Ayat 92:5
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ
Maka adapun orang yang memberi dan bertakwa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰfa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaamaka adapun orang yang memberi dan bertakwa
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- مَنْmanorang yang
- أَعْطَىٰa'thaamemberi
- وَاتَّقَىٰwa-ttaqaadan bertakwa
Inti bacaan
Kriteria jalan pertama - kedermawanan dan kesadaran: 'maka adapun orang yang memberi dan bertakwa', kombinasi tindakan konkret (memberi) dan sikap batin (takwa) sebagai fondasi jalan positif.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya berarti memberi. Ia cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.
Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Kata (أَعْطَىٰ, a'thaa) di sini berpelaku manusia, bukan Yang berfirman seperti di 20:50.
Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya. Kata (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) menyusulnya, dan keduanya berdiri sebagai dua ciri berurutan.
Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.
Kata kerja (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berasal dari akar yang berarti menjaga dari bahaya. Akar itu dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama muncul lagi di 92:17 lewat kata untuk orang yang paling bertakwa.
Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 92:8. Jadi dua bagian surah ini terikat sebagai satu susunan berpasangan, dan susunan yang sama dipakai di 89:15 dan 89:16 pada surah lain.
Bentuk (مَنْ, man) kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut lewat sifatnya, bukan lewat namanya.
Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan. Bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan.
Bentuk (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.
Kata (مَنْ, man) berbaris sukun dan berkedudukan sebagai pokok kalimat bagi huruf pembuka di depannya. Jadi susunan ayat ini menaruh pihak yang dibicarakan lebih dulu dan perbuatannya menyusul, dan susunan yang sama dipakai di 92:8.
Tafsiran
Ayat ini membuka pembagian dua golongan berdasarkan arah usahanya, dan kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.
Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya.
Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya.
Kata kerja itu tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja.
Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat.
Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5, dan akarnya cuma dipakai di 12 ayat termasuk 93:5 dan 108:1. Di kedua surah tetangga itu akar yang sama menyebut pemberian Allah kepada yang disapa. Jadi akar yang menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Akar yang menyebut pemberian-Nya di dua surah tetangga dipakai untuk pemberian manusia di sini. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
- Di 20:50 akar kata kerja ketiganya dipakai untuk pernyataan bahwa Allah memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Pemberian yang paling mendasar dan pemberian dengan harta berbagi satu akar tanpa satu keterangan. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Kata kerja ketiganya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal Allah membiarkannya seluas mungkin tanpa satu batas pun. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan menyisipkannya mempersempit apa yang tertulis. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Dua bagian yang sama panjangnya mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Kata keduanya kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut Allah lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Jadi tidak ada seorang pun yang bisa menganggap ayatnya tentang orang lain saja. Menyebut orang lewat sifatnya menutup jalan keluar bagi siapa pun yang merasa tidak dimaksud. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
- Kata kerja ketiga dan keempat disebut berurutan, yaitu memberi lalu bertakwa. Jadi Allah menaruh perbuatan yang tampak lebih dulu dan sikap batin belakangan. Apa yang berubah pada penilaian sebuah pemberian ketika yang disebut sesudahnya bukan besarnya melainkan sikap hati yang menyertainya? Menaruh perbuatan sebelum sikap batin membuat yang tampak dinilai bersama yang tidak tampak. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
Ayat 92:6
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ
Dan membenarkan yang terbaik,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰwa-shaddaqa bi-l-husnaadan membenarkan yang terbaik
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَصَدَّقَwa-shaddaqadan membenarkan
- بِالْحُسْنَىٰbi-l-husnaayang terbaik
Inti bacaan
Elemen ketiga jalan pertama - keyakinan pada kebaikan: 'dan membenarkan yang terbaik', kepercayaan aktif terhadap nilai dan janji tertinggi, melengkapi tindakan dan sikap dengan keyakinan yang kokoh.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata dipakai dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat.
Perbedaan kedua pemakaian itu patut dicatat. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 ia berdiri sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi satu benda yang sama dihadapi dengan dua sikap yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan apa benda itu. Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) di sini berdiri sesudah kata kerja yang membenarkan.
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) berbentuk elatif perempuan bertakrif dari akar yang berarti baik dan elok, dan apa yang dimaksud tidak dinamai di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
Akar (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) berarti baik dan elok. Akar itu dipakai di 194 ayat, antara lain 2:83, 4:95, 10:26, 16:125, dan 55:60. Di 10:26 dan 55:60 akar itu dipakai untuk balasan terbaik bagi orang yang berbuat baik.
