Ayat 90:13
فَكُّ رَقَبَةٍ
Membebaskan budak,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَكُّ رَقَبَةٍfakku raqabatinmembebaskan budak
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَكُّfakkumelepaskan
- رَقَبَةٍraqabatinbudak
Inti bacaan
Definisi konkret pertama jalan mendaki: '(yaitu) membebaskan budak', tindakan nyata pembebasan dari perbudakan sebagai contoh utama perbuatan yang menuntut pengorbanan dan keberanian moral. Mulai baris ini surahnya berhenti menyanggah dan mulai menyebutkan isi, satu demi satu, sampai empat baris berikutnya habis.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Yaitu)" tidak dipakai. Rangkaian (فَكُّ رَقَبَةٍ, fakku raqabatin) fragmen apositif yang menjawab pertanyaan di 90:12, dan menambahkan kata pembuka akan melonggarkan hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis.
Rangkaian (فَكُّ رَقَبَةٍ, fakku raqabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya berarti melepaskan ikatan. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan 98:1, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Di 98:1 akar itu dipakai untuk orang-orang yang tidak akan terlepas dari keadaannya sampai bukti yang nyata datang kepada mereka. Jadi akar yang sama menyebut terlepasnya seseorang dari keadaan yang mengikatnya dan terlepasnya budak dari perbudakan. Kata (فَكُّ, fakku) di sini kata benda, bukan kata kerja yang menyebut peristiwa.
Kata (رَقَبَةٍ, raqabatin) berasal dari akar yang berarti mengawasi. Akar itu cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 2:177, 4:92, 5:89, 9:60, dan 58:3. Di 2:177, 4:92, 5:89, dan 58:3 akar itu dipakai di dalam pembicaraan tentang membebaskan budak sebagai penebus atau sebagai kebajikan.
Akar yang sama juga memberi kata untuk mengawasi dan menunggu, antara lain di 9:8 dan 20:94. Jadi satu akar memikul leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang diikat atau dijaga supaya tidak lepas. Kata (رَقَبَةٍ, raqabatin) disandarkan kepadanya, dan keduanya satu satuan.
Kesejajaran dengan 2:177 patut dicatat, sebab di sana membebaskan budak disebut berdampingan dengan memberi harta kepada anak yatim dan orang miskin, sama seperti susunan di 90:13 sampai 90:16. Jadi dua tempat memakai daftar yang berdekatan isinya.
Kata (رَقَبَةٍ, raqabatin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang budak, bukan budak tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal yang tertulis menyebut jenis perbuatannya.
Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu ayat terpendek di dalam surah ini. Jadi jawaban atas pertanyaan yang menyatakan ketidakterjangkauan ternyata sependek dua kata, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu keterangan pun tentang bagaimana atau kapan perbuatan itu dikerjakan. Bentuk (رَقَبَةٍ, raqabatin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.
Bentuk (فَكُّ, fakku) kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi jawaban atas pertanyaan di 90:12 berupa nama perbuatan, bukan cerita tentang seseorang yang mengerjakannya.
Kata (رَقَبَةٍ, raqabatin) berbaris kasrah karena disandarkan kepada kata di depannya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi dua kata di ayat ini tidak bisa dipisahkan, dan itulah sebab ayat terpendek di surah ini tetap utuh maknanya.
Tafsiran
Ayat ini merinci jalan mendaki tersebut: membebaskan seseorang dari perbudakan, dan rangkaiannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan 98:1.
Di 98:1 akar itu dipakai untuk orang-orang yang tidak akan terlepas dari keadaannya sampai bukti yang nyata datang kepada mereka. Jadi akar yang sama menyebut terlepasnya seseorang dari keadaan yang mengikatnya dan terlepasnya budak dari perbudakan.
Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 2:177, 4:92, 5:89, 9:60, dan 58:3. Di 2:177, 4:92, 5:89, dan 58:3 akar itu dipakai di dalam pembicaraan tentang membebaskan budak sebagai penebus atau sebagai kebajikan.
Akar yang sama juga memberi kata untuk mengawasi dan menunggu, antara lain di 9:8 dan 20:94. Jadi satu akar memikul leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang diikat atau dijaga supaya tidak lepas.
Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu ayat terpendek di dalam surah ini. Jadi jawaban atas pertanyaan yang menyatakan ketidakterjangkauan ternyata sependek dua kata.
