إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا

Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَاidzi nba'atsa asyqaahaaketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِذِidziketika
  2. انْبَعَثَnba'atsabangkit
  3. أَشْقَاهَاasyqaahaaorang paling celaka di antaranya

Inti bacaan

Peran individu dalam kejahatan kolektif: 'ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka', pengakuan bahwa tindakan destruktif sering dipicu oleh individu tertentu yang bertindak atas nama atau dengan dukungan kelompok.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَشْقَاهَا, asyqaahaa) berbentuk elatif definit, dan ia diterjemahkan dengan huruf kecil "yang paling celaka", konsisten dengan pola elatif yang dipakai di seluruh proyek, antara lain di 87:11. Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akar (أَشْقَاهَا, asyqaahaa) berarti celaka dan payah. Akar itu dipakai di 12 ayat, antara lain 11:105, 11:106, 19:4, 20:2, 20:117, dan 20:123. Di 20:2 dan 20:117 akar itu dipakai untuk kesusahan yang menimpa seseorang, dan di 11:106 untuk keadaan di akhirat. Jadi akar yang sama menyebut kesusahan di dunia dan kecelakaan di akhirat.

Kata kerja (انْبَعَثَ, inba'atsa) berasal dari akar yang berarti membangkitkan, dan bentuknya bentuk yang menyatakan bangkit atas dorongan sendiri. Akar yang sama dipakai di banyak ayat untuk pembangkitan sesudah mati, sehingga satu akar memikul bangkitnya seseorang untuk mengerjakan sesuatu dan bangkitnya manusia dari kubur.

Kata (أَشْقَاهَا, asyqaahaa) memuat kata ganti kepemilikan yang menunjuk kembali kepada kaumnya. Jadi yang disebut bukan orang yang paling celaka di antara seluruh manusia melainkan yang paling celaka di antara mereka. Ketelitian itu perlu dijaga, sebab elatif yang disandarkan selalu terbatas pada kelompok yang menjadi sandarannya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa yang bangkit satu orang, sedangkan yang mendustakan di 91:11 seluruh kaumnya. Jadi perbuatan satu orang disebut sebagai kelanjutan dari sikap seluruh kaumnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan 91:14 kemudian menimpakan akibatnya kepada mereka semua.

Kata kerja (انْبَعَثَ, inba'atsa) berasal dari akar yang berarti membangkitkan, dan bentuknya bentuk yang menyatakan bangkit atas dorongan sendiri. Akar yang sama dipakai di banyak ayat untuk pembangkitan sesudah mati, sehingga satu akar memikul bangkitnya seseorang untuk mengerjakan sesuatu dan bangkitnya manusia dari kubur.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa yang bangkit satu orang, sedangkan yang mendustakan di 91:11 seluruh kaumnya. Jadi perbuatan satu orang disebut sebagai kelanjutan dari sikap seluruh kaumnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan 91:14 kemudian menimpakan akibatnya kepada mereka semua. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut bangkitnya satu orang dari kaum itu, dan kata yang menyebutnya berbentuk elatif definit yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 12 ayat, antara lain 11:105, 11:106, 19:4, 20:2, 20:117, dan 20:123.

Di 20:2 dan 20:117 akar itu dipakai untuk kesusahan yang menimpa seseorang, dan di 11:106 untuk keadaan di akhirat. Jadi akar yang sama menyebut kesusahan di dunia dan kecelakaan di akhirat, dan Al-Qur'an tidak memisahkan keduanya menjadi akar yang berbeda.

