فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka, “Unta betina Allah, dan giliran minumnya!”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِfa-qaala lahum rasuulu llaahilalu Rasul Allah berkata kepada mereka
- نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَاnaaqata llaahi wa-suqyaahaaunta betina Allah, dan giliran minumnya
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَقَالَfa-qaalalalu ia berkata
- لَهُمْlahumkepada mereka
- رَسُولُrasuulurasul
- اللَّهِllaahiAllah
- نَاقَةَnaaqataunta betina
- اللَّهِllaahiAllah
- وَسُقْيَاهَاwa-suqyaahaadan minumannya
Inti bacaan
Peringatan yang jelas dari utusan: 'lalu Rasul Allah berkata kepada mereka: (biarkanlah) unta betina Allah dan (giliran) minumnya', instruksi konkret yang seharusnya mudah diikuti, ujian sederhana yang menguji ketaatan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka dan ditutup di dalam ayat ini sendiri, dan hal itu dikonfirmasi oleh kata kerja (فَقَالَ, fa-qaala) dari akar q-w-l lewat morfologi. Rangkaian (نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا, naaqata llaahi wa-suqyaahaa) berbentuk akusatif elips khas Arab, yaitu nasb alaa t-tahdiir, susunan peringatan: kata kerjanya dibuang dan cuma objeknya yang tertulis. Ia diterjemahkan literal tanpa menambahkan kata kerja tersirat, mempertahankan bentuk seruan elips aslinya.
Rangkaian (نَاقَةَ اللَّهِ, naaqata llaahi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akar yang berarti unta betina itu dipakai di 7 ayat, yaitu 7:73, 7:77, 11:64, 17:59, 26:155, 54:27, dan ayat ini. Jadi seekor binatang disebut di tujuh ayat, dan di sini ia disandarkan langsung kepada nama Allah.
Penyandaran itu patut dicatat. Binatang itu bukan milik siapa pun di antara mereka melainkan disebut sebagai milik Allah. Bandingkan dengan 104:6, tempat api disandarkan kepada nama Allah, dan رَسُولُ اللَّهِ di ayat ini juga memakai penyandaran yang sama. Jadi penyandaran langsung kepada nama-Nya dipakai untuk hal yang paling menentukan di dalam sebuah peristiwa.
Kata (وَسُقْيَاهَا, wa-suqyaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti memberi minum. Ia dipakai di 24 ayat, dan artinya memberi minum. Bentuk yang dipakai di sini menyebut giliran minumnya, yaitu hak yang sudah ditetapkan. Jadi yang diperingatkan bukan cuma binatangnya melainkan juga bagian yang menjadi haknya.
Susunan (نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا, naaqata llaahi wa-suqyaahaa) tanpa kata kerja itu perlu dijaga di dalam terjemahan. Bahasa Indonesia menahannya dengan menyebut kedua bendanya saja diikuti tanda seru, memakai cara lain untuk menahan kemendesakan yang sama. Menambahkan kata kerja seperti jagalah akan mengubah peringatan yang terputus menjadi kalimat yang tenang dan lengkap.
Rangkaian (نَاقَةَ اللَّهِ, naaqata llaahi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akar yang berarti unta betina itu dipakai di 7 ayat, yaitu 7:73, 7:77, 11:64, 17:59, 26:155, 54:27, dan 91:13. Jadi seekor binatang disebut di tujuh ayat, dan di sini ia disandarkan langsung kepada nama Allah.
Penyandaran itu patut dicatat. Binatang itu bukan milik siapa pun di antara mereka melainkan disebut sebagai milik Allah. Bandingkan dengan 104:6, tempat api disandarkan kepada nama Allah, dan رَسُولُ اللَّهِ di ayat ini juga memakai penyandaran yang sama. Apa yang berubah pada sebuah benda ketika ia disebut sebagai milik Allah, bukan milik siapa pun di antara manusia? Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.
