ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk memberi rahmat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِtsumma kaana mina lladziina aamanuu wa-tawaashaw bi-sh-shabri wa-tawaashaw bi-l-marhamatikemudian dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk memberi rahmat
Terjemahan per kata (9 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- كَانَkaanaadalah
- مِنَminadari
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- وَتَوَاصَوْاwa-tawaashawdan saling berpesan
- بِالصَّبْرِbi-sh-shabridengan kesabaran
- وَتَوَاصَوْاwa-tawaashawdan saling berpesan
- بِالْمَرْحَمَةِbi-l-marhamatidengan kasih sayang
Inti bacaan
Kombinasi iman dengan solidaritas komunitas: 'kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk memberi rahmat', penegasan bahwa amal individual (membebaskan budak, memberi makan) harus disertai keimanan dan budaya saling menguatkan dalam kesabaran dan kasih sayang, kebaikan personal yang diperkuat komunitas yang saling mendukung.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ, wa tawaashaw bi-sh-shabri) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:17 dan 103:3. Jadi rangkaian itu cuma hidup di dua tempat, dan keduanya berada di surah pendek yang menyebut syarat keselamatan.
Kesejajaran dengan 103:3 patut dicatat lebih jauh. Di sana kata kerja yang sama diulang dua kali pula, yaitu saling berpesan tentang kebenaran dan saling berpesan tentang kesabaran, sedangkan di sini yang kedua bukan kebenaran melainkan kasih sayang. Kata (بِالْمَرْحَمَةِ, bi-l-marhamati) di sini menjadi yang dipesankan, bukan sifat yang menerangkan.
Jadi dua surah memakai susunan yang sama persis dengan satu kata yang berbeda. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkan keduanya cuma bentuk yang berulang di dua tempat yang berjauhan letaknya. Kata (تَوَاصَوْا, tawaashaw) mendahuluinya, dan keduanya diulang dua kali di ayat ini.
Kata (بِالْمَرْحَمَةِ, bi-l-marhamati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kasih sayang. Ia dipakai di ratusan ayat dan menjadi akar bagi dua sifat yang membuka tiap surah, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an.
Perbandingan itu patut dicatat. Akar yang paling sering muncul memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini. Jadi kelangkaan bentuk dan keseringan akar bertemu di dalam satu kata, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Bentuk (تَوَاصَوْا, tawaashaw) berpola keenam, sehingga perbuatannya saling dikerjakan.
Kata kerja (تَوَاصَوْا, tawaashaw) berpola keenam, sehingga artinya saling berpesan di antara mereka, bukan seorang berpesan kepada yang lain. Jadi yang dituntut bukan menasihati melainkan saling menasihati, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri.
Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menyatakan urutan yang berjarak, bukan urutan yang rapat. Jadi syarat ini tidak menyusul langsung melainkan datang sebagai tingkatan yang lain. Al-Qur'an tidak menerangkan jarak itu, dan yang menandainya cuma satu kata penyambung.
Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu dua belas kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma dua sampai enam kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya, dan penyimpangan itu jatuh di ayat yang menyebut iman dan saling berpesan. Kata (بِالصَّبْرِ, bi-sh-shabri) menjadi pasangannya, dan keduanya dipesankan berturut-turut.
Kata (كَانَ, kaana) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu dipakai di ratusan ayat, dan bentuknya lampau. Jadi yang dinyatakan bahwa ia sudah termasuk golongan itu, bukan bahwa ia akan menjadi bagiannya. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.
Kata (بِالصَّبْرِ, bi-sh-shabri) berasal dari akar yang berarti sabar menahan diri. Akar itu dipakai di 103 ayat, antara lain 2:45, 3:200, 16:127, 70:5, dan 103:3. Kesejajaran dengan 103:3 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama persis dipesankan dengan kata kerja yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan syarat kesempurnaan: iman disertai saling berpesan kesabaran dan kasih sayang, dan rangkaian empat kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:17 dan 103:3.
