Ayat 91:5

وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا

Demi langit serta yang membangunnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَاwa-s-samaa'i wa-maa banaahaademi langit serta yang membangunnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالسَّمَاءِwa-s-samaa'idan demi langit
  2. وَمَاwa-maadan apa yang
  3. بَنَاهَاbanaahaamembangunnya

Inti bacaan

Sumpah demi struktur langit dan penciptanya: 'demi langit serta yang membangunnya', pengalihan fokus dari fenomena berulang menuju pengakuan terhadap arsitek di balik keseluruhan sistem kosmik.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (بَنَاهَا, banaahaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan 91:5. Di 79:27 tertulis dalam kalimat yang membandingkan penciptaan manusia dengan penciptaan langit, dan di sana kata itu juga menunjuk kepada langit.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 79:28 tepat sesudahnya memakai (فَسَوَّاهَا, fa-sawwaahaa), yaitu bentuk yang sama dengan (سَوَّاهَا, sawwaahaa) di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata (وَمَا, wa-maa) di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Bahasa Indonesia menahannya dengan "serta yang membangunnya", memakai kata yang tidak memastikan apakah ia orang atau bukan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan perubahan itu terjadi mulai ayat ini.

Kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) bertakrif, sama seperti keempat kata sebelumnya. Ketertentuan itu bertahan sampai 91:6 dan baru terputus di 91:7. Jadi enam yang pertama disebut sebagai yang sudah dikenal, dan yang ketujuh tidak, dan yang ketujuh itulah yang menjadi pokok pembicaraan di tiga ayat sesudahnya.

Kata (وَمَا, wa-maa) di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Bahasa Indonesia menahannya dengan "serta yang membangunnya", memakai kata yang tidak memastikan apakah ia orang atau bukan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian kedua dari sumpah dengan langit dan yang membangunnya, dan kata kerjanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan ayat ini.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 79:28 tepat sesudahnya memakai bentuk yang sama dengan kata kerja di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan perubahan itu terjadi mulai ayat ini. Yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan 91:5, dan 79:28 tepat sesudahnya memakai bentuk yang sama dengan kata kerja di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Allah tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Allah tidak memastikan yang mana. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan yang tidak diambil teksnya sendiri. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya. Yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya, dan perubahan itu terjadi tanpa satu kalimat penanda. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata kerja yang dipakai Allah berarti membangun, yaitu menyusun bagian demi bagian sampai berdiri. Ia berbeda dari kata yang berarti mengadakan dari ketiadaan. Jadi langit digambarkan sebagai sesuatu yang disusun, bukan sekadar sesuatu yang muncul. Apa yang disusun selalu punya rancangan di belakangnya, dan rancangan selalu menunjuk kepada yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata untuk langit bertakrif, sama seperti keempat kata sebelumnya. Ketertentuan itu bertahan sampai 91:6 dan baru terputus di 91:7. Jadi enam yang pertama disebut Allah sebagai yang sudah dikenal, dan yang ketujuh tidak. Yang ketujuh itulah yang menjadi pokok pembicaraan di tiga ayat sesudahnya, dan ketiadaan kata sandangnya sudah menandainya sejak awal. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Langit benda terbesar yang disebut di dalam rangkaian ini, dan ia diletakkan di ayat kelima dari tujuh, bukan di ayat pertama atau terakhir. Yang pertama matahari dan yang terakhir jiwa. Jadi Allah menaruh yang paling besar di tengah dan yang paling dalam di ujung. Apa yang menentukan urutan sebuah daftar: besarnya, atau kedekatannya dengan yang membacanya? Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.

Ayat 91:6

وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا

Demi bumi serta yang menghamparkannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَاwa-l-ardhi wa-maa thahaahaademi bumi serta yang menghamparkannya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  2. وَمَاwa-maadan apa yang
  3. طَحَاهَاthahaahaayang menghamparkannya

Inti bacaan

Sumpah demi bumi dan penciptanya: 'demi bumi serta yang menghamparkannya', pelengkap sumpah sebelumnya, mencakup baik struktur atas (langit) maupun bawah (bumi) sebagai bukti desain yang menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (طَحَاهَا, thahaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti menghamparkan. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Surah ini memuat empat akar semacam itu, yaitu (طَحَاهَا, thahaahaa) di 91:6, lalu 91:8, 91:10, dan 91:14. Empat akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah lima belas ayat, dan kepadatan sebesar itu tidak terjadi di banyak tempat. Pola yang sama muncul di surah 100, yang memuat lima akar semacam itu di dalam sebelas ayat.