Kata kerja (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) berasal dari akar yang berarti benar dan jujur. Akar itu dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain.
Perbedaan itu perlu dijaga. Akar yang sama memberi kata untuk sedekah, antara lain di 2:196 dan 9:60, sehingga satu akar memikul membenarkan dan memberi. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) mendahuluinya, dan keduanya terikat sebagai satu satuan.
Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan. Jadi dua yang pertama menyangkut perbuatan dan sikap, dan yang ketiga menyangkut penerimaan atas sesuatu yang datang dari luar dirinya.
Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:5 dengan huruf waw, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok kalimat.
Bentuk (وَصَدَّقَ, wa shaddaqa) berbentuk lampau, sama seperti dua kata kerja di 92:5. Jadi tiga ciri golongan pertama seluruhnya disebut dengan bentuk yang menyatakan perbuatan yang sudah selesai, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun di antaranya sebagai yang masih berlangsung.
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) didahului huruf ba yang menyatakan sasaran pembenaran, sehingga yang dibenarkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Jadi perbuatan ketiga ini berbeda jenisnya dari dua yang pertama, sebab yang dua itu dikerjakan atas dirinya dan hartanya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri golongan pertama: meyakini kebenaran yang terbaik, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini.
Perbedaan kedua pemakaian itu patut dicatat. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 ia berdiri sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi satu benda yang sama dihadapi dengan dua sikap yang berlawanan.
Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan bertakrif, dan apa yang dimaksud tidak dinamai di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain.
Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan sasaran pembenaran, sehingga yang dibenarkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Jadi perbuatan ketiga ini berbeda jenisnya dari dua yang pertama, sebab yang dua itu dikerjakan atas dirinya dan hartanya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 92:6 dan 92:9, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Di sini kata itu berdiri sesudah kata kerja yang berarti membenarkan, dan di 92:9 sesudah kata kerja yang berarti mendustakan. Jadi Allah menaruh satu benda yang sama di hadapan dua sikap yang berlawanan. Satu kata untuk dua sikap berlawanan di dalam satu surah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan bertakrif, dan apa yang dimaksud tidak dinamai Allah di dalam surah ini. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama. Apa yang ditambahkan seseorang ke dalam ayat ini ketika ia memastikan sendiri apa yang dimaksud dengan yang terbaik? Yang terbaik yang tidak dinamai menuntut pembacanya menahan diri dari mengisinya sendiri. Sesuatu yang tidak dinamai tetap bisa diperselisihkan, dan surah ini menyebutnya dua kali.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 155 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu benar. Jadi yang dinyatakan Allah bukan berkata benar melainkan membenarkan apa yang dikatakan pihak lain. Perbedaan itu menentukan: yang pertama tentang ucapannya sendiri, dan yang kedua tentang sikapnya terhadap ucapan orang lain. Membenarkan berbeda dari berkata benar, sebab yang pertama menyangkut sikap atas ucapan orang lain.
- Akar kata kerjanya memberi kata untuk sedekah pula, antara lain di 2:196 dan 9:60. Jadi satu akar memikul membenarkan dan memberi, dan Allah tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkan keduanya barangkali bahwa memberi membuktikan kebenaran apa yang diucapkan seseorang. Membenarkan dan memberi berbagi satu akar, dan memberi membuktikan kebenaran yang diucapkan. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.
- Ayat ini menutup dua ciri golongan pertama yang dimulai di 92:5, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: memberi, bertakwa, dan membenarkan. Jadi dua yang pertama menyangkut perbuatan dan sikap, dan yang ketiga menyangkut penerimaan atas sesuatu yang datang dari luar dirinya. Tiga ciri yang disebut berurutan bergerak dari perbuatan ke sikap lalu ke penerimaan dari luar. Sesuatu yang tidak dinamai tetap bisa diperselisihkan, dan surah ini menyebutnya dua kali.
- Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:5 dengan huruf penyambung, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok kalimat yang disebut Allah di ayat sebelumnya. Kalimat yang dipecah menjadi dua ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang belum selesai. Membenarkan menuntut ada sesuatu yang datang dari luar, dan itu tidak bisa dikerjakan sendirian.
