كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
Kaum Samud mendustakan karena kelampauan-batas mereka,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَاkadzdzabat tsamuudu bi-thaghwaahaakaum Samud mendustakan karena kelampauan-batas mereka
Terjemahan per kata (3 kata)
- كَذَّبَتْkadzdzabattelah mendustakan
- ثَمُودُtsamuuduTsamud
- بِطَغْوَاهَاbi-thaghwaahaakarena kelampauan-batas mereka
Inti bacaan
Transisi menuju contoh historis: 'kaum Tsamud mendustakan karena kelampauan-batas mereka', pengenalan kisah konkret yang mengilustrasikan konsekuensi dari jiwa yang gagal mengembangkan dirinya secara positif.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِطَغْوَاهَا, bi-thaghwaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melampaui batas. Ia dipakai di 39 ayat, antara lain 2:15, 20:24, 20:43, 79:17, 89:11, dan 96:6. Di 20:24 dan 79:17 akar itu dipakai untuk seorang penguasa yang melampaui batas, dan di 89:11 untuk kaum-kaum yang melampaui batas di negeri mereka.
Jadi akar (بِطَغْوَاهَا, bi-thaghwaahaa) menyebut pelampauan batas oleh perseorangan dan oleh kaum. Di ayat ini ia dipakai untuk sebuah kaum dan disandarkan kepada mereka dengan kata ganti kepemilikan, sehingga yang disebut pelampauan batas yang menjadi milik mereka sendiri, bukan yang ditimpakan dari luar.
Huruf (بِ, bi) di depan kata itu menandai sebab. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa mereka mendustakan dan mereka melampaui batas, melainkan bahwa pendustaan itu terjadi karena pelampauan batasnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "karena", memakai kata sebab yang sama.
Ayat ini membuka bagian ketiga dari surahnya. Tujuh ayat pertama sumpah, tiga ayat berikutnya pernyataan tentang jiwa, dan lima ayat terakhir sebuah contoh. Jadi lima belas ayatnya terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda jenisnya, dan yang terakhir berupa cerita, bukan pernyataan.
Kata (كَذَّبَتْ, kadzdzabat) berbentuk lampau dan berjenis perempuan, menyesuaikan nama kaumnya. Akarnya berarti berdusta. Ia dipakai di 257 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Yang tidak disebut di ayat ini objeknya: tidak dikatakan mendustakan apa. Keterangannya baru terbaca dari 91:13 dan 91:14, dua ayat kemudian.
Ayat ini membuka bagian ketiga dari surahnya. Tujuh ayat pertama sumpah, tiga ayat berikutnya pernyataan tentang jiwa, dan lima ayat terakhir sebuah contoh. Jadi lima belas ayatnya terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda jenisnya, dan yang terakhir berupa cerita, bukan pernyataan.
Kata (كَذَّبَتْ, kadzdzabat) berbentuk lampau dan berjenis perempuan, menyesuaikan nama kaumnya. Akarnya berarti berdusta. Ia dipakai di 257 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Yang tidak disebut di ayat ini objeknya: tidak dikatakan mendustakan apa. Keterangannya baru terbaca dari 91:13 dan 91:14, dua ayat kemudian. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian ketiga dari surahnya dengan sebuah contoh, dan kata yang menyebut sebabnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 39 ayat, antara lain 2:15, 20:24, 20:43, 79:17, 89:11, dan 96:6.
Di 20:24 dan 79:17 akar itu dipakai untuk seorang penguasa yang melampaui batas, dan di 89:11 untuk kaum-kaum yang melampaui batas di negeri mereka. Jadi akar yang sama menyebut pelampauan batas oleh perseorangan dan oleh kaum. Di ayat ini ia disandarkan kepada mereka dengan kata ganti kepemilikan, sehingga yang disebut pelampauan batas yang menjadi milik mereka sendiri.
Huruf di depan kata itu menandai sebab. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa mereka mendustakan dan mereka melampaui batas, melainkan bahwa pendustaan itu terjadi karena pelampauan batasnya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya.
Lima belas ayat surah ini terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda jenisnya: tujuh ayat sumpah, tiga ayat pernyataan tentang jiwa, dan lima ayat contoh. Yang terakhir berupa cerita, bukan pernyataan. Jadi Al-Qur'an menutup surah ini dengan satu peristiwa yang sudah terjadi, sesudah menyatakan kaidahnya lebih dulu. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
Renungan dan Hikmah
- Huruf di depan kata yang menyebut pelampauan batas menandai sebab. Jadi yang dinyatakan Allah bukan sekadar bahwa mereka mendustakan dan mereka melampaui batas, melainkan bahwa pendustaan itu terjadi karena pelampauan batasnya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan urutan sebab itu tidak biasa dibayangkan orang. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Mana yang lebih dulu pada sebuah kaum: pendustaannya, atau pelampauan batas yang melahirkannya?
- Akar kata itu dipakai di 39 ayat, antara lain 2:15, 20:24, 20:43, 79:17, 89:11, dan 96:6. Di 20:24 dan 79:17 Allah memakainya untuk seorang penguasa yang melampaui batas, dan di 89:11 untuk kaum-kaum yang melampaui batas di negeri mereka. Jadi akar yang sama menyebut pelampauan batas oleh perseorangan dan oleh kaum. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
- Kata itu disandarkan kepada mereka dengan kata ganti kepemilikan, sehingga yang disebut pelampauan batas yang menjadi milik mereka sendiri, bukan yang ditimpakan dari luar. Kepemilikan itu sejalan dengan kepemilikan pada kata-kata di tujuh ayat sumpahnya. Jadi apa yang menjadi milik sesuatu tidak bisa dianggap gangguan yang datang dari tempat lain. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
- Lima belas ayat surah ini terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda jenisnya: tujuh ayat sumpah, tiga ayat pernyataan tentang jiwa, dan lima ayat contoh. Yang terakhir berupa cerita, bukan pernyataan. Jadi Allah menutup surah ini dengan satu peristiwa yang sudah terjadi, sesudah menyatakan kaidahnya lebih dulu di bagian sebelumnya. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
- Allah tidak menyebutkan mendustakan apa di ayat ini. Keterangannya baru terbaca dari 91:13 dan 91:14, dua ayat kemudian. Jadi pendustaannya disebut lebih dulu dan isinya menyusul belakangan, sama seperti pola di 98:1 yang menyebut nama buktinya lebih dulu. Apa yang ditahan sebentar selalu lebih diperhatikan daripada apa yang diberikan sekaligus. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.
- Yang dipakai Allah sebagai penutup surah ini bukan ancaman tentang masa depan melainkan peristiwa yang sudah terjadi. Sebuah kaidah yang disusul contoh yang sudah terjadi berdiri berbeda dari kaidah yang disusul ancaman. Yang sudah terjadi tidak bisa dibantah dengan mengatakan belum tentu, dan itulah yang membuat contoh lebih sulit ditolak daripada peringatan. Yang mendahului bukan pendustaannya melainkan pelampauan batasnya, dan Allah menandainya.