Tafsiran
Ayat ini mencatat peringatan yang disampaikan kepada mereka, dan susunannya berbentuk akusatif elips, yaitu susunan yang kata kerjanya dibuang dan cuma objeknya yang tertulis. Susunan itu khas untuk peringatan yang mendesak, dan menambahkan kata kerja ke dalam terjemahan akan mengubahnya menjadi kalimat yang tenang dan lengkap.
Rangkaian yang menyebut binatangnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya dipakai di 7 ayat, yaitu 7:73, 7:77, 11:64, 17:59, 26:155, 54:27, dan ayat ini. Di sini ia disandarkan langsung kepada nama Allah.
Penyandaran itu patut dicatat. Binatang itu bukan milik siapa pun di antara mereka melainkan disebut sebagai milik Allah. Bandingkan dengan 104:6, tempat api disandarkan kepada nama Allah, dan رَسُولُ اللَّهِ di ayat ini juga memakai penyandaran yang sama. Jadi penyandaran langsung kepada nama-Nya dipakai untuk hal yang paling menentukan di dalam sebuah peristiwa.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 24 ayat. Bentuk yang dipakai menyebut giliran minumnya, yaitu hak yang sudah ditetapkan. Jadi yang diperingatkan bukan cuma binatangnya melainkan juga bagian yang menjadi haknya, dan keduanya disebut dalam satu tarikan tanpa kata kerja.
Renungan dan Hikmah
- Susunan ayat ini berbentuk akusatif elips, yaitu susunan yang kata kerjanya dibuang dan cuma objeknya yang tertulis. Susunan itu khas untuk peringatan yang mendesak. Menambahkan kata kerja ke dalam terjemahan akan mengubah peringatan yang terputus menjadi kalimat yang tenang dan lengkap, dan kemendesakannya akan hilang bersama tambahan itu. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum. Mengapa perkara sekecil giliran minum seekor binatang cukup memutuskan nasib satu kaum?
- Binatang itu bukan milik siapa pun di antara mereka melainkan disebut sebagai milik Allah. Bandingkan dengan 104:6, tempat api disandarkan kepada nama-Nya, dan sebutan bagi utusan di ayat ini juga memakai penyandaran yang sama. Jadi penyandaran langsung kepada nama-Nya dipakai untuk hal yang paling menentukan di dalam sebuah peristiwa, dan di sini ia dipakai untuk seekor binatang. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 24 ayat. Bentuk yang dipakai menyebut giliran minumnya, yaitu hak yang sudah ditetapkan. Jadi yang diperingatkan Allah bukan cuma binatangnya melainkan juga bagian yang menjadi haknya, dan keduanya disebut dalam satu tarikan tanpa kata kerja di antaranya. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.
- Akar kata untuk binatang itu dipakai di 7 ayat, yaitu 7:73, 7:77, 11:64, 17:59, 26:155, 54:27, dan 91:13. Jadi seekor binatang disebut Allah di tujuh tempat yang berbeda di seluruh Al-Qur'an. Sesuatu yang diulang di tujuh tempat tidak disebut karena kebetulan, dan yang diperkarakan di ketujuhnya selalu bagaimana ia diperlakukan. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.
- Peringatan disampaikan sebelum perbuatannya terjadi, dan 91:14 baru menyebut apa yang mereka kerjakan sesudahnya. Jadi mereka tidak dikenai akibat sebelum diberi tahu. Allah menaruh peringatan lebih dulu di dalam urutan ceritanya, dan urutan itu menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa mereka tidak tahu. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.
- Yang menjadi pokok peringatan giliran minum seekor binatang, bukan perkara besar yang menyangkut banyak orang. Jadi Allah memakai perkara yang tampak kecil sebagai ujian bagi sebuah kaum. Yang tampak sepele ternyata cukup untuk memutuskan nasib mereka semua, dan itu sejalan dengan 91:9 dan 91:10 yang juga memakai satu perbuatan sebagai pemisah. Perkara sekecil giliran minum ternyata cukup untuk memutuskan nasib sebuah kaum.