Ayat 92:7
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
Maka Kami akan memudahkannya menuju kemudahan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰfa-sa-nuyassiruhu li-l-yusraamaka Kami akan memudahkannya menuju kemudahan
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَسَنُيَسِّرُهُfa-sa-nuyassiruhumaka Kami akan memudahkannya
- لِلْيُسْرَىٰli-l-yusraamenuju kemudahan
Inti bacaan
Hasil dari kombinasi tiga kualitas: 'maka Kami akan memudahkannya menuju kemudahan', janji bahwa kombinasi memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan akan membawa pada jalan yang semakin dimudahkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِلْيُسْرَىٰ, li-l-yusraa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:8 dan 92:7. Jadi kata itu cuma hidup di dua tempat, dan keduanya berada di surah yang berdekatan letaknya di dalam juz yang sama.
Kesejajaran antara surah ini dan surah 87 berulang beberapa kali. Selain kata itu, kata (الْأَشْقَى, al-asyqaa) juga cuma muncul di 87:11 dan 92:15, kata untuk menyucitumbuhkan diri muncul di 87:14 dan 92:18, dan kata untuk yang tertinggi di 87:1 dan 92:20.
Kesejajaran itu bertambah lagi lewat akar yang berarti sisi dan menjauhkan yang dipakai di 87:11 dan 92:17. Jadi lima tempat menghubungkan kedua surah, dan Al-Qur'an tidak menyatakan satu pun di antaranya dengan kalimat yang menyebut hubungan itu. Kata (لِلْيُسْرَىٰ, li-l-yusraa) di sini menjadi tujuan, bukan keadaan yang sudah dicapai.
Kata kerja (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) berpola kedua, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi mudah, bukan menjadi mudah sendiri. Bentuk yang sama dipakai di 87:8 dan di 92:10, sehingga tiga tempat memakai pola yang sama untuk perbuatan yang sama.
Huruf sin di dalam (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) menandai waktu yang akan datang, dan bentuk berorang pertama jamak menyatakan bahwa yang memudahkan Yang berfirman sendiri. Jadi ayat ini menyebut diri-Nya, sedangkan tiga ayat sumpah sebelumnya menyebut Dia sebagai pihak ketiga.
Kata (لِلْيُسْرَىٰ, li-l-yusraa) didahului huruf lam yang menyatakan tujuan, sehingga yang dinyatakan arah, bukan keadaan. Jadi yang dijanjikan bukan bahwa ia akan berada di dalam kemudahan melainkan bahwa ia akan dimudahkan menuju ke sana.
Akar kata kerjanya dan akar kata terakhirnya sama, yaitu akar yang berarti mudah dan ringan, sehingga perbuatan dan tujuannya berbagi satu sumber. Susunan yang mengulang akar seperti itu menguatkan tanpa menambah kata baru, dan susunan yang sama dipakai di 87:8 dan di 92:10. Kata (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) mendahuluinya, dan keduanya berasal dari satu akar.
Ayat ini menutup bagian tentang golongan pertama, dan susunannya sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:10. Jadi dua ayat penutup dua bagian yang berpasangan dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma kata terakhirnya.
Bentuk (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) memakai kata ganti objek yang menunjuk orang di 92:5, sehingga tiga ayat dari 92:5 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi seluruh bagian pertama bergantung pada satu penyebutan yang tidak diulang sekali pun.
Huruf fa di awal ayat menyatakan urutan yang rapat, sehingga akibatnya menyusul ciri-cirinya tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai di awal 92:10, sehingga dua ayat penutup dua bagian yang berpasangan memakai penyambung yang sama persis.
Tafsiran
Ayat ini menjanjikan kemudahan bagi golongan pertama, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:8 dan 92:7. Jadi kata itu cuma hidup di dua tempat, dan keduanya berada di surah yang berdekatan.
Kesejajaran antara surah ini dan surah 87 berulang beberapa kali. Selain kata itu, kata untuk orang yang paling celaka juga cuma muncul di 87:11 dan 92:15, kata untuk menyucitumbuhkan diri muncul di 87:14 dan 92:18, dan kata untuk yang tertinggi di 87:1 dan 92:20.
