بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ
Aku bersumpah demi negeri ini,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِlaa uqsimu bi-haadzaa l-baladiAku bersumpah demi negeri ini
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaasungguh
- أُقْسِمُuqsimuaku bersumpah
- بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
- الْبَلَدِl-baladinegeri
Inti bacaan
Pembukaan Al-Balad dengan sumpah demi tempat yang dihormati: 'Aku bersumpah demi negeri ini', penggunaan lokasi khusus (Makkah) sebagai objek sumpah, penegasan kesucian dan pentingnya tempat tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata tunjuk (بِهَٰذَا, bi-haadzaa) menunjuk yang dekat dan dikonfirmasi morfologi, sehingga diterjemahkan "ini" dan draf sudah tepat pada bagian itu. Huruf (لَا, laa) di awal ayat penegas sumpah, bukan pengingkaran harfiah, dan polanya sama dengan 75:1 sampai 75:2.
Rangkaian (لَا أُقْسِمُ, laa uqsimu) muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1, sebab surah 75 memuatnya dua kali. Jadi rangkaian yang membuka surah ini bukan susunan yang berdiri sendiri melainkan salah satu dari sederet pembuka yang memakai rangka yang sama, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (الْبَلَدِ, al-baladi) muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 90:1, 90:2, dan 95:3. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya di dua ayat berturut-turut. Jadi satu kata dipakai dua kali dalam dua ayat yang bersambungan, dan pengulangan itu tidak diterangkan dengan satu kata pun.
Akar (الْبَلَدِ, al-baladi) berarti negeri. Akar itu dipakai di 19 ayat, antara lain 2:126, 7:57, 14:35, 35:9, dan 89:8. Kesejajaran dengan 89:8 dan 89:11 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai akar yang sama dua kali pula, dan di sana ia menyebut negeri-negeri tempat kaum terdahulu berbuat kerusakan.
Jadi dua surah berurutan sama-sama memakai akar itu dua kali, dan yang di sana berbentuk jamak sedangkan yang di sini berbentuk tunggal bertakrif. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam katanya sendiri, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua surah dengan satu kalimat pun meskipun keduanya berdampingan letaknya. Kata (الْبَلَدِ, al-baladi) di sini berbentuk tunggal, berbeda dari bentuk jamak di 89:8 dan 89:11.
Kesejajaran dengan 95:3 juga patut dicatat, sebab di sana kata yang sama disumpahkan bersama dua benda lain dan diberi keterangan tambahan. Jadi kata yang sama disumpahkan di dua surah, dan yang di sini berdiri tanpa keterangan sedangkan yang di sana disifati. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu. Kata (الْبَلَدِ, al-baladi) di sini berdiri tanpa keterangan tambahan yang menyifatinya.
Kata kerja (أُقْسِمُ, uqsimu) berbentuk sekarang dan berorang pertama tunggal, sehingga yang bersumpah Yang berfirman sendiri. Bentuk berorang pertama itu dipakai lagi di 90:4, 90:8, dan 90:10 dengan bentuk jamak, sehingga surah ini berulang kali memakai bentuk yang menyebut diri.
Susunan ayat ini menyumpahkan sebuah tempat, sedangkan 90:3 menyumpahkan orang. Jadi rangkaian sumpah surah ini menyebut tempat lebih dulu dan manusia belakangan, dan di antaranya berdiri satu ayat yang menerangkan kedudukan yang disapa. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (الْبَلَدِ, al-baladi) bertakrif, sehingga yang disumpahkan negeri yang sudah tertentu, bukan sembarang negeri. Tetapi namanya tidak disebutkan di dalam surah ini, dan yang menandainya cuma kata tunjuk yang berarti dekat. Bahasa Indonesia menahannya dengan "negeri ini", memakai kata tunjuk untuk menahan penunjukan yang sama.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi sebuah negeri suci, dan rangkaian dua kata pertamanya muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1, sebab surah 75 memuatnya dua kali.
