فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

Namun dia tidak menempuh jalan yang mendaki,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَfa-laa qtahama l-'aqabatanamun dia tidak menempuh jalan yang mendaki

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka tidak
  2. اقْتَحَمَqtahamamenempuh
  3. الْعَقَبَةَl-'aqabatajalan mendaki

Inti bacaan

Kegagalan mengambil jalan yang lebih sulit: 'namun dia tidak menempuh jalan yang mendaki', pengakuan bahwa banyak orang menghindari jalan yang menuntut usaha lebih meski itu adalah jalan yang benar.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (اقْتَحَمَ, iqtahama) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menerjang jalan mendaki. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 38:59 dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Di 38:59 akar itu dipakai untuk rombongan yang menerobos masuk bersama-sama ke dalam api. Jadi akar yang sama menyebut menerobos masuk ke dalam api dan menempuh jalan yang mendaki, dan yang menyatukannya gambaran memaksa diri masuk ke tempat yang berat. Kata (اقْتَحَمَ, iqtahama) di sini berpelaku manusia, bukan rombongan seperti di 38:59.

Kata (الْعَقَبَةَ, al-'aqabata) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris fathah ini. Akarnya berarti tumit dan yang menyusul di belakang. Ia dipakai di 74 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk akibat dan untuk yang datang belakangan, antara lain di 7:84, 13:22, dan 91:15.

Kesejajaran dengan 91:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut akibat yang tidak ditakuti. Jadi akar yang menamai jalan mendaki di sini juga menamai akibat yang menyusul sebuah perbuatan, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang datang di belakang. Kata (الْعَقَبَةَ, al-'aqabata) menjadi objeknya, dan keduanya berdiri di satu kalimat.

Akar (الْعَقَبَةَ, al-'aqabata) muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 90:12. Jadi kata yang sama diulang di dua ayat berturut-turut, dan yang berbeda cuma barisnya: yang di sini berbaris fathah karena menjadi objek, dan yang di sana berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat.

Susunan (فَلَا اقْتَحَمَ, fa laa iqtahama) memakai huruf pengingkaran yang berdiri di depan bentuk lampau, dan susunan itu bisa dibaca sebagai berita bahwa ia tidak menempuhnya atau sebagai dorongan supaya ia menempuhnya. Al-Qur'an membiarkan kedua pembacaan itu terbuka tanpa menutup salah satunya.

Huruf fa di awal ayat menyambungkan ayat ini kepada tiga ayat pemberian sebelumnya, sehingga tidak menempuhnya itu dinyatakan sesudah seluruh pemberian disebut. Jadi Al-Qur'an menyebut apa yang diberikan lebih dulu dan apa yang tidak dikerjakan belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan.

Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 90:17, yaitu tujuh ayat yang seluruhnya menyangkut satu perkara. Jadi lebih dari sepertiga surah ini diberikan kepada satu jalan yang dinamai sekali dan dirinci selama empat ayat berikutnya.

Kata (الْعَقَبَةَ, al-'aqabata) bertakrif, sehingga yang disebut jalan mendaki yang sudah tertentu, bukan sembarang jalan yang sulit. Tetapi apa persisnya belum diterangkan di ayat ini, dan keterangannya baru datang di 90:13. Jadi namanya disebut lebih dulu dan isinya belakangan.

Bentuk (اقْتَحَمَ, iqtahama) berpola kedelapan, sehingga artinya memasukkan diri sendiri ke dalam sesuatu dengan susah payah. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang memaksanya masuk atau menahannya di luar.

Kata (الْعَقَبَةَ, al-'aqabata) berbaris fathah karena menjadi objek, sedangkan bentuknya di 90:12 berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi dua ayat berturut-turut memuat satu kata dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah.

Tafsiran

Ayat ini menyayangkan bahwa manusia enggan menempuh jalan yang sulit namun benar, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 38:59 dan ayat ini.

