وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

Dan tahukah engkau apakah jalan mendaki itu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُwa-maa adraaka maa l-'aqabatudan tahukah engkau apakah jalan mendaki itu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
  3. مَاmaaapakah
  4. الْعَقَبَةُl-'aqabatujalan mendaki

Inti bacaan

Pertanyaan yang membangun antisipasi: 'dan tahukah engkau apakah jalan mendaki itu?', teknik retoris yang mempersiapkan penjelasan konkret tentang apa yang dimaksud dengan jalan sulit tersebut.

Penjelasan pilihan kata

Kata "itu" di dalam terjemahan mengikuti pola formula baku (وَمَا أَدْرَاكَ, wa maa adraaka) yang diikuti pengulangan nama yang sedang dibicarakan, bandingkan dengan 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, dan 86:2. Rangkaian itu dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5.

Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau. Perbedaannya menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Kata (الْعَقَبَةُ, al-'aqabatu) di sini berbaris dammah, berbeda dari bentuknya di 90:11.

Kata (الْعَقَبَةُ, al-'aqabatu) diulang utuh dari 90:11, bukan diganti kata ganti. Yang berbeda cuma barisnya: yang di sana berbaris fathah karena menjadi objek, dan yang di sini berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi sebagai kata ia disebut dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali.

Pengulangan utuh itu memang bagian dari formulanya. Pola yang sama dipakai di 101:3 dan 104:5, sedangkan 101:10 justru memakai kata ganti. Jadi Al-Qur'an memakai kedua cara itu, dan yang di sini menahan perhatian pada nama yang baru disebut satu ayat sebelumnya.

Yang khas di sini adalah bahwa jawabannya datang tepat di ayat berikutnya, dan cuma dua kata. Bandingkan dengan 86:2 yang jawabannya juga datang di ayat berikutnya, dan dengan 97:2 yang jawabannya datang di 97:3. Jadi penundaannya di sini termasuk yang paling pendek.

Kesejajaran dengan 86:2 patut dicatat, sebab di sana pun rangkaian yang sama dipakai untuk nama yang baru disebut di ayat sebelumnya. Jadi dua surah di juz ini memakai susunan yang sama persis: nama disebut, formula ditanyakan, lalu jawaban datang di ayat berikutnya.

Ayat ini tidak menambahkan satu keterangan pun tentang jalan itu, dan seluruh isinya cuma pertanyaan. Jadi Al-Qur'an menyisipkan satu ayat penuh yang tidak memuat keterangan baru, dan yang dikerjakannya cuma menahan pembacanya sejenak sebelum jawabannya tiba.

Rangkaian (وَمَا أَدْرَاكَ, wa maa adraaka) menyapa orang kedua tunggal, sedangkan ayat-ayat di sekitarnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi ayat ini satu-satunya di bagian ini yang menyapa langsung, dan sapaan itu berhenti sesudah satu ayat saja.

Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat berbeda kedudukannya dari kata yang sama di tengah ayat, sebab yang pertama kata tanya dan yang kedua kata sambung. Jadi satu bentuk yang sama persis berdiri dua kali di dalam satu ayat pendek dengan dua kedudukan yang berlainan.

Bentuk (الْعَقَبَةُ, al-'aqabatu) berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat, dan ia kata terakhir di dalam ayatnya. Jadi ayat ini dibuka dan ditutup oleh dua kata yang keduanya sudah muncul sebelumnya: yang pertama di formula baku, dan yang kedua di 90:11.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan pentingnya jalan mendaki tersebut yang segera dirinci, dan formulanya dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5.

Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau. Perbedaannya menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum.

Kata terakhirnya diulang utuh dari 90:11, bukan diganti kata ganti, dan yang berbeda cuma barisnya. Jadi sebagai kata ia disebut dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar.

Kesejajaran dengan 86:2 patut dicatat, sebab di sana pun rangkaian yang sama dipakai untuk nama yang baru disebut di ayat sebelumnya. Jadi dua surah di juz ini memakai susunan yang sama persis.

Ayat ini tidak menambahkan satu keterangan pun tentang jalan itu, dan seluruh isinya cuma pertanyaan. Jadi Al-Qur'an menyisipkan satu ayat penuh yang tidak memuat keterangan baru, dan yang dikerjakannya cuma menahan pembacanya sejenak sebelum jawabannya tiba.

Rangkaian pertamanya menyapa orang kedua tunggal, sedangkan ayat-ayat di sekitarnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi ayat ini satu-satunya di bagian ini yang menyapa langsung, dan sapaan itu berhenti sesudah satu ayat saja.

Renungan dan Hikmah

  • Formula di ayat ini dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5. Jadi ayat ini salah satu dari sederet ayat yang memakai rangka yang sama, dan di semua kemunculannya Allah memakainya untuk menandai sesuatu yang tidak terjangkau pengetahuan pembacanya. Formula yang berulang di sepuluh surah menandai keluarga bentuk, dan tiap anggotanya menandai yang tak terjangkau.
  • Kata terakhirnya diulang utuh dari 90:11, dan yang berbeda cuma barisnya: yang di sana berbaris fathah karena menjadi objek, dan yang di sini berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi sebagai kata ia disebut dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar. Angka kata dan angka bentuk memberi dua hitungan, dan keduanya benar selama disebutkan yang mana yang dihitung. Angka kata dan angka bentuk memberi dua hitungan yang sama-sama benar bila disebutkan yang mana.
  • Kesejajaran dengan 86:2 patut dicatat, sebab di sana pun rangkaian yang sama dipakai Allah untuk nama yang baru disebut di ayat sebelumnya. Jadi dua surah di juz ini memakai susunan yang sama persis: nama disebut, formula ditanyakan, lalu jawaban datang di ayat berikutnya tanpa jeda. Dua surah yang memakai susunan sama persis berdiri sejajar tanpa satu kalimat yang menghubungkan keduanya. Ayat yang tidak menambah keterangan tetap mengerjakan sesuatu, yaitu menahan langkah pembacanya.
  • Ayat ini tidak menambahkan satu keterangan pun tentang jalan itu, dan seluruh isinya cuma pertanyaan. Jadi Allah menyisipkan satu ayat penuh yang tidak memuat keterangan baru. Apa yang dikerjakan sebuah ayat pada pembacanya ketika ia cuma menahan langkahnya sejenak tanpa memberi tambahan apa pun? Ayat yang tidak menambah keterangan tetap mengerjakan sesuatu, yaitu menahan langkah pembacanya sejenak. Angka kata dan angka bentuk memberi dua hitungan yang sama-sama benar bila disebutkan yang mana.
  • Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau. Perbedaannya menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Jadi yang ditanya Allah tidak sedang diuji melainkan diberi tahu bahwa ia belum punya bahan menjawab. Menyatakan seseorang belum punya bahan menjawab berbeda dari menyalahkannya karena tidak tahu.
  • Rangkaian pertamanya menyapa orang kedua tunggal, sedangkan ayat-ayat di sekitarnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi ayat ini satu-satunya di bagian ini yang menyapa langsung, dan sapaan itu berhenti sesudah satu ayat saja. Allah menarik pembacanya masuk sejenak lalu melepaskannya kembali ke gambaran. Sapaan yang cuma berlangsung satu ayat menarik pembacanya masuk lalu melepaskannya kembali ke gambaran. Ayat yang tidak menambah keterangan tetap mengerjakan sesuatu, yaitu menahan langkah pembacanya.