أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
Atau memberi makan pada hari kelaparan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍaw ith'aamun fii yawmin dzii masghabatinatau memberi makan pada hari kelaparan
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَوْawatau
- إِطْعَامٌith'aamunmemberi makan
- فِيfiipada
- يَوْمٍyawminhari
- ذِيdziipemilik
- مَسْغَبَةٍmasghabatinkelaparan
Inti bacaan
Definisi kedua yang kontekstual: 'atau memberi makan pada hari kelaparan', kedermawanan yang diuji justru pada saat sumber daya paling langka dan berharga, bukan saat berlimpah.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti lapar. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat.
Empat hapax akar surah ini berada di 90:4, 90:9, 90:10, dan ayat ini. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan tidak ada surah lain di sekitarnya yang memuat sebanyak itu. Kata (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) berdiri sendirian tanpa satu pun bentuk lain yang seakar.
Bentuk (مَسْغَبَةٍ, masghabatin) berpola tempat atau keadaan, dan bunyi ujungnya sama dengan bunyi ujung kata terakhir di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut ditutup dengan tiga kata langka yang berpola sama dan berbunyi sama.
Kata (إِطْعَامٌ, ith'aamun) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin.
Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dikerjakan sedangkan yang di sini disebut sebagai isi jalan yang mendaki. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Bentuk (إِطْعَامٌ, ith'aamun) kata benda, bukan kata kerja, sama seperti bentuk kata pertama di 90:13. Jadi dua isi jalan mendaki yang pertama disebut sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang.
Susunan (فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ, fii yaumin dzii masghabatin) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu.
Bentuk (إِطْعَامٌ, ith'aamun) berpola keempat, sehingga artinya membuat seseorang makan, bukan makan sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan atas orang lain, dan itu sejalan dengan seluruh rincian di 90:13 sampai 90:16 yang menyangkut orang lain.
Kata (يَوْمٍ, yaumin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut hari mana pun yang berkeadaan begitu, bukan satu hari tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan satu peristiwa melainkan keadaan yang bisa berulang kapan saja.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian jalan mendaki: memberi makan pada masa sulit, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Empat hapax akar surah ini berada di 90:4, 90:9, 90:10, dan ayat ini.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin.
Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dikerjakan sedangkan yang di sini disebut sebagai isi jalan yang mendaki.
Susunan keterangan waktunya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu.
Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar keempat di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 90:4, 90:9, dan 90:10. Jadi surah dua puluh ayat ini memuat empat akar yang tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun berkumpul di satu surah dua puluh ayat. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 89:18. Kesejajaran dengan 89:18 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak saling mendorong memberi makan orang miskin. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut memberi makan sebagai ukuran di hadapan Allah. Dua surah berurutan yang menyebut memberi makan sebagai ukuran berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Susunan keterangan waktunya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut kelaparan, kekerabatan, dan debu. Allah tidak menerangkan pengulangan rangka itu dengan satu kalimat pun. Rangka kepemilikan yang berulang tiga kali mengikat ketiga ayat menjadi satu rincian yang tidak terpecah. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus.
- Bentuk kata keduanya kata benda, bukan kata kerja, sama seperti bentuk kata pertama di 90:13. Jadi dua isi jalan mendaki yang pertama disebut Allah sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab keduanya menyatakan hal yang berlainan. Menyebut perkara alih-alih peristiwa menjaga ayatnya tidak terikat pada satu kejadian yang sudah lewat. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga yang dinyatakan salah satu di antara dua, bukan keduanya sekaligus. Huruf yang sama dipakai Allah lagi di awal 90:16, sehingga surah ini memuat dua huruf pilihan yang membagi daftar isinya menjadi beberapa cabang yang tidak wajib dikerjakan bersama-sama. Huruf pilihan menyatakan bahwa yang dituntut salah satu, bukan seluruhnya sekaligus tanpa kecuali. Empat akar yang tidak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah dua puluh ayat.
- Bentuk kata terakhirnya berpola tempat atau keadaan, dan bunyi ujungnya sama dengan bunyi ujung kata terakhir di 90:15 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut ditutup dengan tiga kata langka yang berpola sama dan berbunyi sama. Apa yang dikerjakan tiga kata yang jarang terdengar ketika ketiganya dijajarkan pada bunyi yang sama? Tiga kata langka yang dijajarkan pada bunyi yang sama membuat bagian itu terdengar berbeda dari sekitarnya.