Kesejajaran dengan 2:177 patut dicatat, sebab di sana membebaskan budak disebut berdampingan dengan memberi harta kepada anak yatim dan orang miskin, sama seperti susunan di 90:13 sampai 90:16. Jadi dua tempat memakai daftar yang berdekatan isinya.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akar kata pertamanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan 98:1. Di 98:1 akar itu dipakai Allah untuk orang-orang yang tidak akan terlepas dari keadaannya sampai bukti yang nyata datang. Jadi akar yang sama menyebut terlepasnya seseorang dari keadaan yang mengikatnya dan terlepasnya budak dari perbudakan. Akar yang menyebut terlepasnya seseorang dari keadaan dan terlepasnya budak berbagi satu gambaran.
- Akar kata keduanya cuma dipakai di 20 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk mengawasi dan menunggu, antara lain di 9:8 dan 20:94. Jadi satu akar memikul leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang diikat atau dijaga supaya tidak lepas dari genggaman. Leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan berbagi satu akar lewat gambaran sesuatu yang diikat. Menaruh pembebasan manusia paling depan menempatkan hubungan antarmanusia sebelum yang lain.
- Kesejajaran dengan 2:177 patut dicatat, sebab di sana membebaskan budak disebut Allah berdampingan dengan memberi harta kepada anak yatim dan orang miskin, sama seperti susunan di 90:13 sampai 90:16. Jadi dua tempat memakai daftar yang berdekatan isinya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua tempat yang memakai daftar berdekatan isinya berdiri sejajar tanpa satu kalimat yang menghubungkan. Leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan berbagi satu akar lewat gambaran sesuatu yang diikat.
- Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu ayat terpendek di dalam surah ini. Jadi jawaban atas pertanyaan yang menyatakan ketidakterjangkauan ternyata sependek dua kata, dan Allah tidak menambahkan satu keterangan pun tentang bagaimana atau kapan perbuatan itu dikerjakan. Jawaban sependek dua kata menuntut pembacanya menimbang tiap katanya, sebab tidak ada penyangga di dalamnya. Leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan berbagi satu akar lewat gambaran sesuatu yang diikat.
- Kata keduanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang budak, bukan budak tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal yang tertulis menyebut jenis perbuatannya yang berlaku bagi siapa pun. Menyebut jenis perbuatan alih-alih satu peristiwa menjaga ayatnya berlaku bagi siapa pun yang membacanya. Menaruh pembebasan manusia paling depan menempatkan hubungan antarmanusia sebelum yang lain.
- Yang disebut Allah pertama sebagai isi jalan mendaki bukan ibadah dan bukan pengakuan melainkan membebaskan seorang manusia dari genggaman manusia lain. Apa yang membuat perbuatan itu ditaruh paling depan, mendahului memberi makan yang disebut di 90:14 dan mendahului iman yang disebut di 90:17? Menaruh pembebasan manusia paling depan menempatkan hubungan antarmanusia sebelum hubungan lain mana pun. Leher, budak yang dibebaskan, dan pengawasan berbagi satu akar lewat gambaran sesuatu yang diikat.
Ayat 90:14
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
Atau memberi makan pada hari kelaparan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍaw ith'aamun fii yawmin dzii masghabatinatau memberi makan pada hari kelaparan
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَوْawatau
- إِطْعَامٌith'aamunmemberi makan
- فِيfiipada
- يَوْمٍyawminhari
- ذِيdziipemilik
- مَسْغَبَةٍmasghabatinkelaparan
Inti bacaan
Definisi kedua yang kontekstual: 'atau memberi makan pada hari kelaparan', kedermawanan yang diuji justru pada saat sumber daya paling langka dan berharga, bukan saat berlimpah.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti lapar. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat.
Empat hapax akar surah ini berada di 90:4, 90:9, 90:10, dan ayat ini. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan tidak ada surah lain di sekitarnya yang memuat sebanyak itu. Kata (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) berdiri sendirian tanpa satu pun bentuk lain yang seakar.
Bentuk (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) berpola tempat atau keadaan, dan bunyi ujungnya sama dengan bunyi ujung kata terakhir di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut ditutup dengan tiga kata langka yang berpola sama dan berbunyi sama.
Kata (إِطْعَامٌ, ith'aamun) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin.
Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dikerjakan sedangkan yang di sini disebut sebagai isi jalan yang mendaki. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Bentuk (إِطْعَامٌ, ith'aamun) kata benda, bukan kata kerja, sama seperti bentuk kata pertama di 90:13. Jadi dua isi jalan mendaki yang pertama disebut sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang.
Susunan (فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ, fii yaumin dzii masghabatin) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu.
