وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا

Dan Dia tidak takut akan akibatnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَاwa-laa yakhaafu 'uqbaahaadan Dia tidak takut akan akibatnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَخَافُyakhaafutakut
  3. عُقْبَاهَا'uqbaahaaakibatnya

Inti bacaan

Kepastian tindakan tanpa keraguan: 'dan Dia tidak takut akan akibatnya', penutup surah yang menegaskan bahwa keadilan ditegakkan tanpa keraguan atau kekhawatiran terhadap konsekuensinya, otoritas yang mutlak dan percaya diri.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عُقْبَاهَا, 'uqbaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia objek bagi (يَخَافُ, yakhaafu) yang mendahuluinya. Akarnya berarti tumit dan yang menyusul di belakang. Ia dipakai di 74 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk yang datang menyusul, untuk akibat, dan untuk tumit. Jadi satu akar memikul apa yang mengikuti di belakang dan akibat yang menyusul sebuah perbuatan.

Kata kerja (يَخَافُ, yakhaafu) berbentuk sekarang dan berbentuk pengingkaran, dan (عُقْبَاهَا, 'uqbaahaa) berdiri sebagai objeknya. Yang tidak disebut di ayat ini pelakunya: tidak dinyatakan dengan terang siapa yang tidak takut. Susunan Arabnya membuka dua pembacaan, yaitu Yang menimpakan di 91:14 dan orang yang menyembelih. Al-Qur'an tidak memastikan yang mana.

Terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama, yaitu bahwa Dia tidak takut akan akibatnya, sebab pelaku terdekat di 91:14 adalah Tuhan mereka. Pembacaan itu dicatat alih-alih ditutup diam-diam, dan pembacaan yang lain tetap punya dasar di dalam bahasanya.

Pembacaan yang pertama menyatakan sesuatu yang khas. Yang menimpakan tidak perlu memperhitungkan akibat dari apa yang ditimpakan-Nya, sebab tidak ada pihak yang bisa menuntut-Nya. Manusia selalu memperhitungkan akibat sebelum bertindak, dan perhitungan itu datang dari kemungkinan dituntut. Ayat ini menyatakan bahwa kemungkinan itu tidak ada.

Susunan penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan ajakan, tidak berakhir dengan ancaman kepada pembacanya, dan tidak berakhir dengan tawaran jalan keluar. Ia berakhir dengan satu keterangan tentang Yang bertindak. Jadi surah yang dibuka dengan tujuh sumpah tentang benda-benda ditutup dengan satu kalimat tentang kedudukan Yang membuat semuanya.

Pembacaan yang pertama menyatakan sesuatu yang khas. Yang menimpakan tidak perlu memperhitungkan akibat dari apa yang ditimpakan-Nya, sebab tidak ada pihak yang bisa menuntut-Nya. Manusia selalu memperhitungkan akibat sebelum bertindak, dan perhitungan itu datang dari kemungkinan dituntut. Ayat ini menyatakan bahwa kemungkinan itu tidak ada.

Susunan penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan ajakan, tidak berakhir dengan ancaman kepada pembacanya, dan tidak berakhir dengan tawaran jalan keluar. Ia berakhir dengan satu keterangan tentang Yang bertindak. Jadi surah yang dibuka dengan tujuh sumpah tentang benda-benda ditutup dengan satu kalimat tentang kedudukan Yang membuat semuanya. Surah ini berakhir pada kedudukan Yang bertindak, bukan pada nasib yang dikenai tindakan. Surah ini berakhir pada kedudukan Yang bertindak, bukan pada nasib yang dikenai tindakan.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menyatakan bahwa akibatnya tidak ditakuti, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 74 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk yang datang menyusul, untuk akibat, dan untuk tumit.

Yang tidak disebut di ayat ini pelakunya: tidak dinyatakan dengan terang siapa yang tidak takut. Susunan Arabnya membuka dua pembacaan, yaitu Yang menimpakan di 91:14 dan orang yang menyembelih. Al-Qur'an tidak memastikan yang mana, dan terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama sebab pelaku terdekat di 91:14 adalah Tuhan mereka.