Artinya menghamparkan sesuatu sampai melebar dan rata. Bahasa Indonesia menahannya dengan "menghamparkannya", dan padanan itu menjaga sisi melebarnya. Akar yang dipakai berbeda dari akar yang dipakai di 2:22 untuk bumi yang dijadikan hamparan, sehingga Al-Qur'an memakai dua kata yang berbeda untuk gambaran yang berdekatan.

Susunan ayat ini sama dengan susunan 91:5 dan 91:7: benda yang bertakrif atau tidak, lalu kata yang berarti apa atau siapa, lalu kata kerja berakhiran kata ganti perempuan. Tiga ayat berturut-turut karena itu terbaca sebagai satu rangkaian yang rapat, dan yang berbeda cuma bendanya dan perbuatannya.

Kata (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) bertakrif, dan ia yang terakhir bertakrif di dalam rangkaian sumpah ini. Ketertentuan itu terputus di 91:7 pada (وَنَفْسٍ, wa-nafsin). Jadi perubahan dari yang dikenal kepada yang tidak dikenal terjadi tepat pada peralihan dari benda-benda besar kepada jiwa, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perubahan itu dengan satu kalimat pun.

Artinya menghamparkan sesuatu sampai melebar dan rata. Bahasa Indonesia menahan (طَحَاهَا, thahaahaa) dengan "menghamparkannya", dan padanan itu menjaga sisi melebarnya. Akar yang dipakai berbeda dari akar yang dipakai di 2:22 untuk bumi yang dijadikan hamparan, sehingga Al-Qur'an memakai dua kata yang berbeda untuk gambaran yang berdekatan.

Susunan ayat ini sama dengan susunan 91:5 dan 91:7: bendanya, lalu (وَمَا, wa-maa), lalu kata kerja berakhiran kata ganti perempuan. Tiga ayat berturut-turut karena itu terbaca sebagai satu rangkaian yang rapat, dan yang berbeda cuma bendanya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu mengikat ketiganya menjadi satu bagian. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sumpah dengan bumi dan yang menghamparkannya, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Surah ini memuat empat akar semacam itu, yaitu di 91:6, 91:8, 91:10, dan 91:14. Empat akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah lima belas ayat. Pola yang sama muncul di surah 100, yang memuat lima akar semacam itu di dalam sebelas ayat.

Artinya menghamparkan sesuatu sampai melebar dan rata. Akar yang dipakai berbeda dari akar yang dipakai di 2:22 untuk bumi yang dijadikan hamparan, sehingga Al-Qur'an memakai dua kata yang berbeda untuk gambaran yang berdekatan. Yang di sini menyebut perbuatan menghamparkannya, dan yang di sana menyebut hasilnya bagi manusia.