Bentuk (إِطْعَامٌ, ith'aamun) berpola keempat, sehingga artinya membuat seseorang makan, bukan makan sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan atas orang lain, dan itu sejalan dengan seluruh rincian di 90:13 sampai 90:16 yang menyangkut orang lain.
Kata (يَوْمٍ, yaumin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut hari mana pun yang berkeadaan begitu, bukan satu hari tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan satu peristiwa melainkan keadaan yang bisa berulang kapan saja.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian jalan mendaki: memberi makan pada masa sulit, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Empat hapax akar surah ini berada di 90:4, 90:9, 90:10, dan ayat ini.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin.
Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dikerjakan sedangkan yang di sini disebut sebagai isi jalan yang mendaki.
Susunan keterangan waktunya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu.
Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 90:4, 90:9, dan 90:10. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat akar yang tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun berkumpul di satu surah dua puluh ayat. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran di hadapan Allah. Dua surah berurutan yang menyebut memberi makan sebagai ukuran berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Susunan keterangan waktunya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu. Allah tidak menerangkan pengulangan rangka itu dengan satu kalimat pun. Rangka kepemilikan yang berulang tiga kali mengikat ketiga ayat menjadi satu rincian yang tidak terpecah. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus.
- Bentuk kata keduanya kata benda, bukan kata kerja, sama seperti bentuk kata pertama di 90:13. Jadi dua isi jalan mendaki yang pertama disebut Allah sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab keduanya menyatakan hal yang berlainan. Menyebut perkara alih-alih peristiwa menjaga ayatnya tidak terikat pada satu kejadian yang sudah lewat. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai Allah lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang yang tidak wajib dikerjakan bersama-sama. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus tanpa kecuali. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Bentuk kata terakhirnya berpola tempat atau keadaan, dan bunyi ujungnya sama dengan bunyi ujung kata terakhir di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut ditutup dengan tiga kata langka yang berpola sama dan berbunyi sama. Apa yang dikerjakan tiga kata yang jarang terdengar ketika ketiganya dijajarkan pada bunyi yang sama? Tiga kata langka yang dijajarkan pada bunyi yang sama membuat bagian itu terdengar berbeda dari sekitarnya.
Ayat 90:15
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
Kepada anak yatim yang masih kerabat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍyatiiman dzaa maqrabatinkepada anak yatim yang masih kerabat
Terjemahan per kata (3 kata)
- يَتِيمًاyatiimananak yatim
- ذَاdzaayang
- مَقْرَبَةٍmaqrabatinkekerabatan
Inti bacaan
Prioritas dalam memberi bantuan: 'kepada anak yatim yang masih kerabat', penekanan mendahulukan yang terdekat sekaligus paling rentan, kombinasi kedekatan hubungan dan kebutuhan mendesak.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَقْرَبَةٍ, maqrabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti dekat. Ia dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7. Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai untuk kerabat yang berhak menerima pemberian.
Jadi akar yang di beberapa tempat menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim. Al-Qur'an tidak menghubungkan tempat-tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (مَقْرَبَةٍ, maqrabatin) di sini menyifati anak yatim, bukan menyebut kerabat sebagai penerima.
Kata (يَتِيمًا, yatiiman) berasal dari akar yang berarti sendirian tanpa ayah. Akar itu cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim.
Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut anak yatim sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dimuliakan sedangkan yang di sini disebut sebagai penerima pemberian. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (يَتِيمًا, yatiiman) tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif, dan yang di sini menyebut jenisnya tanpa menunjuk yang sudah dikenal.
Bentuk (ذَا مَقْرَبَةٍ, dzaa maqrabatin) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya.
Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.
Yang disebut di ayat ini bukan anak yatim mana pun melainkan yang masih berhubungan kerabat. Jadi Al-Qur'an mempersempit penerimanya justru pada saat merinci jalan yang mendaki, dan penyempitan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun di dalam surahnya.
Bentuk (يَتِيمًا, yatiiman) berbaris fathah karena menjadi objek bagi kata benda di 90:14, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa kata kerja.
Kata (ذَا, dzaa) berbaris fathah mengikuti kata bendanya, sedangkan bentuk yang sama di 90:14 berbaris kasrah. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua baris yang berbeda karena kedudukannya berlainan.
Tafsiran
Ayat ini merinci penerima pemberian makan tersebut: anak yatim kerabat sendiri, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7.
Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai untuk kerabat yang berhak menerima pemberian. Jadi akar yang di beberapa tempat menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim.
