Ayat 92:5

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ

Maka adapun orang yang memberi dan bertakwa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰfa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaamaka adapun orang yang memberi dan bertakwa

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَأَمَّاfa-ammaaadapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. أَعْطَىٰa'thaamemberi
  4. وَاتَّقَىٰwa-ttaqaadan bertakwa

Inti bacaan

Kriteria jalan pertama - kedermawanan dan kesadaran: 'maka adapun orang yang memberi dan bertakwa', kombinasi tindakan konkret (memberi) dan sikap batin (takwa) sebagai fondasi jalan positif.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya berarti memberi. Ia cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.

Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Kata (أَعْطَىٰ, a'thaa) di sini berpelaku manusia, bukan Yang berfirman seperti di 20:50.

Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya. Kata (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) menyusulnya, dan keduanya berdiri sebagai dua ciri berurutan.

Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.

Kata kerja (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berasal dari akar yang berarti menjaga dari bahaya. Akar itu dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama muncul lagi di 92:17 lewat kata untuk orang yang paling bertakwa.

Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 92:8. Jadi dua bagian surah ini terikat sebagai satu susunan berpasangan, dan susunan yang sama dipakai di 89:15 dan 89:16 pada surah lain.

Bentuk (مَنْ, man) kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut lewat sifatnya, bukan lewat namanya.

Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan. Bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan.

Bentuk (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.

Kata (مَنْ, man) berbaris sukun dan berkedudukan sebagai pokok kalimat bagi huruf pembuka di depannya. Jadi susunan ayat ini menaruh pihak yang dibicarakan lebih dulu dan perbuatannya menyusul, dan susunan yang sama dipakai di 92:8.

Tafsiran

Ayat ini membuka pembagian dua golongan berdasarkan arah usahanya, dan kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.

Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya.

Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya.

Kata kerja itu tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja.

Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat.

Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5, dan akarnya cuma dipakai di 12 ayat termasuk 93:5 dan 108:1. Di kedua surah tetangga itu akar yang sama menyebut pemberian Allah kepada yang disapa. Jadi akar yang menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Akar yang menyebut pemberian-Nya di dua surah tetangga dipakai untuk pemberian manusia di sini. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
  • Di 20:50 akar kata kerja ketiganya dipakai untuk pernyataan bahwa Allah memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Pemberian yang paling mendasar dan pemberian dengan harta berbagi satu akar tanpa satu keterangan. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
  • Kata kerja ketiganya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal Allah membiarkannya seluas mungkin tanpa satu batas pun. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan menyisipkannya mempersempit apa yang tertulis. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
  • Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Dua bagian yang sama panjangnya mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
  • Kata keduanya kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut Allah lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Jadi tidak ada seorang pun yang bisa menganggap ayatnya tentang orang lain saja. Menyebut orang lewat sifatnya menutup jalan keluar bagi siapa pun yang merasa tidak dimaksud. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
  • Kata kerja ketiga dan keempat disebut berurutan, yaitu memberi lalu bertakwa. Jadi Allah menaruh perbuatan yang tampak lebih dulu dan sikap batin belakangan. Apa yang berubah pada penilaian sebuah pemberian ketika yang disebut sesudahnya bukan besarnya melainkan sikap hati yang menyertainya? Menaruh perbuatan sebelum sikap batin membuat yang tampak dinilai bersama yang tidak tampak. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.

Ayat 92:6

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ

Dan membenarkan yang terbaik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰwa-shaddaqa bi-l-husnaadan membenarkan yang terbaik

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَصَدَّقَwa-shaddaqadan membenarkan
  2. بِالْحُسْنَىٰbi-l-husnaayang terbaik

Inti bacaan

Elemen ketiga jalan pertama - keyakinan pada kebaikan: 'dan membenarkan yang terbaik', kepercayaan aktif terhadap nilai dan janji tertinggi, melengkapi tindakan dan sikap dengan keyakinan yang kokoh.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata dipakai dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat.

Perbedaan kedua pemakaian itu patut dicatat. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 ia berdiri sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi satu benda yang sama dihadapi dengan dua sikap yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan apa benda itu. Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) di sini berdiri sesudah kata kerja yang membenarkan.

