وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
Adapun orang-orang yang kufur pada tanda-tanda Kami, merekalah golongan kiri.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِwa-lladziina kafaruu bi-aayaatinaa hum ash-haabu l-masy'amatiadapun orang-orang yang kufur pada tanda-tanda Kami, merekalah golongan kiri
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
- هُمْhummereka
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
Inti bacaan
Kontras dengan golongan yang menolak: 'adapun orang-orang yang kufur pada tanda-tanda Kami, merekalah golongan kiri', pembalikan nasib bagi yang memilih jalan penolakan terhadap bukti-bukti yang jelas.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 56:9 dan 90:19. Akarnya berarti kiri dan sial. Ia cuma dipakai di 2 ayat itu, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Perbandingan dengan pasangannya patut dicatat. Akar yang menamai golongan kanan dipakai di 63 ayat, sedangkan akar yang menamai golongan kiri cuma dipakai di 2 ayat. Jadi dua golongan yang berhadapan dinamai dengan dua akar yang jauh berbeda keseringannya. Kata (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) di sini disebut sekali, berbeda dari 56:9 yang mengulangnya.
Bentuk (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) berpola tempat, sama seperti bentuk di 90:18. Jadi kedua golongan dinamai dengan menyebut di mana mereka berada, dan kesejajaran bentuk itu mengikat kedua ayat menjadi satu pasangan yang tidak bisa dipecah.
Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berasal dari akar yang berarti menutupi dan menolak. Akar itu dipakai di 465 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menutupi, antara lain di 57:20 untuk petani yang menutup benih dengan tanah. Jadi yang dinamai bukan ketiadaan pengetahuan melainkan penutupan atas sesuatu yang sudah ada.
Kata (بِآيَاتِنَا, bi-aayaatinaa) memakai kata ganti orang pertama jamak, sehingga tanda-tanda itu disebut sebagai milik Yang berfirman. Jadi sesudah 90:10 bentuk berorang pertama tidak dipakai lagi sampai ayat ini, dan kemunculannya di sini menandai kembalinya Dia ke dalam kalimatnya.
Susunan ayat ini lebih panjang daripada 90:18, sebab golongan kiri diberi keterangan tentang apa yang mereka perbuat sedangkan golongan kanan tidak. Jadi dua ayat yang berpasangan tidak sama panjangnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu.
Perbedaan itu patut dicatat lebih jauh. Golongan kanan dinamai tanpa disebut apa yang mereka perbuat, sebab perbuatannya sudah dirinci di 90:13 sampai 90:17. Golongan kiri dinamai bersama perbuatannya, sebab perbuatannya belum pernah disebut di dalam surah ini.
Kata (هُمْ, hum) berdiri sendiri sebagai kata terpisah, padahal bentuk kalimatnya sudah bisa berdiri tanpanya. Penyebutan kata ganti secara terpisah dipakai untuk menegaskan, sehingga yang ditekankan bahwa merekalah yang dimaksud, bukan orang lain.
Kata (وَالَّذِينَ, wa-lladziina) berbentuk jamak laki-laki dan menerangkan golongan yang disebut sesudahnya. Jadi susunan ayat ini menaruh keterangan lebih dulu dan namanya belakangan, kebalikan dari susunan di 90:18 yang menaruh kata tunjuk lebih dulu.
Bentuk (بِآيَاتِنَا, bi-aayaatinaa) berasal dari akar yang berarti tanda. Akar itu dipakai di ratusan ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk ayat dan untuk tanda. Jadi yang didustakan bisa berupa ayat yang dibacakan atau tanda yang terlihat, dan Al-Qur'an membiarkan keduanya terbuka.
Tafsiran
Ayat ini membandingkan dengan golongan sebaliknya: mereka yang mendustakan tanda-tanda Allah, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 56:9 dan 90:19. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat itu.
Perbandingan dengan pasangannya patut dicatat. Akar yang menamai golongan kanan dipakai di 63 ayat, sedangkan akar yang menamai golongan kiri cuma dipakai di 2 ayat. Jadi dua golongan yang berhadapan dinamai dengan dua akar yang jauh berbeda keseringannya.
Bentuk kata terakhirnya berpola tempat, sama seperti bentuk di 90:18. Jadi kedua golongan dinamai dengan menyebut di mana mereka berada, dan kesejajaran bentuk itu mengikat kedua ayat menjadi satu pasangan yang tidak bisa dipecah.
