عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

Atas mereka api yang tertutup rapat.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ'alayhim naarun mu'shadatunatas mereka api yang tertutup rapat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  2. نَارٌnaarunapi
  3. مُؤْصَدَةٌmu'shadatuntertutup rapat

Inti bacaan

Konsekuensi yang menyertai penolakan: 'atas mereka api yang tertutup rapat', gambaran isolasi total dalam konsekuensi, tanpa celah pelarian atau kelegaan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مُؤْصَدَةٌ, mu-shadatun) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:20 dan 104:8. Akarnya berarti menutup rapat. Ia cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:18, 90:20, dan 104:8, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Kesejajaran dengan 104:8 patut dicatat, sebab di sana tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, yaitu bahwa api itu tertutup atas mereka. Jadi dua surah menutup gambarannya dengan kata yang sama dan susunan yang berdekatan.

Di 18:18 akar yang sama dipakai untuk anjing yang membentangkan kedua lengannya di ambang pintu gua. Jadi akar yang menyebut sesuatu yang menutup pintu di sana, di sini menyebut api yang menutup penghuninya, dan yang menyatukannya gambaran penutupan jalan keluar. Kata (مُؤْصَدَةٌ, mu-shadatun) di sini menyifati api, bukan sesuatu yang menutup pintu gua.

Kata (نَارٌ, naarun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut api yang sesuai gambarannya, bukan api yang sudah tertentu. Akarnya berarti cahaya. Ia dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya, antara lain di 24:35 dan 57:28.

Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata untuk api. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini atas siapa api itu berada.

Bentuk (مُؤْصَدَةٌ, mu-shadatun) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menutupnya. Jadi ayat penutup surah ini menyebut keadaan tanpa menyebut pelakunya, dan penahanan itu berlaku pula pada bentuk pasif di 104:8 yang memakai kata yang sama.

Ayat ini menutup surah dengan satu kalimat pendek yang cuma tiga kata, sedangkan 90:19 sebelumnya delapan kata. Jadi surahnya berhenti mendadak sesudah ayat yang jauh lebih panjang, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kalimat pun sesudahnya. Bentuk (نَارٌ, naarun) mendahuluinya, dan keduanya terikat sebagai satu satuan.

Surah ini dibuka dengan sumpah demi sebuah negeri dan ditutup dengan api yang tertutup rapat. Jadi ia bergerak dari tempat yang dihuni manusia kepada tempat yang tidak bisa ditinggalkan siapa pun, dan Al-Qur'an tidak menandai gerakan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) memakai kata ganti jamak laki-laki, dan yang ditunjuknya golongan di 90:19. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua bagian oleh jeda bacaannya.

Kata (نَارٌ, naarun) berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat yang beritanya didahulukan. Jadi susunan ayat ini membalik urutan yang lazim, dan pembalikan itu sendiri yang menegaskan atas siapa api itu berada tanpa satu kata tambahan pun.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menggambarkan azab golongan kiri: api yang mengurung mereka tanpa jalan keluar, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:20 dan 104:8.

Akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:18, 90:20, dan 104:8. Kesejajaran dengan 104:8 patut dicatat, sebab di sana tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, yaitu bahwa api itu tertutup atas mereka.

Di 18:18 akar yang sama dipakai untuk anjing yang membentangkan kedua lengannya di ambang pintu gua. Jadi akar yang menyebut sesuatu yang menutup pintu di sana, di sini menyebut api yang menutup penghuninya, dan yang menyatukannya gambaran penutupan jalan keluar.

Bentuk kata terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menutupnya. Jadi ayat penutup surah ini menyebut keadaan tanpa menyebut pelakunya, dan penahanan itu berlaku pula pada bentuk pasif di 104:8 yang memakai kata yang sama.

Surah ini dibuka dengan sumpah demi sebuah negeri dan ditutup dengan api yang tertutup rapat. Jadi ia bergerak dari tempat yang dihuni manusia kepada tempat yang tidak bisa ditinggalkan siapa pun.

Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata untuk api. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini atas siapa api itu berada.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 90:20 dan 104:8, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:18, 90:20, dan 104:8. Di 18:18 akar yang sama dipakai Allah untuk anjing yang membentangkan kedua lengannya di ambang pintu gua. Jadi akar yang menyebut sesuatu yang menutup pintu, di sini menyebut api yang menutup penghuninya. Akar yang menutup pintu gua dan api yang menutup penghuninya berbagi satu gambaran yang sama.
  • Kesejajaran dengan 104:8 patut dicatat, sebab di sana tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, yaitu bahwa api itu tertutup atas mereka. Jadi dua surah menutup gambarannya dengan kata yang sama dan susunan yang berdekatan, dan Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah yang menutup gambarannya dengan kata yang sama berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Pintu gua yang tertutup dan api yang mengurung berbagi satu akar yang cuma di tiga ayat.
  • Surah ini dibuka Allah dengan sumpah demi sebuah negeri dan ditutup dengan api yang tertutup rapat. Jadi ia bergerak dari tempat yang dihuni manusia kepada tempat yang tidak bisa ditinggalkan siapa pun. Apa yang menghubungkan sebuah negeri tempat orang bebas bertempat dengan tempat yang pintunya ditutup rapat? Bergerak dari tempat yang bebas dihuni kepada tempat yang tertutup rapat menutup surah dengan pertentangan. Berhenti mendadak sesudah ayat yang panjang membuat perhentiannya terasa pada bacaannya.
  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menutupnya. Jadi ayat penutup surah ini menyebut keadaan tanpa menyebut pelakunya, dan penahanan itu berlaku pula pada bentuk pasif di 104:8 yang memakai kata yang sama. Yang tampak cuma keadaannya, dan tangan yang menutup tidak dinamai Allah. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada keadaannya, bukan pada siapa yang membuatnya. Pintu gua yang tertutup dan api yang mengurung berbagi satu akar yang cuma di tiga ayat.
  • Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata untuk api. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini atas siapa api itu berada, bukan apa apinya. Mendahulukan keterangan menaruh tekanan pada atas siapa sesuatu berada, bukan pada apa sesuatu itu. Pintu gua yang tertutup dan api yang mengurung berbagi satu akar yang cuma di tiga ayat.
  • Ayat ini menutup surah dengan satu kalimat pendek yang cuma tiga kata, sedangkan 90:19 sebelumnya delapan kata. Jadi surahnya berhenti mendadak sesudah ayat yang jauh lebih panjang, dan Allah tidak menambahkan satu kalimat pun sesudahnya. Perhentian sekasar itu terasa pada bacaannya sendiri. Berhenti mendadak sesudah ayat yang panjang membuat perhentiannya terasa pada bacaan, bukan pada isinya. Berhenti mendadak sesudah ayat yang panjang membuat perhentiannya terasa pada bacaannya.