Kata untuk bumi bertakrif, dan ia yang terakhir bertakrif di dalam rangkaian sumpah ini. Ketertentuan itu terputus di 91:7 pada kata untuk jiwa. Jadi perubahan dari yang dikenal kepada yang tidak dikenal terjadi tepat pada peralihan dari benda-benda besar kepada jiwa, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perubahan itu dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Surah ini memuat empat akar semacam itu, yaitu di 91:6, 91:8, 91:10, dan 91:14. Empat akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah lima belas ayat, dan kepadatan sebesar itu tidak terjadi di banyak tempat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.
  • Pola empat akar hapax dalam satu surah pendek muncul juga di surah 100, yang memuat lima akar semacam itu di dalam sebelas ayat. Jadi dua surah yang sama-sama dibuka sumpah panjang sama-sama memuat sejumlah akar yang tidak dipakai Allah di tempat lain. Kelangkaan yang berkumpul di satu tempat itu sendiri sudah menyatakan sesuatu tentang cara surahnya disusun. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.
  • Akar yang dipakai di ayat ini berbeda dari akar yang dipakai di 2:22 untuk bumi yang dijadikan hamparan, sehingga Allah memakai dua kata yang berbeda untuk gambaran yang berdekatan. Yang di sini menyebut perbuatan menghamparkannya, dan yang di sana menyebut hasilnya bagi manusia. Perbedaan sudut pandang itu terbaca dari pilihan akarnya saja. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.
  • Kata untuk bumi bertakrif, dan ia yang terakhir bertakrif di dalam rangkaian sumpah ini. Ketertentuan itu terputus di ayat berikutnya pada kata untuk jiwa. Jadi perubahan dari yang dikenal kepada yang tidak dikenal terjadi tepat pada peralihan dari benda-benda besar kepada jiwa, dan Allah tidak menyatakan perubahan itu dengan satu kalimat pun. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.
  • Susunan ayat ini sama dengan susunan 91:5 dan 91:7: bendanya, lalu (وَمَا, wa-maa), lalu kata kerja berakhiran kata ganti perempuan. Tiga ayat berturut-turut karena itu terbaca sebagai satu rangkaian yang rapat, dan yang berbeda cuma bendanya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu mengikat ketiganya menjadi satu bagian. Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.
  • Artinya menghamparkan sesuatu sampai melebar dan rata. Yang dikerjakan bukan mengadakan bumi melainkan membuatnya bisa ditempati. Jadi Allah menyumpahkan bukan cuma adanya bumi melainkan keadaannya yang membuat manusia bisa berdiri di atasnya. Apa yang paling sering dilupakan seseorang: bahwa tanah itu ada, atau bahwa tanah itu rata? Empat akar yang tak dipakai di tempat lain berkumpul di satu surah lima belas ayat.

Ayat 91:7

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

Demi jiwa serta yang menyempurnakannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَاwa-nafsin wa-maa sawwaahaademi jiwa serta yang menyempurnakannya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَنَفْسٍwa-nafsindan demi jiwa
  2. وَمَاwa-maadan apa yang
  3. سَوَّاهَاsawwaahaamenyempurnakannya

Inti bacaan

Sumpah demi jiwa dan penyempurnaannya: 'demi jiwa serta yang menyempurnakannya', pengakuan bahwa jiwa manusia dibentuk dengan proses penataan yang seimbang, bukan diciptakan secara sembarangan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَنَفْسٍ, wa-nafsin) tidak bertakrif, dan ia satu-satunya yang tidak bertakrif di dalam tujuh ayat sumpah ini. Enam yang sebelumnya seluruhnya bertakrif. Jadi yang paling akhir disumpahkan justru yang paling tidak tertentu, dan ketiadaan kata sandang itu membuat yang disebut bukan satu jiwa tertentu melainkan jiwa mana pun.

Kata kerja (سَوَّاهَا, sawwaahaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:28, 91:7, dan 91:14. Dua dari tiga kemunculannya berada di dalam surah ini, dan keduanya berlawanan akibatnya: yang di sini penyempurnaan jiwa, dan yang di 91:14 perataan sebuah kaum sampai habis.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan di seluruh surah. Satu bentuk, yaitu (سَوَّاهَا, sawwaahaa), dipakai untuk membuat sesuatu menjadi utuh dan untuk membuat sesuatu menjadi rata sampai tidak bersisa. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk kata yang sama persis.

Pemakaian di 79:28 juga patut dicatat, sebab di sana tertulis (رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا, rafa'a samkahaa fa-sawwaahaa), Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan yang dibicarakan langit. Jadi kata yang sama dipakai untuk penyempurnaan langit dan penyempurnaan jiwa, dan keduanya memakai bentuk yang sama persis.

Akar (سَوَّاهَا, sawwaahaa) berarti meratakan sampai pas. Akar itu dipakai di 80 ayat. Artinya membuat sesuatu menjadi seimbang dan setara bagian-bagiannya. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa jiwa itu dibuat baik, melainkan bahwa ia dibuat seimbang, dan keseimbangan itulah yang membuat 91:8 masuk akal: sesuatu yang seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih.

Pemakaian di 79:28 juga patut dicatat, sebab di sana tertulis (رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا, rafa'a samkahaa fa-sawwaahaa), Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan yang dibicarakan langit. Jadi kata yang sama dipakai untuk penyempurnaan langit dan penyempurnaan jiwa, dan keduanya memakai bentuk yang sama persis.