Kesejajaran itu bertambah lagi lewat akar yang dipakai di 87:11 dan 92:17. Jadi lima tempat menghubungkan kedua surah, dan Al-Qur'an tidak menyatakan satu pun di antaranya dengan kalimat yang menyebut hubungan itu.
Kata kerjanya berpola kedua, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi mudah, bukan menjadi mudah sendiri. Bentuk yang sama dipakai di 87:8 dan di 92:10, sehingga tiga tempat memakai pola yang sama untuk perbuatan yang sama.
Ayat ini menutup bagian tentang golongan pertama, dan susunannya sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:10. Jadi dua ayat penutup dua bagian yang berpasangan dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma kata terakhirnya.
Huruf di awal ayat menyatakan urutan yang rapat, sehingga akibatnya menyusul ciri-cirinya tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai di awal 92:10, sehingga dua ayat penutup dua bagian yang berpasangan memakai penyambung yang sama persis.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:8 dan 92:7. Kesejajaran antara kedua surah itu berulang: kata untuk orang yang paling celaka cuma di 87:11 dan 92:15, kata untuk menyucitumbuhkan diri di 87:14 dan 92:18, kata untuk yang tertinggi di 87:1 dan 92:20, dan satu akar lagi di 87:11 dan 92:17. Jadi lima tempat menghubungkan keduanya tanpa satu kalimat pun dari Allah yang menyebutnya. Lima tempat yang menghubungkan dua surah menandai keduanya sepasang tanpa satu kalimat penghubung.
- Kata kerjanya berpola kedua, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi mudah, bukan menjadi mudah sendiri. Bentuk yang sama dipakai Allah di 87:8 dan di 92:10, sehingga tiga tempat memakai pola yang sama untuk perbuatan yang sama. Jadi yang dijanjikan bukan keadaan yang datang sendiri melainkan perbuatan yang dikerjakan atasnya. Dimudahkan berbeda dari menjadi mudah, dan bentuk katanya sendiri yang menentukan yang mana. Lima tempat yang menghubungkan dua surah menandai keduanya tanpa satu kalimat penghubung.
- Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan tujuan, sehingga yang dinyatakan arah, bukan keadaan. Jadi yang dijanjikan Allah bukan bahwa ia akan berada di dalam kemudahan melainkan bahwa ia akan dimudahkan menuju ke sana. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab yang pertama sudah selesai dan yang kedua masih berjalan. Menyatakan arah berbeda dari menyatakan keadaan, dan satu huruf yang membedakan keduanya. Dimudahkan menuju sesuatu berbeda dari diberi sesuatu, sebab yang pertama masih menuntut jalan.
- Akar kata kerjanya dan akar kata terakhirnya sama, sehingga perbuatan dan tujuannya berbagi satu sumber. Susunan yang mengulang akar seperti itu menguatkan tanpa menambah kata baru, dan susunan yang sama dipakai Allah di 87:8 dan di 92:10. Jadi tiga tempat memakai cara menghemat kata yang sama persis. Mengulang akar menguatkan tanpa menambah kata, dan tiga tempat memakai cara yang sama persis. Lima tempat yang menghubungkan dua surah menandai keduanya tanpa satu kalimat penghubung.
- Huruf di dalam kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, dan bentuk berorang pertama jamak menyatakan bahwa yang memudahkan Allah sendiri. Jadi ayat ini menyebut diri-Nya, sedangkan tiga ayat sumpah sebelumnya menyebut Dia sebagai pihak ketiga, dan perpindahan itu tidak diterangkan. Menyebut diri sesudah tiga sumpah mengubah jarak antara Yang berfirman dan yang membacanya. Dimudahkan menuju sesuatu berbeda dari diberi sesuatu, sebab yang pertama masih menuntut jalan.
- Ayat ini menutup bagian tentang golongan pertama, dan susunannya sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:10. Jadi dua ayat penutup dua bagian yang berpasangan dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma kata terakhirnya. Apa yang dinyatakan dua akibat yang berlawanan ketika keduanya diucapkan dengan kata kerja yang sama persis? Dua akibat berlawanan yang diucapkan dengan kata kerja sama menuntut penimbangan, bukan penerimaan.