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) berbentuk elatif perempuan bertakrif dari akar yang berarti baik dan elok, dan apa yang dimaksud tidak dinamai di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Akar (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) berarti baik dan elok. Akar itu dipakai di 194 ayat, antara lain 2:83, 4:95, 10:26, 16:125, dan 55:60. Di 10:26 dan 55:60 akar itu dipakai untuk balasan terbaik bagi orang yang berbuat baik.

Kata kerja (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) berasal dari akar yang berarti benar dan jujur. Akar itu dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain.

Perbedaan itu perlu dijaga. Akar yang sama memberi kata untuk sedekah, antara lain di 2:196 dan 9:60, sehingga satu akar memikul membenarkan dan memberi. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) mendahuluinya, dan keduanya terikat sebagai satu satuan.

Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan. Jadi dua yang pertama menyangkut perbuatan dan sikap, dan yang ketiga menyangkut penerimaan atas sesuatu yang datang dari luar dirinya.

Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:5 dengan huruf waw, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok kalimat.

Bentuk (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) berbentuk lampau, sama seperti dua kata kerja di 92:5. Jadi tiga ciri golongan pertama seluruhnya disebut dengan bentuk yang menyatakan perbuatan yang sudah selesai, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun di antaranya sebagai yang masih berlangsung.

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) didahului huruf ba yang menyatakan sasaran pembenaran, sehingga yang dibenarkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Jadi perbuatan ketiga ini berbeda jenisnya dari dua yang pertama, sebab yang dua itu dikerjakan atas dirinya dan hartanya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi ciri golongan pertama: meyakini kebenaran yang terbaik, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini.

Perbedaan kedua pemakaian itu patut dicatat. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 ia berdiri sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi satu benda yang sama dihadapi dengan dua sikap yang berlawanan.

Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan bertakrif, dan apa yang dimaksud tidak dinamai di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain.

Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan.

Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan sasaran pembenaran, sehingga yang dibenarkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Jadi perbuatan ketiga ini berbeda jenisnya dari dua yang pertama, sebab yang dua itu dikerjakan atas dirinya dan hartanya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi Allah menaruh satu benda yang sama di hadapan dua sikap yang berlawanan. Satu kata untuk dua sikap berlawanan di dalam satu surah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.
  • Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan bertakrif, dan apa yang dimaksud tidak dinamai Allah di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama. Apa yang ditambahkan seseorang ke dalam ayat ini ketika ia memastikan sendiri apa yang dimaksud dengan yang terbaik? Yang terbaik yang tidak dinamai menuntut pembacanya menahan diri dari mengisinya sendiri. Sesuatu yang tidak dinamai tetap bisa diperselisihkan, dan surah ini menyebutnya dua kali.
  • Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan Allah bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain. Perbedaan itu menentukan: yang pertama tentang ucapannya sendiri, dan yang kedua tentang sikapnya terhadap ucapan orang lain. Membenarkan berbeda dari berkata benar, sebab yang pertama menyangkut sikap atas ucapan orang lain.
  • Akar kata kerjanya memberi kata untuk sedekah pula, antara lain di 2:196 dan 9:60. Jadi satu akar memikul membenarkan dan memberi, dan Allah tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkan keduanya barangkali bahwa memberi membuktikan kebenaran apa yang diucapkan seseorang. Membenarkan dan memberi berbagi satu akar, dan memberi membuktikan kebenaran yang diucapkan. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.
  • Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan. Jadi dua yang pertama menyangkut perbuatan dan sikap, dan yang ketiga menyangkut penerimaan atas sesuatu yang datang dari luar dirinya. Tiga ciri yang disebut berurutan bergerak dari perbuatan ke sikap lalu ke penerimaan dari luar. Sesuatu yang tidak dinamai tetap bisa diperselisihkan, dan surah ini menyebutnya dua kali.
  • Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:5 dengan huruf penyambung, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok kalimat yang disebut Allah di ayat sebelumnya. Kalimat yang dipecah menjadi dua ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang belum selesai. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.