يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ

Kepada anak yatim yang masih kerabat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍyatiiman dzaa maqrabatinkepada anak yatim yang masih kerabat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. يَتِيمًاyatiimananak yatim
  2. ذَاdzaayang
  3. مَقْرَبَةٍmaqrabatinkekerabatan

Inti bacaan

Prioritas dalam memberi bantuan: 'kepada anak yatim yang masih kerabat', penekanan mendahulukan yang terdekat sekaligus paling rentan, kombinasi kedekatan hubungan dan kebutuhan mendesak.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَقْرَبَةٍ, maqrabatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti dekat. Ia dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7. Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai untuk kerabat yang berhak menerima pemberian.

Jadi akar yang di beberapa tempat menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim. Al-Qur'an tidak menghubungkan tempat-tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (مَقْرَبَةٍ, maqrabatin) di sini menyifati anak yatim, bukan menyebut kerabat sebagai penerima.

Kata (يَتِيمًا, yatiiman) berasal dari akar yang berarti sendirian tanpa ayah. Akar itu cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim.

Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut anak yatim sebagai ukuran, dan yang di sana disebut sebagai yang tidak dimuliakan sedangkan yang di sini disebut sebagai penerima pemberian. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata (يَتِيمًا, yatiiman) tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif, dan yang di sini menyebut jenisnya tanpa menunjuk yang sudah dikenal.

Bentuk (ذَا مَقْرَبَةٍ, dzaa maqrabatin) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya.

Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.

Yang disebut di ayat ini bukan anak yatim mana pun melainkan yang masih berhubungan kerabat. Jadi Al-Qur'an mempersempit penerimanya justru pada saat merinci jalan yang mendaki, dan penyempitan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun di dalam surahnya.

Bentuk (يَتِيمًا, yatiiman) berbaris fathah karena menjadi objek bagi kata benda di 90:14, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa kata kerja.

Kata (ذَا, dzaa) berbaris fathah mengikuti kata bendanya, sedangkan bentuk yang sama di 90:14 berbaris kasrah. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua baris yang berbeda karena kedudukannya berlainan.

Tafsiran

Ayat ini merinci penerima pemberian makan tersebut: anak yatim kerabat sendiri, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7.

Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai untuk kerabat yang berhak menerima pemberian. Jadi akar yang di beberapa tempat menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim.

Kata pertamanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim.

Kata pertamanya juga tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif.

Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.

Bentuk keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 91 ayat, antara lain 2:177, 4:36, 17:26, 42:23, dan 59:7. Di 2:177, 4:36, dan 17:26 akar itu dipakai Allah untuk kerabat yang berhak menerima pemberian. Jadi akar yang menyebut kerabat sebagai penerima hak, di sini menyebut kedekatan hubungan sebagai keterangan bagi anak yatim. Akar yang menyebut kerabat sebagai penerima hak dipakai untuk menerangkan kedekatan hubungan si penerima.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:17 patut dicatat, sebab surah tetangga itu menegur orang yang tidak memuliakan anak yatim. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut anak yatim sebagai ukuran di hadapan Allah. Dua surah berurutan yang menyebut anak yatim sebagai ukuran berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari bentuk bertakrif yang dipakai Allah di 89:17, 93:9, dan 107:2. Jadi tiga surah menyebut anak yatim dengan bentuk bertakrif dan satu surah dengan bentuk tak bertakrif, dan yang di sini menyebut jenisnya tanpa menunjuk yang sudah dikenal siapa pun. Empat surah yang memakai dua cara penakrifan menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi tidak lengkap kalau dibaca sendiri-sendiri.
  • Susunan ayat ini menerangkan siapa yang diberi makan, sedangkan 90:14 menerangkan kapan. Jadi dua ayat berturut-turut menerangkan satu perbuatan dari dua sisi yang berbeda, dan Allah tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun. Keduanya harus dibaca bersama, sebab masing-masing sendirian tidak lengkap. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi harus dibaca bersama, sebab masing-masing tidak lengkap. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
  • Yang disebut di ayat ini bukan anak yatim mana pun melainkan yang masih berhubungan kerabat. Jadi Allah mempersempit penerimanya justru pada saat merinci jalan yang mendaki. Apa yang membuat memberi kepada kerabat sendiri lebih berat daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal? Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal siapa pun. Memberi kepada kerabat sendiri menuntut lebih daripada memberi kepada orang yang tidak dikenal.
  • Bentuk keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 90:14 dan 90:16. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan bentuk yang di sini berbaris fathah mengikuti kata bendanya. Kesejajaran itu mengikat ketiga ayat menjadi satu rincian yang tidak bisa dipecah. Rangka yang berulang tiga kali menandai ketiganya sebagai satu rincian, bukan tiga keterangan terpisah. Dua ayat yang menerangkan satu perbuatan dari dua sisi tidak lengkap kalau dibaca sendiri-sendiri.