وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا

Demi siang apabila menampakkannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَاwa-n-nahaari idzaa jallaahaademi siang apabila menampakkannya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالنَّهَارِwa-n-nahaaridan siang
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. جَلَّاهَاjallaahaamenampakkannya

Inti bacaan

Sumpah demi fungsi siang: 'demi siang apabila menampakkannya', penekanan pada fungsi siang yang menyingkap dan menerangi, waktu ketika segala sesuatu menjadi jelas terlihat.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (جَلَّاهَا, jallaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyingkap sampai terang. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 7:143, 7:187, 59:3, 91:3, dan 92:2, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.

Pemakaian di 92:2 paling menerangkan, sebab di sana tertulis (وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ, wa-n-nahaari idzaa tajallaa), demi siang apabila terang benderang. Jadi dua surah menyumpahkan siang dengan akar yang sama, dan yang di sana siang yang menampakkan dirinya sendiri sedangkan yang di sini siang yang menampakkan sesuatu yang lain.

Perbedaan bentuknya perlu dijaga. Yang di 92:2 bentuk yang perbuatannya kembali kepada pelakunya, dan (جَلَّاهَا, jallaahaa) di sini bentuk yang mengenai objek. Jadi dua surah memakai satu akar dengan dua kedudukan yang berbeda: yang satu tentang siang yang menjadi terang, yang lain tentang siang yang membuat sesuatu terlihat.

Kata ganti pada ujung (جَلَّاهَا, jallaahaa) berbentuk perempuan tunggal, sama seperti kata ganti di 91:1, 91:2, dan 91:4. Yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang, dan yang paling dekat letaknya mataharinya di 91:1. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya.

Kata (وَالنَّهَارِ, wa-n-nahaari) bertakrif. Akarnya juga memberi kata untuk sungai yang dipakai di puluhan ayat, sehingga satu akar memikul siang dan aliran air. Yang menyatukan keduanya bukan bendanya melainkan sifat mengalir terus tanpa berhenti, dan Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata ganti pada ujung (جَلَّاهَا, jallaahaa) berbentuk perempuan tunggal, sama seperti kata ganti di 91:1, 91:2, dan 91:4. Yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang, dan yang paling dekat letaknya mataharinya di 91:1. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Kata (وَالنَّهَارِ, wa-n-nahaari) bertakrif, dan akarnya juga memberi kata untuk sungai yang dipakai di puluhan ayat. Jadi satu akar memikul siang dan aliran air. Yang menyatukan keduanya bukan bendanya melainkan sifat mengalir terus tanpa berhenti, dan Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sumpah dengan siang yang menampakkan, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 7:143, 7:187, 59:3, 91:3, dan 92:2, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.

Pemakaian di 92:2 paling menerangkan, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyumpahkan siang juga. Jadi dua surah menyumpahkan siang dengan akar yang sama, dan yang di sana siang yang menampakkan dirinya sendiri sedangkan yang di sini siang yang menampakkan sesuatu yang lain.

Perbedaan bentuknya perlu dijaga. Yang di 92:2 bentuk yang perbuatannya kembali kepada pelakunya, dan yang di sini bentuk yang mengenai objek. Jadi dua surah memakai satu akar dengan dua kedudukan yang berbeda: yang satu tentang siang yang menjadi terang, yang lain tentang siang yang membuat sesuatu terlihat.

Kata ganti pada ujung kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, sama seperti kata ganti di 91:1, 91:2, dan 91:4. Yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang, dan yang paling dekat letaknya mataharinya di 91:1. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja di ayat ini cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 7:143, 7:187, 59:3, 91:3, dan 92:2, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai Allah. Dua dari lima pemakaiannya berada di dalam sumpah tentang siang, yaitu di 91:3 dan 92:2. Jadi hampir separuh pemakaian akar yang langka itu terkumpul pada satu perkara yang sama. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Apa yang berubah pada sebuah benda ketika ia menjadi terlihat, padahal ia sudah ada sebelumnya?
  • Yang di 92:2 bentuk yang perbuatannya kembali kepada pelakunya, dan yang di sini bentuk yang mengenai objek. Jadi Allah memakai satu akar dengan dua kedudukan yang berbeda: yang satu tentang siang yang menjadi terang, yang lain tentang siang yang membuat sesuatu terlihat. Menjadi terang dan membuat terang bukan hal yang sama, sekalipun keduanya memakai kata yang seakar. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.
  • Kata ganti pada ujung kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang. Yang paling dekat letaknya mataharinya di ayat pertama. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan yang tidak diambil teksnya sendiri. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.
  • Akar kata untuk siang juga memberi kata untuk sungai yang dipakai di puluhan ayat, sehingga satu akar memikul siang dan aliran air. Yang menyatukan keduanya bukan bendanya melainkan sifat mengalir terus tanpa berhenti. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya sendiri. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.
  • Yang dikerjakan siang di ayat ini menampakkan, bukan mengadakan. Apa yang ditampakkannya sudah ada sebelum ia datang, dan yang berubah cuma apakah ia terlihat atau tidak. Jadi Allah menyumpahkan sesuatu yang tidak menambah apa pun kepada dunia kecuali kemungkinan melihatnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.
  • Ayat ini, 91:2, dan 91:4 memakai susunan yang sama: benda yang bertakrif, penanda keadaan, lalu kata kerja berakhiran kata ganti perempuan. Tiga ayat berturut-turut karena itu terbaca sebagai satu rangkaian yang rapat. Allah baru mengubah susunannya di 91:5, dan perubahan itu menandai bagian kedua dari sumpah yang panjang ini. Yang ada dalam gelap tetap ada, dan yang berubah cuma mata yang memandangnya.