بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ

Demi malam apabila menutupi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰwa-l-layli idzaa yaghsyaademi malam apabila menutupi

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَاللَّيْلِwa-l-laylidan demi malam
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. يَغْشَىٰyaghsyaamenutupi

Inti bacaan

Pembukaan Al-Layl dengan sumpah demi malam: 'demi malam apabila menutupi', penggunaan fenomena harian yang familiar sebagai objek sumpah pembuka.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata kerja (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:154, 53:16, dan 92:1. Akarnya berarti menyelubungi. Ia dipakai di 26 ayat, antara lain 2:7, 7:41, 14:50, 24:40, dan 88:1.

Kesejajaran dengan 88:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana memberi nama bagi seluruh surahnya, yaitu peristiwa yang menyelimuti. Jadi akar yang menamai satu surah di juz ini juga menamai perbuatan malam di ayat pembuka surah ini, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) di sini berpelaku malam, bukan kantuk atau penutup pohon.

Di 3:154 akar itu dipakai untuk kantuk yang menutupi sekelompok orang, dan di 53:16 untuk sesuatu yang menutupi pohon sidrah. Jadi akar yang sama menyebut kantuk, penutup pohon, dan malam yang menutupi, dan yang menyatukannya sesuatu yang menyelimuti dari atas. Bentuk (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) berbentuk sekarang, berbeda dari bentuk lampau di 92:2.

Kata kerja (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang ditutupi malam itu. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu benda saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu, sehingga yang disumpahkan bukan malam secara umum melainkan malam pada saat ia menutupi. Susunan yang sama dipakai di 92:2, 89:4, dan 93:2, sehingga beberapa surah di juz ini memakai rangka yang sama.

Bentuk (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja di 92:2 berpola kelima dan berbentuk lampau. Jadi dua ayat sumpah yang berpasangan memakai dua bentuk waktu yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Seluruh dua puluh satu ayat surah ini berakhir dengan bunyi a panjang yang ditulis dengan alif maqsura. Jadi rimanya tidak terputus satu ayat pun, dan keseragaman itu berlaku dari ayat pertama sampai ayat terakhir tanpa satu kekecualian.

Rangkaian sumpah surah ini menyebut malam lebih dulu dan siang belakangan, kebalikan dari urutan di 91:1 sampai 91:4 yang menyebut matahari dan siang lebih dulu. Jadi dua surah yang berdekatan memakai urutan yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Bentuk (يَغْشَىٰ, yaghsyaa) berbentuk sekarang dan berorang ketiga tunggal, dan pelakunya malam yang disebut di depannya. Jadi yang menutupi malamnya sendiri, bukan pihak lain yang menutupkannya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.

Huruf waw di depan kata pertamanya huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 89:1, 91:1, 93:1, dan 95:1. Kata (إِذَا, idzaa) berdiri di antara keduanya, dan ia menandai waktu perbuatannya.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi malam yang menutupi, dan kata kerjanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:154, 53:16, dan 92:1. Akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:7, 7:41, 14:50, 24:40, dan 88:1.

Kesejajaran dengan 88:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana memberi nama bagi seluruh surahnya, yaitu peristiwa yang menyelimuti. Jadi akar yang menamai satu surah di juz ini juga menamai perbuatan malam di ayat pembuka surah ini.

Di 3:154 akar itu dipakai untuk kantuk yang menutupi sekelompok orang, dan di 53:16 untuk sesuatu yang menutupi pohon sidrah. Jadi akar yang sama menyebut kantuk, penutup pohon, dan malam yang menutupi, dan yang menyatukannya sesuatu yang menyelimuti dari atas.

Kata kerjanya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang ditutupi malam itu. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu benda saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.

Rangkaian sumpah surah ini menyebut malam lebih dulu dan siang belakangan, kebalikan dari urutan di 91:1 sampai 91:4 yang menyebut matahari dan siang lebih dulu. Jadi dua surah yang berdekatan memakai urutan yang berlawanan.

Huruf di depan kata pertamanya huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 89:1, 91:1, 93:1, dan 95:1.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:154, 53:16, dan 92:1, dan akarnya dipakai di 26 ayat termasuk 88:1. Kesejajaran dengan 88:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana memberi nama bagi seluruh surahnya, yaitu peristiwa yang menyelimuti. Jadi akar yang menamai satu surah di juz ini juga menamai perbuatan malam di sini, dan Allah tidak menghubungkan keduanya. Akar yang menamai satu surah dan menamai perbuatan malam di surah lain menandai keduanya sejajar tanpa satu kalimat.
  • Di 3:154 akar kata kerjanya dipakai Allah untuk kantuk yang menutupi sekelompok orang, dan di 53:16 untuk sesuatu yang menutupi pohon sidrah. Jadi akar yang sama menyebut kantuk, penutup pohon, dan malam yang menutupi, dan yang menyatukannya sesuatu yang menyelimuti dari atas sampai yang di bawahnya tidak terlihat. Kantuk, penutup pohon, dan malam berbagi satu gambaran, yaitu sesuatu yang turun menutupi dari atas. Rima yang seragam di seluruh surah mengikat dua puluh satu ayatnya menjadi satu tarikan bunyi.
  • Kata kerjanya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang ditutupi malam itu. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu benda saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin. Jadi Allah menyumpahkan perbuatan malam tanpa membatasi apa yang dikenainya. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan memastikannya sendiri mempersempit apa yang tertulis.
  • Rangkaian sumpah surah ini menyebut malam lebih dulu dan siang belakangan, kebalikan dari urutan di 91:1 sampai 91:4 yang menyebut matahari dan siang lebih dulu. Jadi dua surah yang berdekatan memakai urutan yang berlawanan, dan Allah tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun. Dua surah berdekatan yang memakai urutan berlawanan menandai bahwa urutan bukan hal yang kebetulan. Sesuatu yang menutupi dari atas menyembunyikan apa pun yang ada di bawahnya tanpa memilih.
  • Seluruh dua puluh satu ayat surah ini berakhir dengan bunyi a panjang yang ditulis dengan alif maqsura. Jadi rimanya tidak terputus satu ayat pun, dan keseragaman itu berlaku dari ayat pertama sampai ayat terakhir tanpa satu kekecualian. Al-Qur'an tidak menyatakan keseragaman itu dengan satu kata pun di dalam teksnya. Rima yang tidak terputus satu ayat pun di seluruh surah menandai satu bangunan bunyi yang utuh. Sesuatu yang menutupi dari atas menyembunyikan apa pun yang ada di bawahnya tanpa memilih.
  • Kata keduanya menandai waktu, sehingga yang disumpahkan Allah bukan malam secara umum melainkan malam pada saat ia menutupi. Susunan yang sama dipakai di 92:2, 89:4, dan 93:2. Apa yang berbeda antara menyumpahkan sebuah benda dan menyumpahkan benda itu pada saat ia sedang mengerjakan sesuatu? Menyumpahkan benda pada saat ia bekerja lebih sempit daripada menyumpahkan bendanya begitu saja. Rima yang seragam di seluruh surah mengikat dua puluh satu ayatnya menjadi satu tarikan bunyi.