لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍla-qad khalaqnaa l-insaana fii kabadinsungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah
Terjemahan per kata (5 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- فِيfiidalam
- كَبَدٍkabadinkesusahan
Inti bacaan
Pengakuan universal tentang perjuangan hidup: 'sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah', kesadaran fundamental bahwa kehidupan secara inheren melibatkan kesulitan, bukan janji kenyamanan tanpa usaha, dasar bagi penerimaan realistis terhadap tantangan hidup.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَبَدٍ, kabadin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti hati dan susah payah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini salah satu dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 90:9, 90:10, dan 90:14. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat hapax akar sekaligus, dan tidak ada surah lain di sekitarnya yang memuat sebanyak itu. Kata (كَبَدٍ, kabadin) berdiri sendirian tanpa satu pun bentuk lain yang seakar dengannya.
Kata kerja (خَلَقْنَا, khalaqnaa) berbentuk lampau dan berorang pertama jamak, sehingga yang menciptakan Yang berfirman sendiri. Akarnya berarti mencipta dengan ukuran. Ia dipakai di 248 ayat, antara lain 2:29, 30:20, 55:14, 86:5, dan 96:2. Di 86:5 dan 96:2 akar itu dipakai untuk penciptaan manusia pula.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 86:5, 89:15, 89:23, dan 95:4, sehingga beberapa surah di juz ini memakai bentuk yang sama untuk menyebut jenisnya.
Huruf (فِي, fii) di depan kata terakhir menyatakan berada di dalam, sehingga yang dinyatakan manusia berada di dalam keadaan itu, bukan sekadar mengalaminya sesekali. Perbedaan itu perlu dijaga: berada di dalam sesuatu lebih menyeluruh daripada bertemu dengannya dari waktu ke waktu.
Kata (لَقَدْ, laqad) gabungan huruf penegas dan huruf kepastian, sehingga pernyataannya dikuatkan dua kali sebelum kata kerjanya. Jadi ayat ini memikul dua penanda penegasan, dan susunan berlapis seperti itu dipakai untuk menyatakan sesuatu yang mungkin disangkal orang.
Ayat ini jawaban bagi tiga ayat sumpah sebelumnya, dan yang dinyatakan bukan tentang negerinya melainkan tentang keadaan manusia. Jadi yang disumpahkan tempat dan hubungan darah, dan yang dinyatakan atasnya keadaan hidup. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan antara keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata (كَبَدٍ, kabadin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut keadaan yang sesuai gambarannya, bukan satu kesulitan tertentu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "susah payah", memakai dua kata untuk menahan muatan yang di dalam Arabnya terbawa oleh satu kata yang tidak punya pembanding di tempat mana pun.
Bentuk (خَلَقْنَا, khalaqnaa) berorang pertama jamak, berbeda dari bentuk pasif yang dipakai di 86:5 dan dari bentuk berorang ketiga yang dipakai di 87:2. Jadi tiga surah di juz ini menyebut penciptaan manusia dengan tiga bentuk yang berbeda, dan yang di sini paling terang menyebut siapa pelakunya.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) berbaris fathah karena menjadi objek, sedangkan bentuknya di 89:15 berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi satu kata muncul di dua surah berdekatan dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa hidup manusia sejak awal penuh perjuangan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini salah satu dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 90:9, 90:10, dan 90:14, sehingga surah dua puluh ayat ini memuat empat hapax akar sekaligus.
Kata kerjanya berbentuk lampau dan berorang pertama jamak, sehingga yang menciptakan Yang berfirman sendiri. Akarnya dipakai di 248 ayat, antara lain 2:29, 30:20, 55:14, 86:5, dan 96:2. Di 86:5 dan 96:2 akar itu dipakai untuk penciptaan manusia pula.
Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan berada di dalam, sehingga yang dinyatakan manusia berada di dalam keadaan itu, bukan sekadar mengalaminya sesekali. Perbedaan itu perlu dijaga: berada di dalam sesuatu lebih menyeluruh daripada bertemu dengannya dari waktu ke waktu.
Ayat ini jawaban bagi tiga ayat sumpah sebelumnya, dan yang dinyatakan bukan tentang negerinya melainkan tentang keadaan manusia. Jadi yang disumpahkan tempat dan hubungan darah, dan yang dinyatakan atasnya keadaan hidup.
Kata ketiganya memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 86:5, 89:15, 89:23, dan 95:4, sehingga beberapa surah di juz ini memakai bentuk yang sama untuk menyebut jenisnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini salah satu dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 90:9, 90:10, dan 90:14. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat hapax akar sekaligus, dan Allah tidak menerangkan pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Empat akar yang cuma hidup di satu ayat berkumpul di satu surah pendek tanpa satu kalimat yang menyebutnya.
- Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan berada di dalam, sehingga yang dinyatakan Allah manusia berada di dalam keadaan itu, bukan sekadar mengalaminya sesekali. Perbedaan itu perlu dijaga: berada di dalam sesuatu lebih menyeluruh daripada bertemu dengannya dari waktu ke waktu, dan yang tertulis di sini yang pertama. Berada di dalam sesuatu lebih menyeluruh daripada bertemu dengannya, dan satu huruf yang menentukan bedanya. Empat akar yang cuma hidup di satu ayat berkumpul di satu surah pendek tanpa satu penjelasan.
- Kata pertamanya gabungan huruf penegas dan huruf kepastian, sehingga pernyataannya dikuatkan dua kali sebelum kata kerjanya. Jadi ayat ini memikul dua penanda penegasan, dan susunan berlapis seperti itu dipakai Allah untuk menyatakan sesuatu yang mungkin disangkal orang. Apa yang membuat sebuah kenyataan sehari-hari perlu dikuatkan dua kali sebelum diucapkan? Penegasan berlapis dipakai ketika ada yang mungkin disangkal, dan yang disangkal di sini kenyataan sehari-hari.
- Ayat ini jawaban bagi tiga ayat sumpah sebelumnya, dan yang dinyatakan bukan tentang negerinya melainkan tentang keadaan manusia. Jadi yang disumpahkan Allah tempat dan hubungan darah, dan yang dinyatakan atasnya keadaan hidup. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan antara keduanya dengan satu kalimat pun. Sumpah atas tempat dan darah yang dijawab dengan keadaan hidup menuntut pembacanya mencari sendiri sambungannya. Empat akar yang cuma hidup di satu ayat berkumpul di satu surah pendek tanpa satu penjelasan.
- Kata kerjanya berbentuk lampau dan berorang pertama jamak, sehingga yang menciptakan Allah sendiri. Akarnya dipakai di 248 ayat, antara lain 2:29, 30:20, 55:14, 86:5, dan 96:2. Di 86:5 dan 96:2 akar itu dipakai untuk penciptaan manusia pula, tetapi di sana bentuknya pasif sedangkan di sini Dia menyebut diri-Nya. Tiga surah yang menyebut penciptaan manusia dengan tiga bentuk berbeda menaruh pelakunya pada tiga jarak. Susah payah yang dinyatakan sebagai tempat berada berlaku terus, bukan sesekali menimpa.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut keadaan yang sesuai gambarannya, bukan satu kesulitan tertentu. Terjemahannya memakai dua kata untuk menahan muatan yang di dalam Arabnya terbawa oleh satu kata yang tidak punya pembanding di tempat mana pun. Membatasinya kepada satu jenis kesulitan akan mempersempit apa yang dinyatakan Allah. Kesulitan yang tidak dibatasi jenisnya berlaku bagi seluruh bentuknya, dan membatasinya mempersempit ayatnya.