وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا

Demi langit serta yang membangunnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَاwa-s-samaa'i wa-maa banaahaademi langit serta yang membangunnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالسَّمَاءِwa-s-samaa'idan demi langit
  2. وَمَاwa-maadan apa yang
  3. بَنَاهَاbanaahaamembangunnya

Inti bacaan

Sumpah demi struktur langit dan penciptanya: 'demi langit serta yang membangunnya', pengalihan fokus dari fenomena berulang menuju pengakuan terhadap arsitek di balik keseluruhan sistem kosmik.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (بَنَاهَا, banaahaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan 91:5. Di 79:27 tertulis dalam kalimat yang membandingkan penciptaan manusia dengan penciptaan langit, dan di sana kata itu juga menunjuk kepada langit.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 79:28 tepat sesudahnya memakai (فَسَوَّاهَا, fa-sawwaahaa), yaitu bentuk yang sama dengan (سَوَّاهَا, sawwaahaa) di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata (وَمَا, wa-maa) di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Bahasa Indonesia menahannya dengan "serta yang membangunnya", memakai kata yang tidak memastikan apakah ia orang atau bukan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan perubahan itu terjadi mulai ayat ini.

Kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) bertakrif, sama seperti keempat kata sebelumnya. Ketertentuan itu bertahan sampai 91:6 dan baru terputus di 91:7. Jadi enam yang pertama disebut sebagai yang sudah dikenal, dan yang ketujuh tidak, dan yang ketujuh itulah yang menjadi pokok pembicaraan di tiga ayat sesudahnya.

Kata (وَمَا, wa-maa) di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Bahasa Indonesia menahannya dengan "serta yang membangunnya", memakai kata yang tidak memastikan apakah ia orang atau bukan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian kedua dari sumpah dengan langit dan yang membangunnya, dan kata kerjanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan ayat ini.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 79:28 tepat sesudahnya memakai bentuk yang sama dengan kata kerja di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Al-Qur'an tidak memastikan yang mana. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya, bukan beserta keadaannya, dan perubahan itu terjadi mulai ayat ini. Yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 79:27 dan 91:5, dan 79:28 tepat sesudahnya memakai bentuk yang sama dengan kata kerja di 91:7. Jadi dua kata yang dipakai di 91:5 dan 91:7 berdampingan di 79:27 dan 79:28, dan di sana keduanya tentang langit. Allah tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata di tengah ayat bisa dibaca sebagai kata yang berarti apa dan sebagai kata yang berarti siapa. Bahasa Arab memakai bentuk yang sama untuk keduanya dalam susunan ini, dan Allah tidak memastikan yang mana. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan yang tidak diambil teksnya sendiri. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Susunan ayat ini berbeda dari susunan 91:2 sampai 91:4. Yang di sana benda diikuti keadaannya, dan yang di sini benda diikuti penyebutan yang membuatnya. Jadi tiga ayat terakhir dari sumpah ini menyumpahkan benda beserta pembuatnya. Yang disumpahkan tidak lagi cuma bendanya melainkan juga Yang mengadakannya, dan perubahan itu terjadi tanpa satu kalimat penanda. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata kerja yang dipakai Allah berarti membangun, yaitu menyusun bagian demi bagian sampai berdiri. Ia berbeda dari kata yang berarti mengadakan dari ketiadaan. Jadi langit digambarkan sebagai sesuatu yang disusun, bukan sekadar sesuatu yang muncul. Apa yang disusun selalu punya rancangan di belakangnya, dan rancangan selalu menunjuk kepada yang merancang. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Kata untuk langit bertakrif, sama seperti keempat kata sebelumnya. Ketertentuan itu bertahan sampai 91:6 dan baru terputus di 91:7. Jadi enam yang pertama disebut Allah sebagai yang sudah dikenal, dan yang ketujuh tidak. Yang ketujuh itulah yang menjadi pokok pembicaraan di tiga ayat sesudahnya, dan ketiadaan kata sandangnya sudah menandainya sejak awal. Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.
  • Langit benda terbesar yang disebut di dalam rangkaian ini, dan ia diletakkan di ayat kelima dari tujuh, bukan di ayat pertama atau terakhir. Yang pertama matahari dan yang terakhir jiwa. Jadi Allah menaruh yang paling besar di tengah dan yang paling dalam di ujung. Apa yang menentukan urutan sebuah daftar: besarnya, atau kedekatannya dengan yang membacanya? Yang disusun selalu punya rancangan, dan rancangan selalu menunjuk kepada Yang merancang.