, bukan pada di mana ia akan berada.