يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا
Dia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk-tumpuk.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًاyaquulu ahlaktu maalan lubadandia berkata, aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk-tumpuk
Terjemahan per kata (4 kata)
- يَقُولُyaquuluberkata
- أَهْلَكْتُahlaktuaku menghabiskan
- مَالًاmaalanharta
- لُبَدًاlubadanyang banyak
Inti bacaan
Kebanggaan yang salah arah: 'dia berkata: aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk-tumpuk', kritik terhadap kebanggaan atas pemborosan tanpa tujuan bermakna, pengeluaran yang dipamerkan tanpa kesadaran spiritual.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu dari akar yang berarti mengatakan lewat morfologi. Kata (لُبَدًا, lubadan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bertumpuk melekat. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 72:19 dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Di 72:19 akar itu dipakai untuk orang-orang yang hampir berkerumun bertumpuk-tumpuk mengelilingi seorang hamba yang berdoa. Jadi akar yang sama menyebut kerumunan manusia yang bertumpuk dan harta yang bertumpuk, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang menindih rapat sampai tidak bercelah. Kata (لُبَدًا, lubadan) di sini menyifati harta, bukan kerumunan manusia seperti di 72:19.
Kata kerja (أَهْلَكْتُ, ahlaktu) berasal dari akar yang berarti binasa. Akar itu dipakai di 68 ayat, antara lain 6:6, 7:155, 17:16, 28:59, dan 46:35. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut pembinasaan kaum yang mendustakan, dan pelakunya Yang berfirman sendiri.
Jadi akar yang di puluhan ayat menyebut pembinasaan yang dijatuhkan atas kaum, di sini dipakai manusia untuk menyebut apa yang ia perbuat atas hartanya sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga: yang di sana hukuman, dan yang di sini kebanggaan. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَهْلَكْتُ, ahlaktu) mendahuluinya, dan keduanya berdiri di dalam satu kutipan.
Bentuk (أَهْلَكْتُ, ahlaktu) berorang pertama tunggal, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Al-Qur'an memperdengarkan kebanggaannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai juga di 89:15, 89:16, dan 89:24 pada surah tetangga.
Kata (مَالًا, maalan) tidak bertakrif, sehingga yang disebut harta yang sesuai gambarannya, bukan harta tertentu. Akarnya berarti harta. Ia dipakai di 80 ayat, antara lain 2:177, 9:34, 18:46, 68:14, dan 89:20. Kesejajaran dengan 89:20 patut dicatat, sebab di sana harta itu dicintai berlebihan.
Jadi dua surah berurutan menyebut harta pada dua kedudukan yang berbeda: yang di sana dicintai, dan yang di sini dihabiskan lalu dibanggakan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang di dua tempat yang berdekatan.
Yang dibanggakan di ayat ini bukan harta yang dimiliki melainkan harta yang sudah habis. Jadi kebanggaannya bersandar pada sesuatu yang tidak lagi ada padanya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma bentuk lampau kata kerjanya sendiri.
Bentuk (مَالًا, maalan) berbaris fathah karena menjadi objek, dan kata sifat sesudahnya mengikuti barisnya. Jadi keduanya terikat sebagai satu satuan, dan sifatnya tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada bendanya seperti di 90:15 dan 90:16.
Kata (يَقُولُ, yaquulu) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja di dalam kutipnya berbentuk lampau. Jadi ucapannya berlangsung dan yang dibanggakannya sudah lewat. Susunan yang sama dipakai di 89:15, 89:16, dan 89:24 pada surah tetangga, sehingga empat ucapan di dua surah memakai rangka yang sama.
Tafsiran
Ayat ini mencatat kesombongan manusia yang membanggakan harta yang telah dihamburkan, dan kutipnya dibuka serta ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu lewat morfologi.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 72:19 dan ayat ini. Di 72:19 akar itu dipakai untuk orang-orang yang hampir berkerumun bertumpuk-tumpuk mengelilingi seorang hamba yang berdoa.