Jadi rangkaian yang membuka surah ini bukan susunan yang berdiri sendiri melainkan salah satu dari sederet pembuka yang memakai rangka yang sama. Huruf pertamanya penegas sumpah, bukan pengingkaran harfiah, dan polanya sama dengan 75:1 sampai 75:2.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 90:1, 90:2, dan 95:3. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya di dua ayat berturut-turut. Jadi satu kata dipakai dua kali dalam dua ayat yang bersambungan.
Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:126, 7:57, 14:35, 35:9, dan 89:8. Kesejajaran dengan 89:8 dan 89:11 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai akar yang sama dua kali pula, dan di sana ia menyebut negeri-negeri tempat kaum terdahulu berbuat kerusakan.
Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disumpahkan negeri yang sudah tertentu, bukan sembarang negeri. Tetapi namanya tidak disebutkan di dalam surah ini, dan yang menandainya cuma kata tunjuk yang berarti dekat.
Kesejajaran dengan 95:3 juga patut dicatat, sebab di sana kata yang sama disumpahkan bersama dua benda lain dan diberi keterangan tambahan. Jadi kata yang sama disumpahkan di dua surah, dan yang di sini berdiri tanpa keterangan sedangkan yang di sana disifati.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertama ayat ini muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1, sebab surah 75 memuatnya dua kali. Jadi pembuka surah ini salah satu dari sederet pembuka yang memakai rangka yang sama, dan Allah tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Huruf pertamanya penegas sumpah, bukan pengingkaran harfiah, dan salah membacanya membalik seluruh maksud ayatnya. Sebuah pembuka yang berulang di delapan surah menandai keluarga bentuk, dan tiap anggotanya membawa isinya sendiri.
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 90:1, 90:2, dan 95:3, dan dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini pada dua ayat berturut-turut. Jadi Allah memakai satu kata dua kali dalam dua ayat yang bersambungan, dan pengulangan itu tidak diterangkan dengan satu kata pun di dalam teksnya. Satu kata yang dua pertiga pemakaiannya berkumpul di satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat penjelas. Kata tunjuk yang berarti dekat menaruh yang disumpahkan di dalam jangkauan yang membacanya.
- Akar kata terakhirnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:126, 7:57, 14:35, 35:9, dan 89:8. Kesejajaran dengan 89:8 dan 89:11 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai akar yang sama dua kali pula, dan di sana ia menyebut negeri-negeri tempat kaum terdahulu berbuat kerusakan atas kehendak mereka sendiri. Dua surah berurutan yang memakai satu akar dua kali masing-masing berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Sebuah tempat yang dijadikan saksi tidak menuntut pembacanya pernah menginjaknya sendiri.
- Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disumpahkan Allah negeri yang sudah tertentu, bukan sembarang negeri. Tetapi namanya tidak disebutkan di dalam surah ini, dan yang menandainya cuma kata tunjuk yang berarti dekat. Terjemahannya memakai kata tunjuk untuk menahan penunjukan yang sama alih-alih menyisipkan nama yang tidak tertulis. Nama yang tidak dituliskan tetap terbaca dari kata tunjuknya, dan menyebutkannya menambah yang tidak tertulis.
- Kata kerjanya berbentuk sekarang dan berorang pertama tunggal, sehingga yang bersumpah Allah sendiri. Bentuk berorang pertama itu dipakai lagi di 90:4, 90:8, dan 90:10 dengan bentuk jamak, sehingga surah ini berulang kali memakai bentuk yang menyebut diri-Nya. Jadi Dia hadir di dalam kalimatnya sejak ayat pertama, bukan disebut sebagai pihak ketiga. Menyebut diri sejak ayat pertama mengubah jarak antara Yang berfirman dan yang membacanya sepanjang surah.
- Susunan ayat ini menyumpahkan sebuah tempat, sedangkan 90:3 menyumpahkan orang. Jadi rangkaian sumpah surah ini menyebut tempat lebih dulu dan manusia belakangan, dan di antaranya berdiri satu ayat yang menerangkan kedudukan yang disapa. Apa yang menghubungkan sebuah negeri dengan orang yang memperanakkan, kalau Allah tidak menyebut satu kalimat pun di antara keduanya? Menyumpahkan tempat lalu manusia menaruh keduanya di dalam satu deret tanpa satu kata yang menghubungkan.