Ayat 92:8
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰwa-ammaa man bakhila wa-staghnaaadapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- مَنْmanorang yang
- بَخِلَbakhilakikir
- وَاسْتَغْنَىٰwa-staghnaadan merasa cukup
Inti bacaan
Kriteria jalan kedua - kekikiran dan kesombongan: 'adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup', kombinasi keengganan berbagi dan ilusi kemandirian yang mengabaikan ketergantungan pada Allah.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(tidak perlu pertolongan Allah)" tidak dipakai. Kata kerja (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) berdiri sendiri tanpa objek, dan menyisipkan keterangan tentang dari siapa ia merasa cukup akan menambah kata yang tidak ada di dalam Arabnya.
Kata (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:6 dan 92:8; di 64:6 yang berkecukupan Allah, sedangkan di sini yang merasa cukup manusia. Akarnya berarti cukup dan tidak butuh. Ia dipakai di 72 ayat, antara lain 3:97, 10:68, 47:38, 88:7, dan 92:11. Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan.
Akar yang sama muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk orang yang merasa dirinya cukup, dan sekali untuk harta yang ternyata tidak mencukupkan. Kata (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) di sini berpelaku manusia, dan objeknya tidak disebut.
Kesejajaran itu patut dicatat lebih jauh. Yang merasa cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan tidak mencukupkan di 92:11, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan jaraknya tiga ayat.
Kata kerja (بَخِلَ, bakhila) berasal dari akar yang berarti kikir. Akar itu cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan ayat ini. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata kedua di ayat ini.
Jadi 47:38 memuat kedua akar yang dipakai di ayat ini, yaitu kikir dan merasa cukup, dan di sana keduanya juga disandingkan. Jadi dua tempat memakai pasangan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (بَخِلَ, bakhila) mendahuluinya, dan keduanya berdiri sebagai dua ciri berurutan.
Kata (وَأَمَّا, wa ammaa) huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 92:5. Jadi dua bagian surah ini terikat sebagai satu susunan berpasangan, dan huruf pembukanya sendiri yang menandai bahwa keduanya harus dibaca bersama.
Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan. Jadi dua ayat pembuka dua bagian yang berpasangan dibangun dengan rangka yang sama persis. Bentuk (بَخِلَ, bakhila) berbentuk lampau dan berpola pertama yang paling sederhana.
Bentuk (بَخِلَ, bakhila) berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.
Kata (مَنْ, man) diulang dari 92:5, sehingga dua golongan sama-sama dibuka dengan kata yang sama persis. Jadi kesejajaran kedua bagian itu berlaku sejak kata keduanya, dan yang berbeda cuma kata kerja yang menyusulnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan kedua: orang yang kikir dan merasa tak butuh Allah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 72 ayat, antara lain 3:97, 10:68, 47:38, 88:7, dan 92:11.
Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan. Akar yang sama muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan.
Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk orang yang merasa dirinya cukup, dan sekali untuk harta yang ternyata tidak mencukupkan. Yang merasa cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan tidak mencukupkan di 92:11.
Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan ayat ini. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata terakhir di ayat ini, sehingga dua tempat memakai pasangan akar yang sama.
Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan.
Kata keduanya diulang dari 92:5, sehingga dua golongan sama-sama dibuka dengan kata yang sama persis. Jadi kesejajaran kedua bagian itu berlaku sejak kata keduanya, dan yang berbeda cuma kata kerja yang menyusulnya di masing-masing ayat.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan. Jadi yang merasa dirinya cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan Allah tidak mencukupkan tiga ayat kemudian, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Yang merasa cukup dan yang hartanya tak mencukupkan dinamai satu akar, dan itu tidak diterangkan. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.
- Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan 92:8. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata terakhir di ayat ini. Jadi dua tempat memakai pasangan akar yang sama, dan Allah tidak menghubungkan keduanya. Pasangan akar yang berulang di dua tempat menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.
- Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan penghuninya. Jadi akar yang di surah tetangga menyebut sesuatu yang gagal mencukupkan, di sini menyebut orang yang merasa dirinya sudah cukup tanpa Allah. Akar yang menyebut sesuatu gagal mencukupkan dipakai untuk orang yang merasa sudah cukup. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
- Kata terakhirnya berdiri sendiri tanpa objek, dan menyisipkan keterangan tentang dari siapa ia merasa cukup akan menambah kata yang tidak ada di dalam Arabnya. Jadi Allah membiarkannya terbuka. Apa yang berubah pada sebuah teguran ketika yang tidak dibutuhkan orang itu tidak disebutkan namanya sama sekali? Dari siapa seseorang merasa cukup tidak disebutkan, dan menyebutkannya menambah yang tak tertulis. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
- Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan. Jadi dua ayat pembuka dua bagian yang berpasangan dibangun Allah dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isi kedua kata kerjanya. Dua pembuka yang dibangun dengan rangka sama menandai kedua bagian sebagai satu susunan. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
- Kata kerja ketiga dan keempat disebut berurutan, yaitu kikir lalu merasa cukup. Jadi Allah menaruh perbuatan yang tampak lebih dulu dan sikap batin belakangan, sama seperti urutan di 92:5. Kedua golongan karena itu dikenali dengan urutan yang sama, dan yang berbeda cuma arah perbuatannya. Urutan perbuatan lalu sikap batin sama di kedua golongan, dan yang berbeda cuma arahnya. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.
Ayat 92:9
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ
Serta mendustakan yang terbaik,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰwa-kadzdzaba bi-l-husnaaserta mendustakan yang terbaik
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَكَذَّبَwa-kadzdzabadan mendustakan
- بِالْحُسْنَىٰbi-l-husnaayang terbaik
Inti bacaan
Elemen ketiga jalan kedua - penolakan kebaikan: 'serta mendustakan yang terbaik', penolakan aktif terhadap nilai tertinggi, melengkapi pola negatif dengan ketidakpercayaan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) diulang persis dari 92:6, sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi satu kata dipakai dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat.
Kata kerja (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) berasal dari akar yang berarti berdusta. Akar itu dipakai di 271 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta. Bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar.
Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan pada satu benda yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma bentuk yang berpasangan. Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) di sini berdiri sesudah kata kerja yang mendustakan.
Akar (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama.
Kesejajaran itu patut dicatat. Yang mendustakan di ayat ini disebut lagi di 92:16 sebagai ciri orang yang paling celaka, sehingga dua bagian surah ini terhubung lewat satu akar. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:8 dengan huruf waw, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat, sama seperti susunan 92:5 dan 92:6. Jadi kedua bagian yang berpasangan sama-sama dipecah pada tempat yang sejajar.
Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan. Jadi ketiganya berlawanan persis dengan tiga perbuatan golongan pertama di 92:5 dan 92:6.
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6. Jadi Al-Qur'an menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama di kedua tempat.
Bentuk (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) berbentuk lampau, sama seperti dua kata kerja di 92:8. Jadi tiga ciri golongan kedua seluruhnya disebut dengan bentuk yang menyatakan perbuatan yang sudah selesai, sama persis seperti tiga ciri golongan pertama di 92:5 dan 92:6.
Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) didahului huruf ba yang menyatakan sasaran pendustaan, sama seperti huruf di 92:6. Jadi dua sikap yang berlawanan dikenakan pada satu benda dengan huruf penghubung yang sama persis, dan yang berbeda cuma kata kerjanya.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri golongan kedua: mendustakan kebenaran yang terbaik, dan kata terakhirnya diulang persis dari 92:6 sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini.
Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 271 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta. Bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar.
Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan pada satu benda yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Akar kata kerjanya muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama.
Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan sasaran pendustaan, sama seperti huruf di 92:6. Jadi dua sikap yang berlawanan dikenakan pada satu benda dengan huruf penghubung yang sama persis, dan yang berbeda cuma kata kerjanya. Kata terakhirnya tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6, sehingga Al-Qur'an menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya diulang persis dari 92:6, sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi Allah memakai satu kata dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat. Tidak ada satu pun tempat lain di Al-Qur'an yang memakai kata itu dengan bentuk yang sama. Kedua kemunculan satu kata yang berkumpul di satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
- Kata kerjanya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, dan bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar. Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan Allah pada satu benda yang sama. Dua pola sama yang maknanya berlawanan dikenakan pada satu benda menuntut keduanya dibaca bersama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
- Akar kata kerjanya muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama. Dua bagian surah ini karena itu terhubung lewat satu akar tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Akar yang kembali di bagian penutup menghubungkan dua bagian surah tanpa satu kata penyambung. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.
- Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan. Jadi ketiganya berlawanan persis dengan tiga perbuatan golongan pertama di 92:5 dan 92:6, dan Allah menyusun keduanya dengan bilangan yang sama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama persis. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.
- Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:8 dengan huruf penyambung, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat, sama seperti susunan 92:5 dan 92:6. Jadi kedua bagian yang berpasangan sama-sama dipecah Allah pada tempat yang sejajar, dan jeda bacaannya jatuh di tempat yang sama. Dipecah di tempat yang sejajar membuat jeda bacaan kedua bagian jatuh pada titik yang sama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
- Kata terakhirnya tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6. Jadi Allah menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya. Apa yang tersisa bagi pembacanya ketika sebuah benda disebut dua kali sebagai pokok perselisihan tanpa pernah diberi nama? Sebuah benda yang dua kali menjadi pokok perselisihan tanpa pernah dinamai menuntut penimbangan. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.
Ayat 92:10
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
Maka Kami akan memudahkannya menuju kesukaran.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰfa-sa-nuyassiruhu li-l-'usraamaka Kami akan memudahkannya menuju kesukaran
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَسَنُيَسِّرُهُfa-sa-nuyassiruhumaka Kami akan memudahkannya
- لِلْعُسْرَىٰli-l-'usraamenuju kesukaran
Inti bacaan
Konsekuensi ironis dari kombinasi negatif: 'maka Kami akan memudahkannya menuju kesukaran', ironi tajam bahwa 'kemudahan' yang sama justru mengarah pada jalan yang semakin sulit bagi golongan ini, setiap pilihan memperkuat arah yang sudah dipilih.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti sulit. Ia cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 2:185, 18:73, 65:6, 94:5, dan 94:6, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Kesejajaran dengan 94:5 dan 94:6 patut dicatat, sebab di kedua ayat itu akar yang sama disandingkan dengan akar yang berlawanan dalam satu kalimat, yaitu bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi apa yang di sana disandingkan, di sini dipisah menjadi dua akibat bagi dua golongan. Kata (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) di sini menjadi tujuan, bukan keadaan yang sudah dicapai.
Di 2:185 akar itu dipakai bersama lawannya untuk menyatakan bahwa Tuhan menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran. Jadi akar yang sama muncul di dalam pernyataan tentang kehendak-Nya dan di dalam akibat yang menimpa golongan kedua. Kata (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) mendahuluinya, dan keduanya berlawanan akarnya.
Kata (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) berbentuk elatif perempuan bertakrif, sama persis bentuknya dengan kata terakhir di 92:7. Jadi dua kata yang berlawanan maknanya memakai bentuk yang sama persis, dan kesejajaran bentuk itu mengikat kedua ayat menjadi satu pasangan.
Kata kerja (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) diulang persis dari 92:7, sehingga dua ayat memakai kata kerja yang sama tanpa satu huruf pun yang berbeda. Jadi yang berbeda antara kedua akibat itu cuma kata terakhirnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun yang membedakan cara keduanya terjadi.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kata kerja yang berarti memudahkan dipakai untuk akibat yang menyenangkan dan untuk akibat yang menyusahkan, dan keduanya sama-sama disebut sebagai pemudahan. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Bentuk (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) berbentuk elatif perempuan bertakrif, sama seperti bentuk di 92:7.
Akar kata kerjanya dan akar kata terakhirnya berlawanan, berbeda dari susunan di 92:7 yang keduanya seakar. Jadi dua ayat yang berpasangan tidak sepenuhnya sejajar: yang satu mengulang akar, dan yang lain menyandingkan dua akar yang berlawanan. Kata (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) menutup ayat ini, dan bunyinya sama dengan ujung 92:7.
Ayat ini menutup bagian tentang golongan kedua, dan sesudahnya 92:11 menambahkan satu keterangan yang tidak punya pasangan di bagian pertama. Jadi kedua bagian yang tampak berpasangan ternyata tidak sama panjangnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu.
Bentuk (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sanuyassiruhu) memakai kata ganti objek yang menunjuk orang di 92:8, sehingga tiga ayat dari 92:8 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi kedua bagian yang berpasangan sama-sama bergantung pada satu penyebutan yang tidak diulang.
Kata (لِلْعُسْرَىٰ, li-l-'usraa) didahului huruf lam yang menyatakan tujuan, sama seperti huruf di 92:7. Jadi kedua akibat itu sama-sama dinyatakan sebagai arah, bukan sebagai keadaan, dan kesejajaran itu berlaku sampai ke hurufnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan konsekuensi bagi golongan kedua: dimudahkan menuju kesukaran, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 2:185, 18:73, 65:6, 94:5, dan 94:6.