Kata itu memuat kata ganti kepemilikan yang menunjuk kembali kepada kaumnya. Jadi yang disebut bukan orang yang paling celaka di antara seluruh manusia melainkan yang paling celaka di antara mereka. Ketelitian itu perlu dijaga, sebab elatif yang disandarkan selalu terbatas pada kelompok yang menjadi sandarannya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa yang bangkit satu orang, sedangkan yang mendustakan di 91:11 seluruh kaumnya. Jadi perbuatan satu orang disebut sebagai kelanjutan dari sikap seluruh kaumnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan 91:14 kemudian menimpakan akibatnya kepada mereka semua. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang bangkit satu orang, sedangkan yang mendustakan di 91:11 seluruh kaumnya. Jadi perbuatan satu orang disebut Allah sebagai kelanjutan dari sikap seluruh kaumnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan 91:14 kemudian menimpakan akibatnya kepada mereka semua. Apa yang membuat sebuah kaum menanggung perbuatan satu orang di antara mereka? Jarak itu ditutup oleh ayat-ayat sesudahnya. Di 91:13 seorang utusan memperingatkan mereka tentang unta betina Allah dan giliran minumnya, dan di 91:14 kata kerjanya kembali jamak: mereka mendustakannya lalu menyembelihnya. Jadi yang bangkit satu orang, tetapi yang menyembelih disebut mereka. Al-Quran tidak menerangkan siapa yang memegang pisaunya, dan susunan itu memang tidak memerlukannya. Satu tangan bergerak karena banyak tangan lain tidak menahannya.
  • Kata itu memuat kata ganti kepemilikan yang menunjuk kembali kepada kaumnya. Jadi yang disebut bukan orang yang paling celaka di antara seluruh manusia melainkan yang paling celaka di antara mereka. Ketelitian itu perlu dijaga, sebab elatif yang disandarkan selalu terbatas pada kelompok yang menjadi sandarannya, dan Allah memang menyandarkannya.
  • Akar kata itu dipakai di 12 ayat, antara lain 11:105, 11:106, 19:4, 20:2, 20:117, dan 20:123. Di 20:2 dan 20:117 Allah memakainya untuk kesusahan yang menimpa seseorang, dan di 11:106 untuk keadaan di akhirat. Jadi akar yang sama menyebut kesusahan di dunia dan kecelakaan di akhirat, dan Al-Qur'an tidak memisahkan keduanya.
  • Kata kerja yang dipakai berbentuk yang menyatakan bangkit atas dorongan sendiri, bukan yang digerakkan orang lain. Akar yang sama dipakai Allah di banyak ayat untuk pembangkitan sesudah mati. Jadi satu akar memikul bangkitnya seseorang untuk mengerjakan sesuatu dan bangkitnya manusia dari kubur, dan yang pertama dikerjakan sendiri sedangkan yang kedua tidak.
  • Yang dipilih Allah untuk bangkit bukan yang paling kuat dan bukan yang paling berkuasa, melainkan yang paling celaka di antara mereka. Jadi yang paling dahulu bergerak justru yang paling rusak keadaannya. Sesuatu yang buruk biasanya menemukan orang yang paling tidak punya apa-apa untuk kehilangan, dan orang itulah yang paling mudah didorong ke depan. Kaum yang hendak melakukan sesuatu yang tak berani mereka lakukan sendiri selalu menemukan orang seperti itu di antara mereka. Ia tidak perlu diperintah dengan terang; cukup dibiarkan merasa bahwa keberaniannya dihargai. Dan ketika akibatnya datang, tidak ada yang merasa menyuruh.
  • Kata di awal ayat menandai waktu, sehingga ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan waktu bagi pendustaan di 91:11. Jadi Allah tidak menceritakan urutan peristiwanya melainkan menandai satu titik di dalamnya. Sebuah cerita yang cuma menandai titik-titiknya menyerahkan penyambungan kepada pembacanya, dan lima ayat terakhir surah ini seluruhnya berjalan begitu. Yang bangkit satu orang, dan yang menanggung akibatnya seluruh kaumnya di ayat berikutnya. Cara bercerita seperti itu menuntut pembacanya bekerja. Yang diberikan cuma titik-titiknya, dan sambungan antartitik harus dibuat sendiri. Yang membaca cepat akan melihat sebuah kisah tentang kaum di masa lalu; yang berhenti sejenak akan melihat susunan yang tidak terikat pada kaum mana pun.