Kesejajaran dengan 103:3 patut dicatat lebih jauh. Di sana kata kerja yang sama diulang dua kali pula, yaitu saling berpesan tentang kebenaran dan saling berpesan tentang kesabaran, sedangkan di sini yang kedua bukan kebenaran melainkan kasih sayang.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di ratusan ayat dan menjadi akar bagi dua sifat yang membuka tiap surah, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an.
Kata kerjanya berpola keenam, sehingga artinya saling berpesan di antara mereka, bukan seorang berpesan kepada yang lain. Jadi yang dituntut bukan menasihati melainkan saling menasihati, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri.
Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu dua belas kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma dua sampai enam kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya.
Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, bukan urutan yang rapat. Jadi syarat ini tidak menyusul langsung melainkan datang sebagai tingkatan yang lain, dan Al-Qur'an tidak menerangkan jarak itu dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian empat kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:17 dan 103:3. Di 103:3 kata kerja yang sama diulang dua kali pula, yaitu saling berpesan tentang kebenaran dan saling berpesan tentang kesabaran, sedangkan di sini yang kedua bukan kebenaran melainkan kasih sayang. Jadi dua surah memakai susunan yang sama persis dengan satu kata yang berbeda. Rangkaian yang cuma hidup di dua surah menandai keduanya sebagai sepasang tanpa satu kalimat penghubung.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di ratusan ayat dan menjadi akar bagi dua sifat yang membuka tiap surah. Jadi akar yang paling sering muncul memberi satu bentuk yang cuma dipakai Allah sekali, dan kelangkaan bentuk serta keseringan akar bertemu di dalam satu kata. Akar tersering yang memberi satu bentuk sekali pakai memusatkan kelangkaan di dalam keseringan. Saling menasihati menuntut lebih dari satu orang, dan itu tidak bisa ditunaikan sendirian.
- Kata kerjanya berpola keenam, sehingga artinya saling berpesan di antara mereka, bukan seorang berpesan kepada yang lain. Jadi yang dituntut Allah bukan menasihati melainkan saling menasihati, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri. Yang searah bisa dikerjakan sendirian, dan yang saling menuntut lebih dari satu orang. Saling menasihati menuntut lebih dari satu orang, dan itu tidak bisa ditunaikan seseorang sendirian. Saling menasihati menuntut lebih dari satu orang, dan itu tidak bisa ditunaikan sendirian.
- Ayat ini yang terpanjang di dalam surah ini, yaitu dua belas kata, sedangkan sebagian besar ayat lainnya cuma dua sampai enam kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama surahnya, dan penyimpangan itu jatuh di ayat yang menyebut iman dan saling berpesan. Allah tidak menandai penyimpangan itu dengan satu kata pun. Panjang yang menyimpang paling jauh jatuh di ayat tentang iman, dan penyimpangan itu tidak ditandai. Rangka yang sama dengan isi yang berbeda menuntut pembacanya memperhatikan apa yang diganti.
- Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, bukan urutan yang rapat. Jadi syarat ini tidak menyusul langsung melainkan datang sebagai tingkatan yang lain. Allah tidak menerangkan jarak itu, dan yang menandainya cuma satu kata penyambung yang berdiri sendiri tanpa menempel pada kata sesudahnya. Urutan yang berjarak menandai tingkatan yang lain, bukan langkah berikutnya di dalam satu deret. Rangka yang sama dengan isi yang berbeda menuntut pembacanya memperhatikan apa yang diganti.
- Di 103:3 yang dipesankan kedua kebenaran, dan di sini kasih sayang. Jadi Allah memakai rangka yang sama untuk dua pasangan yang berbeda isinya. Apa yang berubah pada sebuah nasihat ketika yang dipesankan bukan lagi apa yang benar melainkan bagaimana bersikap kepada sesama? Rangka yang sama dengan isi yang berbeda menuntut pembacanya memperhatikan apa yang diganti. Saling menasihati menuntut lebih dari satu orang, dan itu tidak bisa ditunaikan sendirian.