Pembacaan yang pertama menyatakan sesuatu yang khas. Yang menimpakan tidak perlu memperhitungkan akibat dari apa yang ditimpakan-Nya, sebab tidak ada pihak yang bisa menuntut-Nya. Manusia selalu memperhitungkan akibat sebelum bertindak, dan perhitungan itu datang dari kemungkinan dituntut. Ayat ini menyatakan bahwa kemungkinan itu tidak ada.

Susunan penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan ajakan, tidak berakhir dengan ancaman kepada pembacanya, dan tidak berakhir dengan tawaran jalan keluar. Ia berakhir dengan satu keterangan tentang Yang bertindak. Jadi surah yang dibuka dengan tujuh sumpah tentang benda-benda ditutup dengan satu kalimat tentang kedudukan Yang membuat semuanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak menyatakan dengan terang siapa yang tidak takut di ayat ini. Susunan Arabnya membuka dua pembacaan, yaitu Yang menimpakan di 91:14 dan orang yang menyembelih. Al-Qur'an tidak memastikan yang mana, dan terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama sebab pelaku terdekat di ayat sebelumnya adalah Tuhan mereka. Ketidakpastian itu dicatat alih-alih ditutup diam-diam. Mencatat ketidakpastian itu jauh lebih berat daripada memilih salah satu diam-diam. Pembaca yang diberi satu pembacaan tanpa diberi tahu ada pembacaan lain akan mengira perkaranya sudah selesai, dan sesudah itu ia tidak punya alasan memeriksanya lagi.
  • Yang menimpakan tidak perlu memperhitungkan akibat dari apa yang ditimpakan-Nya, sebab tidak ada pihak yang bisa menuntut-Nya. Manusia selalu memperhitungkan akibat sebelum bertindak, dan perhitungan itu datang dari kemungkinan dituntut. Allah menyatakan bahwa kemungkinan itu tidak ada. Apa yang membedakan tindakan yang bebas sepenuhnya dari tindakan yang selalu menoleh ke belakang?
  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 74 ayat. Akar yang sama memberi kata untuk yang datang menyusul, untuk akibat, dan untuk tumit. Jadi satu akar memikul apa yang mengikuti di belakang dan akibat yang menyusul sebuah perbuatan. Yang di belakang tubuh dan yang di belakang perbuatan dinamai dari satu sumber kata.
  • Surah ini tidak berakhir dengan ajakan, tidak berakhir dengan ancaman kepada pembacanya, dan tidak berakhir dengan tawaran jalan keluar. Ia berakhir dengan satu keterangan tentang Yang bertindak. Jadi surah yang dibuka Allah dengan tujuh sumpah tentang benda-benda ditutup dengan satu kalimat tentang kedudukan Yang membuat semuanya. Penutup tanpa ajakan meninggalkan pembacanya tanpa pekerjaan yang jelas, dan justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama. Ajakan bisa dijawab dengan niat, dan niat memberi rasa sudah menanggapi. Keterangan tentang Yang bertindak tidak bisa dijawab dengan apa pun selain diam.
  • Surah ini bergerak dari benda-benda besar di tujuh ayat pertama, ke jiwa di tiga ayat berikutnya, lalu ke sebuah peristiwa, dan berakhir pada kedudukan Yang bertindak. Jadi arah geraknya dari yang paling luar ke yang paling dalam, lalu ke yang paling tinggi. Allah tidak menyatakan susunan itu, dan urutan ayatnya sendiri yang mengerjakannya.
  • Kata terakhir surah ini menyebut akibat, dan yang dinyatakan bahwa akibat itu tidak ditakuti. Padahal seluruh surah ini tentang akibat: akibat menyucitumbuhkan jiwa, akibat menguburnya, dan akibat mendustakan. Jadi kata yang sama dipakai untuk apa yang menimpa manusia dan untuk apa yang tidak perlu ditakuti Allah, dan perbedaan kedudukan itu tidak diterangkan. Surah ini berakhir pada kedudukan Yang bertindak, bukan pada nasib yang dikenai tindakan. Perbedaan kedudukan itu sebenarnya inti seluruh surahnya. Bagi manusia, akibat adalah sesuatu yang menimpanya dan tidak bisa dihindarinya. Bagi Yang menimpakan, akibat bukan sesuatu yang datang dari luar. Menutup surah dengan perbedaan itu membuat semua yang disebut sebelumnya, tujuh sumpah dan sebuah kisah, terbaca sebagai satu keterangan tentang siapa yang berdiri di mana.