Kata pertamanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim.
Kata pertamanya juga tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif.
Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.
Bentuk keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7. Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai Allah untuk kerabat yang berhak menerima pemberian. Jadi akar yang menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim. Akar yang menyebut kerabat sebagai penerima hak dipakai untuk menerangkan kedekatan hubungan si penerima.
- Kata pertamanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut anak yatim sebagai ukuran di hadapan Allah. Dua surah berurutan yang menyebut anak yatim sebagai ukuran berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
- Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai Allah di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif, dan yang di sini menyebut jenisnya tanpa menunjuk yang sudah dikenal siapa pun. Empat surah yang memakai dua cara penakrifan menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi tidak lengkap kalau dibaca sendiri-sendiri.
- Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Allah tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun. Keduanya harus dibaca bersama, sebab masing-masing sendirian tidak lengkap. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi harus dibaca bersama, sebab masing-masing tidak lengkap. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
- Yang disebut di ayat ini bukan anak yatim mana pun melainkan yang masih berhubungan kerabat. Jadi Allah mempersempit penerimanya justru pada saat merinci jalan yang mendaki. Apa yang membuat memberi kepada kerabat sendiri lebih berat daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal? Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal siapa pun. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
- Bentuk keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya. Kesejajaran itu mengikat ketiga ayat menjadi satu rincian yang tidak bisa dipecah. Rangka yang berulang tiga kali menandai ketiganya sebagai satu rincian, bukan tiga keterangan terpisah. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi tidak lengkap kalau dibaca sendiri-sendiri.
Ayat 90:16
أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
Atau orang miskin yang berkubang debu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍaw miskiinan dzaa matrabatinatau orang miskin yang berkubang debu
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَوْawatau
- مِسْكِينًاmiskiinanorang miskin
- ذَاdzaayang
- مَتْرَبَةٍmatrabatinkemiskinan
Inti bacaan
Perluasan penerima bantuan: 'atau orang miskin yang berkubang debu (papa)', deskripsi kemiskinan ekstrem yang menegaskan tingkat keparahan kondisi yang perlu direspons dengan kepedulian nyata.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(papa)" tidak dipakai. Kata (مَتْرَبَةٍ, matrabatin) berdiri sendiri sebagai keterangan bagi orang miskin, dan menambahkan kata sifat yang menerangkan keadaannya akan menumpuk keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya.
Kata (مَتْرَبَةٍ, matrabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti tanah dan debu. Ia cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 3:59, 18:37, 22:5, 78:40, dan 86:7. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk tanah atau debu.
Kesejajaran dengan 86:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut tulang dada, bukan tanah. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah dipakai untuk bagian tubuh di satu surah dan untuk keadaan orang miskin di surah ini, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (مَتْرَبَةٍ, matrabatin) di sini menyifati orang miskin, bukan menyebut tanah.
Di 3:59 dan 22:5 akar itu dipakai untuk tanah sebagai asal penciptaan manusia, dan di 78:40 untuk orang kafir yang berharap menjadi tanah. Jadi akar yang sama menyebut asal manusia, harapan yang paling putus asa, dan keadaan orang yang paling papa. Kata (مِسْكِينًا, miskiinan) mendahuluinya, dan keduanya terikat sebagai satu satuan.
Kata (مِسْكِينًا, miskiinan) berasal dari akar yang berarti diam dan tenang. Akar itu dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai kata seakar di dalam teguran.
Kata (مِسْكِينًا, miskiinan) tidak bertakrif, sama seperti kata pertama di 90:15 dan berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai di 69:34, 89:18, dan 107:3. Jadi tiga surah memakai bentuk bertakrif dan surah ini memakai bentuk tak bertakrif.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sama seperti huruf di awal 90:14. Jadi dua huruf pilihan di surah ini membagi rinciannya menjadi cabang-cabang, dan yang di sini membagi antara anak yatim yang kerabat dan orang miskin yang berdebu.
Ayat ini menutup rincian penerima pemberian, dan sesudahnya 90:17 menambahkan syarat yang bukan lagi tentang harta. Jadi Al-Qur'an merinci perbuatan lebih dulu dan menyebut iman belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun di dalam surahnya.
Bentuk (مِسْكِينًا, miskiinan) berbaris fathah, sama seperti kata pertama di 90:15. Jadi dua penerima pemberian disebut dengan baris yang sama, dan keduanya menjadi objek bagi satu kata benda yang disebut sekali saja di 90:14.