Akar (سَوَّاهَا, sawwaahaa) berarti meratakan sampai pas. Akar itu dipakai di 80 ayat. Artinya membuat sesuatu menjadi seimbang dan setara bagian-bagiannya. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa jiwa itu dibuat baik, melainkan bahwa ia dibuat seimbang. Apa yang berubah pada seseorang ketika ia mengetahui bahwa dirinya dibuat seimbang, bukan dibuat baik? Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian sumpah dengan jiwa dan yang menyempurnakannya, dan kata untuk jiwa tidak bertakrif. Ia satu-satunya yang tidak bertakrif di dalam tujuh ayat sumpah ini, sedangkan enam yang sebelumnya seluruhnya bertakrif.

Kata kerjanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:28, 91:7, dan 91:14. Dua dari tiga kemunculannya berada di dalam surah ini, dan keduanya berlawanan akibatnya: yang di sini penyempurnaan jiwa, dan yang di 91:14 perataan sebuah kaum sampai habis.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan di seluruh surah. Satu kata kerja dipakai untuk membuat sesuatu menjadi utuh dan untuk membuat sesuatu menjadi rata sampai tidak bersisa. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk kata yang sama persis.

Akar kata kerjanya dipakai di 80 ayat, dan artinya membuat sesuatu menjadi seimbang dan setara bagian-bagiannya. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa jiwa itu dibuat baik, melainkan bahwa ia dibuat seimbang. Keseimbangan itulah yang membuat 91:8 masuk akal, sebab sesuatu yang seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:28, 91:7, dan 91:14. Dua dari tiga kemunculannya berada di dalam surah ini, dan keduanya berlawanan akibatnya: yang di sini penyempurnaan jiwa, dan yang di 91:14 perataan sebuah kaum sampai habis. Satu kata kerja dipakai Allah untuk membuat sesuatu utuh dan untuk membuatnya rata sampai tidak bersisa. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Apa yang dikerjakan seseorang atas jiwa yang dibuat Allah seimbang di dalam dirinya sendiri?
  • Kata untuk jiwa tidak bertakrif, dan ia satu-satunya yang tidak bertakrif di dalam tujuh ayat sumpah ini. Enam yang sebelumnya seluruhnya bertakrif. Jadi yang paling akhir disumpahkan Allah justru yang paling tidak tertentu, dan ketiadaan kata sandang itu membuat yang disebut bukan satu jiwa tertentu melainkan jiwa mana pun yang membacanya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.
  • Di 79:28 kata yang sama dipakai untuk penyempurnaan langit, sesudah bangunannya ditinggikan. Jadi kata yang sama dipakai Allah untuk penyempurnaan langit dan penyempurnaan jiwa, dan keduanya memakai bentuk yang sama persis. Yang paling luas dan yang paling dalam disempurnakan dengan kata kerja yang satu, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 80 ayat, dan artinya membuat sesuatu menjadi seimbang dan setara bagian-bagiannya. Jadi yang dinyatakan Allah bukan bahwa jiwa itu dibuat baik, melainkan bahwa ia dibuat seimbang. Keseimbangan itulah yang membuat ayat berikutnya masuk akal, sebab sesuatu yang seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.
  • Enam yang disumpahkan sebelumnya berpasang-pasangan: matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi. Jiwa berdiri sendirian di ujungnya tanpa pasangan. Jadi Allah menutup rangkaian yang berpasangan dengan satu yang tidak berpasangan, dan yang tidak berpasangan itulah yang menjadi pokok pembicaraan di tiga ayat berikutnya. Apa yang berdiri sendirian selalu paling menarik perhatian. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.
  • Kata di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa, sama seperti di 91:5 dan 91:6. Allah tidak memastikan yang mana di ketiga ayat itu. Jadi Yang menyempurnakan jiwa tidak dinamai di dalam rangkaian sumpah ini, dan nama-Nya baru muncul di 91:14 sebagai Tuhan mereka, tujuh ayat kemudian. Yang dibuat Allah seimbang punya dua sisi yang sama-sama bisa dipilih olehnya.