وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
Dan demi yang memperanakkan dan yang diperanakkannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَwa-waalidin wa-maa waladadan demi yang memperanakkan dan yang diperanakkannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَوَالِدٍwa-waalidindan demi ayah
- وَمَاwa-maadan apa yang
- وَلَدَwaladamelahirkan
Inti bacaan
Sumpah demi hubungan generasi: 'dan demi yang memperanakkan dan yang diperanakkannya', penggunaan hubungan orangtua-anak sebagai objek sumpah, simbol kesinambungan kehidupan lintas generasi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَوَالِدٍ, wa waalidin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya berarti melahirkan. Ia dipakai di 102 ayat, antara lain 2:83, 4:7, 19:35, 31:33, dan 112:3. Di 112:3 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Allah tidak memperanakkan dan tidak diperanakkan.
Kesejajaran dengan 112:3 patut dicatat, sebab di sana kedua bentuk akar itu dipakai berpasangan untuk mengingkari keduanya bagi Allah, sedangkan di sini keduanya dipakai berpasangan untuk menyumpahkan manusia. Jadi satu pasangan bentuk dipakai untuk dua maksud yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (وَوَالِدٍ, wa waalidin) di sini disumpahkan, bukan diingkari seperti di 112:3.
Kata (وَمَا وَلَدَ, wa maa walada) memakai kata sambung yang biasanya dipakai untuk yang bukan berakal, sedangkan yang dimaksud keturunan manusia. Pemakaian itu bisa dibaca sebagai penunjuk jenis, bukan penunjuk orang, dan Al-Qur'an membiarkannya terbuka tanpa menutupnya dengan satu keterangan pun.
Susunan ayat ini menyandingkan dua pihak dari satu akar yang sama, yaitu yang memperanakkan dan yang diperanakkan. Jadi seluruh manusia tercakup di dalam dua kata itu, sebab tiap orang salah satu di antara keduanya dan sebagian orang keduanya sekaligus. Al-Qur'an tidak menerangkan cakupan itu. Bentuk (وَوَالِدٍ, wa waalidin) bentuk pelaku, dan pasangannya bentuk kata kerja lampau.
Kata (وَوَالِدٍ, wa waalidin) tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif yang disumpahkan di 90:1. Jadi rangkaian sumpah surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut tempat yang tertentu, dan yang kedua menyebut orang mana pun yang sesuai gambarannya.
Huruf waw di depan (وَوَالِدٍ, wa waalidin) huruf sumpah yang berulang, berbeda dari huruf yang sama di awal 90:2 yang menyatakan keadaan. Jadi dua huruf yang sama persis berdiri di dua ayat berturut-turut dengan dua kedudukan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu tanda pun.
Ayat ini menutup rangkaian sumpah surah ini, dan sesudahnya 90:4 langsung memuat jawabannya. Jadi jawaban sumpahnya datang tepat di ayat berikutnya, tanpa jeda dan tanpa pertanyaan yang menyela. Susunan itu berbeda dari 86:2 dan 89:5 yang keduanya menyela rangkaian sumpahnya dengan pertanyaan.
Yang disumpahkan di ayat ini manusia dalam kedudukannya yang paling dasar, yaitu sebagai orang tua dan sebagai anak. Jadi sesudah menyumpahkan sebuah tempat, Al-Qur'an menyumpahkan hubungan yang paling awal dimiliki tiap orang. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma letak keduanya.
Bentuk (وَمَا وَلَدَ, wa maa walada) berbentuk lampau, sedangkan pasangannya di depan berbentuk kata benda pelaku. Jadi satu akar dipakai dengan dua bentuk yang berbeda di dalam satu ayat pendek, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi orang tua dan keturunannya, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya dipakai di 102 ayat, antara lain 2:83, 4:7, 19:35, 31:33, dan 112:3.
Kesejajaran dengan 112:3 patut dicatat, sebab di sana kedua bentuk akar itu dipakai berpasangan untuk mengingkari keduanya bagi Allah, sedangkan di sini keduanya dipakai berpasangan untuk menyumpahkan manusia. Jadi satu pasangan bentuk dipakai untuk dua maksud yang berjauhan.