Kesejajaran dengan 94:5 dan 94:6 patut dicatat, sebab di kedua ayat itu akar yang sama disandingkan dengan akar yang berlawanan dalam satu kalimat, yaitu bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi apa yang di sana disandingkan, di sini dipisah menjadi dua akibat bagi dua golongan.
Kata kerjanya diulang persis dari 92:7, sehingga dua ayat memakai kata kerja yang sama tanpa satu huruf pun yang berbeda. Jadi yang berbeda antara kedua akibat itu cuma kata terakhirnya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kata kerja yang berarti memudahkan dipakai untuk akibat yang menyenangkan dan untuk akibat yang menyusahkan, dan keduanya sama-sama disebut sebagai pemudahan.
Ayat ini menutup bagian tentang golongan kedua, dan sesudahnya 92:11 menambahkan satu keterangan yang tidak punya pasangan di bagian pertama. Jadi kedua bagian yang tampak berpasangan ternyata tidak sama panjangnya.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan tujuan, sama seperti huruf di 92:7. Jadi kedua akibat itu sama-sama dinyatakan sebagai arah, bukan sebagai keadaan, dan kesejajaran itu berlaku sampai ke hurufnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya diulang persis dari 92:7, sehingga dua ayat memakai kata kerja yang sama tanpa satu huruf pun yang berbeda. Jadi kata yang berarti memudahkan dipakai Allah untuk akibat yang menyenangkan dan untuk akibat yang menyusahkan, dan keduanya sama-sama disebut sebagai pemudahan. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Kata yang berarti memudahkan dipakai untuk dua akibat berlawanan, dan itu tidak diterangkan. Dimudahkan menuju kesukaran memakai kata yang sama dengan dimudahkan menuju kemudahan.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 12 ayat termasuk 94:5 dan 94:6. Di kedua ayat itu akar yang sama disandingkan Allah dengan akar yang berlawanan dalam satu kalimat, yaitu bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi apa yang di sana disandingkan, di sini dipisah menjadi dua akibat bagi dua golongan. Dua ayat yang menyandingkan kesulitan dan kemudahan di surah lain dipisah menjadi dua akibat di sini. Dua akibat yang diucapkan dengan kata kerja sama menuntut penimbangan, bukan penerimaan.
- Di 2:185 akar kata terakhirnya dipakai bersama lawannya untuk menyatakan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran. Jadi akar yang sama muncul di dalam pernyataan tentang kehendak-Nya dan di dalam akibat yang menimpa golongan kedua, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kehendak-Nya yang menyebut kemudahan dan bukan kesukaran memakai akar yang sama dengan ayat ini. Dua akibat yang diucapkan dengan kata kerja sama menuntut penimbangan, bukan penerimaan.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan bertakrif, sama persis bentuknya dengan kata terakhir di 92:7. Jadi dua kata yang berlawanan maknanya memakai bentuk yang sama persis, dan kesejajaran bentuk itu mengikat kedua ayat menjadi satu pasangan yang tidak bisa dibaca terpisah. Dua bentuk yang sama persis pada dua kata berlawanan mengikat kedua ayat menjadi satu pasangan. Dua akibat yang diucapkan dengan kata kerja sama menuntut penimbangan, bukan penerimaan.
- Akar kata kerjanya dan akar kata terakhirnya berlawanan, berbeda dari susunan di 92:7 yang keduanya seakar. Jadi dua ayat yang berpasangan tidak sepenuhnya sejajar: yang satu mengulang akar, dan yang lain menyandingkan dua akar yang berlawanan. Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Kesejajaran yang tidak penuh menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya. Dimudahkan menuju kesukaran memakai kata yang sama dengan dimudahkan menuju kemudahan.
- Ayat ini menutup bagian tentang golongan kedua, dan sesudahnya 92:11 menambahkan satu keterangan yang tidak punya pasangan di bagian pertama. Apa yang dinyatakan sebuah susunan berpasangan ketika salah satu sisinya diberi satu tambahan yang tidak dimiliki sisi lainnya? Pasangan yang salah satu sisinya diberi tambahan menandai bahwa keduanya tidak sepenuhnya setara. Dimudahkan menuju kesukaran memakai kata yang sama dengan dimudahkan menuju kemudahan.