أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ

Bukankah Kami telah menjadikan baginya sepasang mata,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِa-lam naj'al lahu 'aynaynibukankah Kami telah menjadikan baginya sepasang mata

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. نَجْعَلْnaj'alKami menjadikan
  3. لَهُlahubaginya
  4. عَيْنَيْنِ'aynaynidua mata

Inti bacaan

Anugerah penglihatan yang jarang disyukuri: 'bukankah Kami telah menjadikan baginya sepasang mata', pengingat bahwa kapasitas indrawi dasar adalah pemberian yang membawa tanggung jawab, bukan hak otomatis.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عَيْنَيْنِ, 'aynayni) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berpasangan ini. Akarnya berarti mata dan mata air. Ia dipakai di banyak ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk mata air, antara lain di 88:5 dan 88:12 pada surah yang berdekatan.

Jadi satu akar memikul mata yang melihat dan mata air yang memancar, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Kesejajaran dengan 88:5 dan 88:12 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama muncul dua kali untuk dua mata air yang berlawanan sifatnya. Kata (عَيْنَيْنِ, 'aynayni) di sini menyebut mata yang melihat, bukan mata air yang memancar.

Bentuk (عَيْنَيْنِ, 'aynayni) berbentuk ganda, yaitu bentuk yang menyatakan tepat dua dan tidak dipakai di dalam bahasa Indonesia. Jadi bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa kata bilangan, dan bahasa Indonesia menahannya dengan kata "sepasang" untuk menahan bilangan yang sama.

Bentuk ganda itu dipakai lagi di 90:9 dan 90:10, sehingga tiga ayat berturut-turut memuat empat kata berbentuk ganda. Jadi Al-Qur'an menyebut empat pemberian yang seluruhnya berpasangan atau berjumlah dua, dan pemusatan bentuk ganda sepadat itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini. Bentuk (عَيْنَيْنِ, 'aynayni) berbentuk ganda, sama seperti dua kata di 90:9 dan 90:10.

Susunan (أَلَمْ نَجْعَلْ, alam naj'al) berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai juga di 89:6 pada surah tetangga, dan di kedua tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban.

Kata kerja (نَجْعَلْ, naj'al) berorang pertama jamak, sehingga yang menjadikan Yang berfirman sendiri. Bentuk berorang pertama itu dipakai lagi di 90:10, sedangkan di 90:4 ia dipakai pada kata kerja yang lain. Jadi tiga ayat di surah ini memakai bentuk yang menyebut diri-Nya.

Ayat ini membuka tiga ayat yang menyebut pemberian, dan ketiganya datang sesudah dua pertanyaan yang membantah sangkaan manusia. Jadi Al-Qur'an membantah lebih dulu dan mengingatkan pemberian belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.

Kata (لَهُ, lahu) memakai kata ganti yang menunjuk manusia di 90:4, sehingga seluruh bagian dari 90:5 sampai 90:10 terikat kepada satu pihak yang disebut sekali saja. Jadi enam ayat berturut-turut berbicara tentang satu orang tanpa menyebut namanya lagi.

Kata (لَهُ, lahu) memakai huruf yang menyatakan bagi, sehingga yang dinyatakan pemberian untuknya, bukan sekadar penciptaan atasnya. Jadi ketiga pemberian di 90:8 sampai 90:10 disebut sebagai milik yang diberikan, dan huruf itu cukup disebut sekali untuk ketiganya.

Bentuk (نَجْعَلْ, naj'al) berasal dari akar yang berarti menjadikan. Akar itu dipakai di 236 ayat, antara lain 2:22, 6:1, 25:47, 78:9, dan 86:5. Di 86:5 akar yang lain dipakai untuk penciptaan, sedangkan akar ini dipakai untuk menjadikan sesuatu berkeadaan tertentu.

Tafsiran

Ayat ini mengingatkan anugerah panca indra yang telah diberikan kepada manusia, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berpasangan ini.

Akarnya dipakai di banyak ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk mata air, antara lain di 88:5 dan 88:12 pada surah yang berdekatan. Jadi satu akar memikul mata yang melihat dan mata air yang memancar, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan.

