وَادْخُلِي جَنَّتِي
Dan masuklah ke dalam taman-Ku.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَادْخُلِي جَنَّتِيwa-dkhulii jannatiidan masuklah ke dalam taman-Ku
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَادْخُلِيwa-dkhuliidan masuklah
- جَنَّتِيjannatiisurga-Ku
Inti bacaan
Puncak pencapaian sebagai penutup surah: 'dan masuklah ke dalam surga-Ku', kulminasi perjalanan jiwa yang tenang menuju tujuan akhir yang telah dijanjikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (وَادْخُلِي, wa-dkhulii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia bentuk kedua dari akar yang sama sesudah bentuk di 89:29. Jadi satu akar dipakai dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua huruf penyambung yang berbeda.
Kata (جَنَّتِي, jannatii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menutupi sampai tak terlihat. Ia dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata ganti pada ujungnya berbentuk orang pertama, sehingga taman itu disebut sebagai milik Yang berfirman sendiri. Di hampir seluruh tempat lain taman itu disebut tanpa kata ganti kepemilikan semacam itu, antara lain di 88:10 yang memakai bentuk tak bertakrif. Kata (جَنَّتِي, jannatii) di sini disandarkan kepada Yang berfirman, bukan dibiarkan tanpa pemilik.
Jadi ayat ini satu-satunya tempat di seluruh Al-Qur'an yang menyebut taman itu dengan menyandarkannya langsung kepada Yang berfirman. Kesejajaran dengan 88:10 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menyebut taman yang tinggi tanpa pemilik yang dinamai.
Kesejajaran dengan 89:29 juga patut dicatat, sebab kedua ayat sama-sama memakai kata ganti orang pertama: yang di sana pada hamba-hamba dan yang di sini pada taman. Jadi dua ayat terakhir surah ini menyebut dua hal yang keduanya disandarkan kepada Yang berfirman.
Huruf waw di depan (وَادْخُلِي, wa-dkhulii) cuma menyambungkan, berbeda dari huruf di awal 89:29 yang menyatakan akibat. Jadi perintah terakhir ini ditambahkan, bukan disusulkan sebagai akibat, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf.
Surah ini dibuka dengan sumpah demi fajar dan ditutup dengan undangan masuk ke dalam taman. Jadi ia bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan, dan Al-Qur'an tidak menandai gerakan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (جَنَّتِي, jannatii) berbentuk tunggal, sedangkan di banyak tempat lain taman itu disebut dalam bentuk jamak. Jadi yang ditawarkan di sini satu, bukan banyak. Bahasa Indonesia menahannya dengan bentuk tunggal, mengikuti apa yang tertulis alih-alih menyeragamkannya dengan pemakaian di tempat lain.
Kata (وَادْخُلِي, wa-dkhulii) berdiri sebagai perintah terakhir di dalam surah ini, dan ia kata kerja terakhir yang dipakai. Jadi surahnya ditutup dengan perintah, bukan dengan berita. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kalimat pun sesudahnya, dan yang tinggal cuma tempat yang dimasuki.
Bentuk (جَنَّتِي, jannatii) berbaris kasrah karena berada sesudah huruf yang menyatakan tempat, sama seperti kata di 89:29. Jadi dua kata terakhir di dua ayat penutup memakai baris yang sama karena sebab yang sama, dan kesejajaran itu mengikat keduanya.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menutup dengan undangan tertinggi bagi jiwa yang tenang: memasuki taman Allah, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an serta menjadi bentuk kedua dari akar yang sama sesudah bentuk di 89:29.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata ganti pada ujungnya berbentuk orang pertama, sehingga taman itu disebut sebagai milik Yang berfirman sendiri. Jadi bentuk yang menyandarkan taman itu langsung kepada-Nya cuma dipakai di ayat ini, sesuai hitungan kemunculan katanya.
Surah ini dibuka dengan sumpah demi fajar dan ditutup dengan undangan masuk ke dalam taman. Jadi ia bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan, dan Al-Qur'an tidak menandai gerakan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerjanya berdiri sebagai perintah terakhir di dalam surah ini, dan ia kata kerja terakhir yang dipakai. Jadi surahnya ditutup dengan perintah, bukan dengan berita. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kalimat pun sesudahnya, dan yang tinggal cuma tempat yang dimasuki. Kata terakhirnya berbentuk tunggal, sedangkan di banyak tempat lain taman itu disebut dalam bentuk jamak, sehingga yang ditawarkan di sini satu, bukan banyak.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata ganti pada ujungnya berbentuk orang pertama sehingga taman itu disebut sebagai milik Allah sendiri. Jadi bentuk yang menyandarkan taman itu langsung kepada-Nya cuma dipakai di ayat ini, sesuai hitungan kemunculan katanya yang cuma sekali. Taman yang disandarkan langsung kepada Allah cuma muncul sekali, dan tempat lain menyebutnya dengan cara lain. Bentuk yang menyandarkan taman kepada Yang berfirman cuma dipakai di ayat penutup surah ini.
- Kesejajaran dengan 88:10 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menyebut taman yang tinggi tanpa pemilik yang dinamai. Jadi dua surah berurutan menyebut tempat yang sama dengan dua cara yang berbeda: yang di sana lewat sifatnya, dan yang di sini lewat siapa pemiliknya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Dua surah berurutan yang menyebut satu tempat dengan dua cara berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan menutup surahnya dengan lompatan.
- Surah ini dibuka Allah dengan sumpah demi fajar dan ditutup dengan undangan masuk ke dalam taman. Jadi ia bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan. Apa yang menghubungkan sesuatu yang datang tiap pagi dengan sesuatu yang tidak akan berakhir, kalau Al-Qur'an tidak menyebut satu kalimat pun? Bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan menutup surah dengan lompatan.
- Kesejajaran dengan 89:29 patut dicatat, sebab kedua ayat sama-sama memakai kata ganti orang pertama: yang di sana pada hamba-hamba dan yang di sini pada taman. Jadi dua ayat terakhir surah ini menyebut dua hal yang keduanya disandarkan Allah kepada diri-Nya sendiri, dan itu tidak terjadi di dua puluh delapan ayat sebelumnya. Dua hal yang disandarkan kepada diri-Nya sendiri di dua ayat terakhir tidak terjadi di ayat mana pun sebelumnya.
- Huruf di depan kata kerjanya cuma menyambungkan, berbeda dari huruf di awal 89:29 yang menyatakan akibat. Jadi perintah terakhir dari Allah ini ditambahkan, bukan disusulkan sebagai akibat, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf yang tidak dinyatakan dengan kata tambahan apa pun. Ditambahkan berbeda dari disusulkan sebagai akibat, dan perbedaannya terbawa di dalam satu huruf saja. Bentuk yang menyandarkan taman kepada Yang berfirman cuma dipakai di ayat penutup surah ini.
- Kata terakhirnya berbentuk tunggal, sedangkan di banyak tempat lain taman itu disebut Allah dalam bentuk jamak. Jadi yang ditawarkan di sini satu, bukan banyak. Terjemahannya memakai bentuk tunggal mengikuti apa yang tertulis alih-alih menyeragamkannya dengan pemakaian di tempat lain yang lebih lazim. Bentuk tunggal yang menyimpang dari pemakaian lazim menuntut terjemahannya menahan diri dari menyeragamkan. Bergerak dari waktu yang berulang tiap hari kepada tempat yang tidak berkesudahan menutup surahnya dengan lompatan.