Susunan ayat ini lebih panjang daripada 90:18, sebab golongan kiri diberi keterangan tentang apa yang mereka perbuat sedangkan golongan kanan tidak. Jadi dua ayat yang berpasangan tidak sama panjangnya.
Perbedaan itu patut dicatat lebih jauh. Golongan kanan dinamai tanpa disebut apa yang mereka perbuat, sebab perbuatannya sudah dirinci di 90:13 sampai 90:17, sedangkan golongan kiri dinamai bersama perbuatannya sebab perbuatannya belum pernah disebut.
Kata keempatnya berdiri sendiri sebagai kata terpisah, padahal bentuk kalimatnya sudah bisa berdiri tanpanya. Penyebutan kata ganti secara terpisah dipakai untuk menegaskan, sehingga yang ditekankan bahwa merekalah yang dimaksud, bukan orang lain.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 56:9 dan 90:19, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat itu. Akar yang menamai golongan kanan dipakai Allah di 63 ayat, sedangkan akar yang menamai golongan kiri cuma dipakai di 2 ayat. Jadi dua golongan yang berhadapan dinamai dengan dua akar yang jauh berbeda keseringannya. Dua akar yang jauh berbeda keseringannya menamai dua golongan yang berhadapan, dan itu tidak diterangkan. Menutupi yang sudah ada berbeda dari tidak mengetahuinya, dan namanya sendiri menyatakannya.
- Golongan kanan dinamai tanpa disebut apa yang mereka perbuat, sebab perbuatannya sudah dirinci Allah di 90:13 sampai 90:17. Golongan kiri dinamai bersama perbuatannya, sebab perbuatannya belum pernah disebut di dalam surah ini. Jadi ketidakseimbangan panjang kedua ayat itu punya sebab yang terbaca dari susunan surahnya sendiri. Ketidakseimbangan panjang dua ayat berpasangan punya sebab yang terbaca dari susunan surahnya sendiri.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 465 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menutupi, antara lain di 57:20 untuk petani yang menutup benih dengan tanah. Jadi yang dinamai Allah bukan ketiadaan pengetahuan melainkan penutupan atas sesuatu yang sudah ada, sama seperti benih yang ditimbun. Menutupi yang sudah ada berbeda dari tidak mengetahuinya, dan nama perbuatannya sendiri yang menyatakannya. Dua akar yang jauh berbeda keseringannya menamai dua golongan yang berdiri berhadapan.
- Kata ketiganya memakai kata ganti orang pertama jamak, sehingga tanda-tanda itu disebut sebagai milik Allah. Jadi sesudah 90:10 bentuk berorang pertama tidak dipakai lagi sampai ayat ini, dan kemunculannya di sini menandai kembalinya Dia ke dalam kalimatnya sesudah delapan ayat. Kembalinya bentuk orang pertama sesudah delapan ayat menandai tempat kembalinya tanpa kata penanda. Dua akar yang jauh berbeda keseringannya menamai dua golongan yang berdiri berhadapan.
- Kata keempatnya berdiri sendiri sebagai kata terpisah, padahal bentuk kalimatnya sudah bisa berdiri tanpanya. Penyebutan kata ganti secara terpisah dipakai untuk menegaskan, sehingga yang ditekankan Allah bahwa merekalah yang dimaksud, bukan orang lain. Penegasan itu dikerjakan satu kata yang tidak diperlukan susunannya. Kata ganti yang tidak diperlukan susunannya selalu berarti penegasan, dan itu berlaku di seluruh Al-Qur'an. Dua akar yang jauh berbeda keseringannya menamai dua golongan yang berdiri berhadapan.
- Bentuk kata terakhirnya berpola tempat, sama seperti bentuk di 90:18, sehingga kedua golongan dinamai Allah dengan menyebut di mana mereka berada. Apa yang dinyatakan sebuah pembagian ketika kedua golongan dibedakan bukan lewat sifatnya melainkan lewat sisi tempat mereka berdiri? Membedakan golongan lewat sisi tempat mereka berdiri menaruh seluruh perbedaannya pada satu penanda. Menutupi yang sudah ada berbeda dari tidak mengetahuinya, dan namanya sendiri menyatakannya.