Bentuk kata terakhirnya berbentuk ganda, yaitu bentuk yang menyatakan tepat dua dan tidak dipakai di dalam bahasa Indonesia. Bentuk ganda itu dipakai lagi di 90:9 dan 90:10, sehingga tiga ayat berturut-turut memuat empat kata berbentuk ganda.

Susunan dua kata pertamanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai juga di 89:6 pada surah tetangga, dan di kedua tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban.

Ayat ini membuka tiga ayat yang menyebut pemberian, dan ketiganya datang sesudah dua pertanyaan yang membantah sangkaan manusia. Jadi Al-Qur'an membantah lebih dulu dan mengingatkan pemberian belakangan.

Kata kerjanya berorang pertama jamak, sehingga yang menjadikan Yang berfirman sendiri. Bentuk berorang pertama itu dipakai lagi di 90:10, sedangkan di 90:4 ia dipakai pada kata kerja yang lain, sehingga tiga ayat di surah ini memakai bentuk yang menyebut diri.

Renungan dan Hikmah

  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk ganda, yaitu bentuk yang menyatakan tepat dua dan tidak dipakai di dalam bahasa Indonesia. Bentuk itu dipakai Allah lagi di 90:9 dan 90:10, sehingga tiga ayat berturut-turut memuat empat kata berbentuk ganda. Pemusatan bentuk ganda sepadat itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya. Empat kata berbentuk ganda di tiga ayat memusatkan satu bentuk tata bahasa pada satu daftar pemberian.
  • Akar kata terakhirnya memberi kata untuk mata air pula, antara lain di 88:5 dan 88:12 pada surah yang berdekatan. Jadi satu akar memikul mata yang melihat dan mata air yang memancar, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Di 88:5 dan 88:12 akar yang sama dipakai Allah untuk dua mata air yang berlawanan sifatnya. Mata yang melihat dan mata air yang memancar berbagi satu akar lewat gambaran sesuatu yang memancarkan. Mengingatkan pemberian sesudah membantah menaruh pengingatnya pada saat pembacanya sudah tergugah.
  • Ayat ini membuka tiga ayat yang menyebut pemberian, dan ketiganya datang sesudah dua pertanyaan yang membantah sangkaan manusia. Jadi Allah membantah lebih dulu dan mengingatkan pemberian belakangan. Apa yang lebih menggerakkan seseorang yang menyangka dirinya tak terlihat: dibantah, atau diingatkan bahwa matanya sendiri pemberian? Membantah lebih dulu lalu mengingatkan pemberian menaruh pengingatnya pada saat pembacanya sudah tergugah.
  • Susunan dua kata pertamanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai Allah juga di 89:6 pada surah tetangga, dan di kedua tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban dari siapa pun yang membacanya. Bertanya untuk menegaskan tidak menunggu jawaban, dan bentuk itu berulang di surah-surah yang berdekatan. Empat bentuk ganda di tiga ayat memusatkan satu bentuk tata bahasa pada satu daftar pemberian.
  • Kata kerjanya berorang pertama jamak, sehingga yang menjadikan Allah sendiri. Bentuk berorang pertama itu dipakai lagi di 90:10, sedangkan di 90:4 ia dipakai pada kata kerja yang lain. Jadi tiga ayat di surah ini memakai bentuk yang menyebut diri-Nya, dan ketiganya menyangkut apa yang diberikan kepada manusia. Menyebut diri pada kata kerja pemberian menaruh Yang memberi di dalam kalimatnya, bukan di luar cerita. Empat bentuk ganda di tiga ayat memusatkan satu bentuk tata bahasa pada satu daftar pemberian.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk manusia di 90:4, sehingga seluruh bagian dari 90:5 sampai 90:10 terikat kepada satu pihak yang disebut sekali saja. Jadi enam ayat berturut-turut berbicara tentang satu orang tanpa Allah menyebut namanya lagi, dan pengikatan itu dikerjakan kata ganti belaka. Kata ganti yang mengikat enam ayat kepada satu penyebutan menghemat kata tanpa mengurangi kejelasannya. Mengingatkan pemberian sesudah membantah menaruh pengingatnya pada saat pembacanya sudah tergugah.