Di 38:59 akar itu dipakai untuk rombongan yang menerobos masuk bersama-sama ke dalam api. Jadi akar yang sama menyebut menerobos masuk ke dalam api dan menempuh jalan yang mendaki, dan yang menyatukannya gambaran memaksa diri masuk ke tempat yang berat.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris fathah ini. Akarnya dipakai di 74 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk akibat dan untuk yang datang belakangan, antara lain di 7:84, 13:22, dan 91:15.

Susunan pengingkarannya berdiri di depan bentuk lampau, dan susunan itu bisa dibaca sebagai berita bahwa ia tidak menempuhnya atau sebagai dorongan supaya ia menempuhnya. Al-Qur'an membiarkan kedua pembacaan itu terbuka tanpa menutup salah satunya.

Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 90:17, yaitu tujuh ayat yang seluruhnya menyangkut satu perkara. Jadi lebih dari sepertiga surah ini diberikan kepada satu jalan yang dinamai sekali dan dirinci selama empat ayat berikutnya.

Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut jalan mendaki yang sudah tertentu, bukan sembarang jalan yang sulit. Tetapi apa persisnya belum diterangkan di ayat ini, dan keterangannya baru datang di 90:13, sehingga namanya disebut lebih dulu dan isinya belakangan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 38:59 dan 90:11. Di 38:59 akar itu dipakai Allah untuk rombongan yang menerobos masuk bersama-sama ke dalam api. Jadi akar yang sama menyebut menerobos masuk ke dalam api dan menempuh jalan yang mendaki, dan yang menyatukannya gambaran memaksa diri masuk ke tempat yang berat. Menerobos masuk ke dalam api dan menempuh jalan mendaki berbagi satu akar yang cuma hidup di dua ayat.
  • Akar kata terakhirnya dipakai di 74 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk akibat dan untuk yang datang belakangan, antara lain di 7:84, 13:22, dan 91:15. Kesejajaran dengan 91:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut akibat yang tidak ditakuti. Jadi jalan mendaki dan akibat yang menyusul perbuatan berbagi satu akar. Jalan mendaki dan akibat yang menyusul perbuatan berbagi satu akar, dan keduanya sama-sama datang belakangan.
  • Susunan pengingkarannya berdiri di depan bentuk lampau, dan susunan itu bisa dibaca sebagai berita bahwa ia tidak menempuhnya atau sebagai dorongan supaya ia menempuhnya. Allah membiarkan kedua pembacaan itu terbuka tanpa menutup salah satunya. Apa yang berubah pada sebuah kalimat ketika ia bisa dibaca sebagai laporan sekaligus sebagai ajakan? Kalimat yang bisa dibaca sebagai laporan sekaligus ajakan menuntut pembacanya menimbang kedua-duanya.
  • Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 90:17, yaitu tujuh ayat yang seluruhnya menyangkut satu perkara. Jadi lebih dari sepertiga surah ini diberikan Allah kepada satu jalan yang dinamai sekali dan dirinci selama empat ayat berikutnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu. Sepertiga surah yang diberikan kepada satu perkara menyatakan bobotnya tanpa satu kalimat yang menerangkannya. Menerobos ke dalam api dan mendaki jalan yang berat berbagi satu akar yang cuma di dua tempat.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut jalan mendaki yang sudah tertentu, bukan sembarang jalan yang sulit. Tetapi apa persisnya belum diterangkan Allah di ayat ini, dan keterangannya baru datang di 90:13. Jadi namanya disebut lebih dulu dan isinya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya. Menunda isi sesudah menyebut nama menahan perhatian pembacanya pada namanya selama dua ayat penuh. Kalimat yang bisa dibaca dua arah menuntut pembacanya menimbang keduanya, bukan memilih satu.
  • Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada tiga ayat pemberian sebelumnya, sehingga tidak menempuhnya itu dinyatakan sesudah seluruh pemberian Allah disebut. Jadi Al-Qur'an menyebut apa yang diberikan lebih dulu dan apa yang tidak dikerjakan belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Menyebut pemberian lebih dulu dan kelalaian belakangan membuat kelalaian itu terbaca sebagai kurang berterima kasih. Menerobos ke dalam api dan mendaki jalan yang berat berbagi satu akar yang cuma di dua tempat.