Jadi akar yang sama menyebut kerumunan manusia yang bertumpuk dan harta yang bertumpuk, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang menindih rapat sampai tidak bercelah. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 68 ayat, antara lain 6:6, 7:155, 17:16, 28:59, dan 46:35. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut pembinasaan kaum yang mendustakan, dan pelakunya Yang berfirman sendiri.
Yang dibanggakan di ayat ini bukan harta yang dimiliki melainkan harta yang sudah habis. Jadi kebanggaannya bersandar pada sesuatu yang tidak lagi ada padanya, dan yang menandainya cuma bentuk lampau kata kerjanya sendiri.
Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut harta yang sesuai gambarannya, bukan harta tertentu. Akarnya dipakai di 80 ayat, antara lain 2:177, 9:34, 18:46, 68:14, dan 89:20, dan kesejajaran dengan 89:20 patut dicatat sebab di sana harta itu dicintai berlebihan.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 68 ayat, antara lain 6:6, 7:155, 17:16, 28:59, dan 46:35, dan di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut pembinasaan kaum yang mendustakan dengan Allah sebagai pelakunya. Jadi akar yang di puluhan ayat menyebut hukuman, di sini dipakai manusia untuk membanggakan apa yang ia perbuat atas hartanya sendiri. Akar yang di puluhan ayat menyebut hukuman dipakai manusia untuk membanggakan, dan itu tidak diterangkan.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 72:19 dan 90:6. Di 72:19 akar itu dipakai untuk orang-orang yang hampir berkerumun bertumpuk-tumpuk mengelilingi seorang hamba yang berdoa kepada Allah. Jadi akar yang sama menyebut kerumunan manusia dan harta, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang menindih rapat. Kerumunan yang bertumpuk dan harta yang bertumpuk berbagi satu akar yang cuma hidup di dua tempat.
- Yang dibanggakan di ayat ini bukan harta yang dimiliki melainkan harta yang sudah habis. Jadi kebanggaannya bersandar pada sesuatu yang tidak lagi ada padanya, dan yang menandainya cuma bentuk lampau kata kerjanya. Apa yang tersisa dari kebanggaan seseorang ketika yang dibanggakannya sendiri sudah tidak ada di tangannya? Kebanggaan atas yang sudah habis bersandar pada sesuatu yang tidak lagi bisa diperlihatkan kepada siapa pun. Membanggakan yang sudah habis menaruh nilai seseorang pada sesuatu yang tidak bisa diperlihatkan.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 80 ayat, antara lain 2:177, 9:34, 18:46, 68:14, dan 89:20. Kesejajaran dengan 89:20 patut dicatat, sebab di sana harta itu dicintai berlebihan. Jadi dua surah berurutan menyebut harta pada dua kedudukan yang berbeda, dan Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah berurutan yang menyebut harta pada dua kedudukan berdiri sejajar tanpa satu kalimat penghubung. Akar yang menyebut hukuman dipakai untuk membanggakan, dan pergeseran itu tidak diterangkan.
- Bentuk kata kerja keduanya berorang pertama tunggal, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Allah memperdengarkan kebanggaannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai juga di 89:15, 89:16, dan 89:24 pada surah tetangga, sehingga dua surah berurutan sama-sama mengutip ucapan manusia. Ucapan yang dikutip langsung terdengar sendiri, dan itu bekerja berbeda dari laporan tentang ucapan.
- Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut harta yang sesuai gambarannya, bukan harta tertentu. Jadi Allah tidak menyebut berapa banyak dan tidak menyebut dari mana. Yang disifati cuma bahwa ia bertumpuk, dan sifat itu sendiri yang menjadi bahan kebanggaannya. Sifat yang menjadi bahan kebanggaan seseorang menerangkan lebih banyak tentangnya daripada jumlah hartanya. Akar yang menyebut hukuman dipakai untuk membanggakan, dan pergeseran itu tidak diterangkan.