Kata sambung di tengah ayat biasanya dipakai untuk yang bukan berakal, sedangkan yang dimaksud keturunan manusia. Pemakaian itu bisa dibaca sebagai penunjuk jenis, bukan penunjuk orang, dan Al-Qur'an membiarkannya terbuka tanpa menutupnya dengan satu keterangan pun.
Susunan ayat ini menyandingkan dua pihak dari satu akar yang sama, yaitu yang memperanakkan dan yang diperanakkan. Jadi seluruh manusia tercakup di dalam dua kata itu, sebab tiap orang salah satu di antara keduanya dan sebagian orang keduanya sekaligus.
Ayat ini menutup rangkaian sumpah surah ini, dan sesudahnya 90:4 langsung memuat jawabannya. Jadi jawaban sumpahnya datang tepat di ayat berikutnya, tanpa jeda dan tanpa pertanyaan yang menyela, berbeda dari 86:2 dan 89:5.
Kata keduanya tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif yang disumpahkan di 90:1. Jadi rangkaian sumpah surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut tempat yang tertentu, dan yang kedua menyebut orang mana pun yang sesuai gambarannya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keduanya dipakai di 102 ayat, antara lain 2:83, 4:7, 19:35, 31:33, dan 112:3. Di 112:3 kedua bentuk akar itu dipakai berpasangan untuk mengingkari keduanya bagi Allah, sedangkan di sini keduanya dipakai berpasangan untuk menyumpahkan manusia. Jadi satu pasangan bentuk dipakai untuk dua maksud yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu pasangan bentuk yang dipakai untuk mengingkari dan untuk menyumpahkan menuntut kedua tempatnya dibaca bersama.
- Susunan ayat ini menyandingkan dua pihak dari satu akar yang sama, yaitu yang memperanakkan dan yang diperanakkan. Jadi seluruh manusia tercakup di dalam dua kata itu, sebab tiap orang salah satu di antara keduanya dan sebagian orang keduanya sekaligus. Allah tidak menerangkan cakupan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyatakannya cuma pasangan katanya. Dua kata yang mencakup seluruh manusia meniadakan kemungkinan seseorang menganggap dirinya di luar sumpahnya.
- Kata sambung di tengah ayat biasanya dipakai untuk yang bukan berakal, sedangkan yang dimaksud keturunan manusia. Pemakaian itu bisa dibaca sebagai penunjuk jenis, bukan penunjuk orang, dan Allah membiarkannya terbuka tanpa menutupnya dengan satu keterangan pun. Apa yang berubah pada sebuah sumpah ketika yang disumpahkan disebut sebagai jenis, bukan sebagai orang? Kata sambung yang tidak lazim membuka pembacaan yang lebih luas, dan menutupnya mempersempit apa yang tertulis.
- Kata keduanya tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif yang disumpahkan di 90:1. Jadi rangkaian sumpah surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut tempat yang tertentu, dan yang kedua menyebut orang mana pun yang sesuai gambarannya. Allah tidak menyeragamkan penakrifan di dalam satu rangkaian. Penakrifan yang berganti di dalam satu rangkaian menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya. Satu akar yang dipakai mengingkari dan menyumpahkan menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama.
- Ayat ini menutup rangkaian sumpah surah ini, dan sesudahnya 90:4 langsung memuat jawabannya. Jadi jawaban sumpahnya datang tepat di ayat berikutnya, tanpa jeda dan tanpa pertanyaan yang menyela. Susunan itu berbeda dari 86:2 dan 89:5 yang keduanya menyela rangkaian sumpahnya dengan pertanyaan sebelum jawabannya tiba. Jawaban yang datang tanpa jeda bekerja berbeda dari jawaban yang ditahan oleh pertanyaan yang menyela. Dua kata yang mencakup seluruh manusia tidak menyisakan seorang pun yang berada di luar sumpahnya.
- Yang disumpahkan Allah di ayat ini manusia dalam kedudukannya yang paling dasar, yaitu sebagai orang tua dan sebagai anak. Jadi sesudah menyumpahkan sebuah tempat, Dia menyumpahkan hubungan yang paling awal dimiliki tiap orang. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma letak keduanya. Hubungan yang paling awal dimiliki tiap orang dijadikan saksi, dan tidak seorang pun bisa menyangkal memilikinya.