أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ
Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌa-yahsabu an lan yaqdira 'alayhi ahadunapakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَيَحْسَبُa-yahsabuapakah ia mengira
- أَنْanbahwa
- لَنْlantidak akan
- يَقْدِرَyaqdiramenyempitkan
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- أَحَدٌahadunseorang pun
Inti bacaan
Ilusi kebebasan tanpa akuntabilitas: 'apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?', kritik terhadap asumsi keliru bahwa kekuatan pribadi membebaskan dari segala bentuk pengawasan atau konsekuensi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(manusia)" tidak dipakai. Kata kerja (أَيَحْسَبُ, ayahsabu) memakai kata ganti pelaku yang terbawa di dalam bentuknya, dan yang ditunjuknya manusia di 90:4. Menyisipkan namanya akan menambah kata yang tidak ada di dalam Arabnya, padahal rujukannya sudah terbaca dari ayat sebelumnya.
Kata (أَيَحْسَبُ, ayahsabu) muncul 5 kali di 3 surah, yaitu di 23:55, 75:3, 75:36, 90:5, dan 90:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari lima kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya berjarak satu ayat saja.
Jadi satu kata dipakai dua kali di dalam satu surah untuk membuka dua pertanyaan yang berbeda isinya. Yang di sini menyangkut kuasa atas dirinya, dan yang di 90:7 menyangkut penglihatan atasnya. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَيَحْسَبُ, ayahsabu) di sini membuka pertanyaan tentang kuasa, bukan tentang penglihatan.
Akar (أَيَحْسَبُ, ayahsabu) berarti menghitung dan menyangka. Akar itu dipakai di 102 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menghitung dan untuk perhitungan amal, antara lain di 2:202 dan 88:26. Jadi satu akar memikul mengira dan menghitung, dan yang menyatukannya menimbang sesuatu di dalam pikiran.
Kata kerja (يَقْدِرَ, yaqdira) berasal dari akar yang berarti mengukur dan menentukan. Akar itu dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 87:3, dan 89:16. Kesejajaran dengan 89:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan.
Kata (أَحَدٌ, ahadun) tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun. Kata yang sama diulang persis di 90:7, sehingga ia muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menutup ayat pertanyaan.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan yang mengandung bantahan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan penolakan atas sangkaan itu. Jadi Al-Qur'an bertanya untuk membantah, bukan untuk meminta keterangan, dan bentuk tanya itu tidak menunggu jawaban dari siapa pun.
Yang disangka manusia di ayat ini bukan bahwa ia lebih kuat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya. Jadi yang dibantah bukan kesombongan atas orang lain melainkan anggapan bahwa dirinya berada di luar jangkauan siapa pun. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (أَيَحْسَبُ, ayahsabu) dibuka huruf tanya yang menempel pada kata kerjanya, bukan berdiri sendiri. Jadi pertanyaannya terbawa di dalam satu kata, dan bentuk itu berulang persis di 90:7. Dua ayat di surah ini karena itu dibuka dengan satu kata yang memikul pertanyaan dan kata kerjanya sekaligus.
Kata (عَلَيْهِ, 'alayhi) memakai kata ganti yang menunjuk manusia di 90:4, sehingga rangkaian pertanyaan ini terikat kepada pihak yang disebut sekali saja. Jadi enam ayat berturut-turut bergantung pada satu penyebutan, dan Al-Qur'an tidak mengulang namanya satu kali pun.
Tafsiran
Ayat ini menyanggah kesombongan manusia yang mengira dirinya tak terjangkau kekuasaan siapa pun, dan kata pertamanya muncul 5 kali di 3 surah, yaitu di 23:55, 75:3, 75:36, 90:5, dan 90:7.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari lima kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya berjarak satu ayat saja. Jadi satu kata dipakai dua kali di dalam satu surah untuk membuka dua pertanyaan yang berbeda isinya.
Akarnya dipakai di 102 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menghitung dan untuk perhitungan amal, antara lain di 2:202 dan 88:26. Jadi satu akar memikul mengira dan menghitung, dan yang menyatukannya menimbang sesuatu di dalam pikiran.
Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 87:3, dan 89:16. Kesejajaran dengan 89:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan.
Yang disangka manusia di ayat ini bukan bahwa ia lebih kuat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya. Jadi yang dibantah bukan kesombongan atas orang lain melainkan anggapan bahwa dirinya berada di luar jangkauan siapa pun.
Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun. Kata yang sama diulang persis di 90:7, sehingga ia muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menutup ayat pertanyaan.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertama ayat ini muncul 5 kali di 3 surah, yaitu di 23:55, 75:3, 75:36, 90:5, dan 90:7, dan dua dari lima kemunculannya berada di surah ini dengan jarak satu ayat saja. Jadi Allah memakai satu kata dua kali untuk membuka dua pertanyaan yang berbeda isinya: yang satu tentang kuasa atasnya, dan yang lain tentang penglihatan atasnya. Satu kata yang dipakai dua kali di satu surah untuk dua pertanyaan berbeda menandai keduanya sebagai sepasang. Menyangka diri di luar jangkauan menutup pintu pertimbangan sebelum satu pun dibuka.
- Akar kata pertamanya dipakai di 102 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menghitung dan untuk perhitungan amal, antara lain di 2:202 dan 88:26. Jadi satu akar memikul mengira dan menghitung, dan yang menyatukannya menimbang sesuatu di dalam pikiran. Yang mengira menimbang tanpa bukti, dan yang menghitung menimbang dengan ukuran. Mengira dan menghitung berbagi satu akar, dan yang membedakan cuma ada atau tidaknya ukuran yang dipakai. Mengira tanpa ukuran berbeda dari menghitung dengan ukuran, dan satu akar memikul keduanya.
- Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 87:3, dan 89:16. Kesejajaran dengan 89:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan dari Allah. Jadi dua surah berdekatan memakai akar yang sama untuk dua salah sangka yang berbeda. Dua surah berdekatan yang memakai satu akar untuk dua salah sangka berdiri sejajar tanpa saling menyebut.
- Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan yang mengandung bantahan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan penolakan atas sangkaan itu. Jadi Allah bertanya untuk membantah, bukan untuk meminta keterangan, dan bentuk tanya itu tidak menunggu jawaban dari siapa pun yang membacanya. Bertanya untuk membantah tidak menunggu jawaban, dan yang ditanya tidak diberi kesempatan menyanggah. Mengira tanpa ukuran berbeda dari menghitung dengan ukuran, dan satu akar memikul keduanya.
- Yang disangka manusia bukan bahwa ia lebih kuat melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya. Jadi yang dibantah Allah bukan kesombongan atas orang lain melainkan anggapan bahwa dirinya berada di luar jangkauan siapa pun. Apa yang membuat seseorang sampai pada anggapan bahwa tidak ada satu pihak pun yang bisa menjangkaunya? Menyangka diri di luar jangkauan siapa pun berbeda dari menyangka diri lebih kuat, dan yang pertama lebih jauh.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada satu pun. Kata yang sama diulang persis di 90:7, sehingga ia muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menutup ayat pertanyaan. Jadi Allah menutup dua pertanyaan berturut-turut dengan kata yang sama persis. Satu kata yang menutup dua pertanyaan berturut-turut mengikat keduanya menjadi satu bantahan yang utuh. Menyangka diri di luar jangkauan menutup pintu pertimbangan sebelum satu pun dibuka.