Kata (ذَا, dzaa) diulang dari 90:15, sehingga ia muncul dua kali di dua ayat berturut-turut. Jadi dua penerima pemberian sama-sama diterangkan dengan rangka kepemilikan yang sama, dan yang berbeda cuma apa yang dimiliki keduanya.
Tafsiran
Ayat ini menutup rincian penerima pemberian dengan orang miskin yang hidup dalam kesengsaraan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 3:59, 18:37, 22:5, 78:40, dan 86:7.
Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk tanah atau debu. Kesejajaran dengan 86:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut tulang dada, bukan tanah.
Di 3:59 dan 22:5 akar itu dipakai untuk tanah sebagai asal penciptaan manusia, dan di 78:40 untuk orang kafir yang berharap menjadi tanah. Jadi akar yang sama menyebut asal manusia, harapan yang paling putus asa, dan keadaan orang yang paling papa.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu memakai kata seakar di dalam teguran.
Ayat ini menutup rincian penerima pemberian, dan sesudahnya 90:17 menambahkan syarat yang bukan lagi tentang harta. Jadi Al-Qur'an merinci perbuatan lebih dulu dan menyebut iman belakangan.
Kata pertamanya huruf pilihan, sama seperti huruf di awal 90:14. Jadi dua huruf pilihan di surah ini membagi rinciannya menjadi cabang-cabang, dan yang di sini membagi antara anak yatim yang kerabat dan orang miskin yang berdebu.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 3:59, 18:37, 22:5, 78:40, dan 86:7. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk tanah atau debu. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah, di sini dipakai Allah untuk keadaan orang yang paling papa. Akar yang hampir selalu menyebut tanah dipakai untuk keadaan orang yang paling papa tanpa satu keterangan. Merinci perbuatan sebelum menyebut kepercayaan membalik urutan yang biasa dipakai orang.
- Di 3:59 dan 22:5 akar kata terakhirnya dipakai untuk tanah sebagai asal penciptaan manusia oleh Allah, dan di 78:40 untuk orang kafir yang berharap menjadi tanah. Jadi akar yang sama menyebut asal manusia, harapan yang paling putus asa, dan keadaan orang yang paling papa di dunia. Asal manusia, harapan yang paling putus asa, dan kepapaan berbagi satu akar yang jarang dipakai. Asal manusia dan kepapaan yang paling dalam berbagi satu akar yang jarang dipakai.
- Kesejajaran dengan 86:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut tulang dada, bukan tanah. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah dipakai Allah untuk bagian tubuh di satu surah dan untuk keadaan orang miskin di surah ini, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah yang memakai satu akar untuk dua hal berjauhan berdiri sejajar tanpa satu kalimat penghubung. Merinci perbuatan sebelum menyebut kepercayaan membalik urutan yang biasa dipakai orang.
- Kata pertamanya huruf pilihan, sama seperti huruf di awal 90:14. Jadi dua huruf pilihan di surah ini membagi rincian Allah menjadi cabang-cabang, dan yang di sini membagi antara anak yatim yang kerabat dan orang miskin yang berdebu. Jadi yang dituntut bukan seluruhnya sekaligus melainkan salah satunya. Dua huruf pilihan yang membagi daftar menjadi cabang menyatakan bahwa yang dituntut bukan seluruhnya. Merinci perbuatan sebelum menyebut kepercayaan membalik urutan yang biasa dipakai orang.
- Kata keduanya tidak bertakrif, sama seperti kata pertama di 90:15 dan berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai Allah di 69:34, 89:18, dan 107:3. Jadi tiga surah memakai bentuk bertakrif dan surah ini memakai bentuk tak bertakrif, sehingga yang di sini menyebut jenisnya, bukan yang sudah dikenal. Penakrifan yang berbeda di empat surah menandai bahwa yang dipilih tiap kali sesuai kedudukannya di kalimat. Asal manusia dan kepapaan yang paling dalam berbagi satu akar yang jarang dipakai.
- Ayat ini menutup rincian penerima pemberian, dan sesudahnya 90:17 menambahkan syarat yang bukan lagi tentang harta. Jadi Allah merinci perbuatan lebih dulu dan menyebut iman belakangan. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika perbuatan disebut empat ayat lebih dulu daripada kepercayaan yang mendasarinya? Merinci perbuatan sebelum menyebut kepercayaan membalik urutan yang biasa dipakai orang menyusun syarat. Asal manusia dan kepapaan yang paling dalam berbagi satu akar yang jarang dipakai.