فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ
Maka adapun orang yang memberi dan bertakwa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰfa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaamaka adapun orang yang memberi dan bertakwa
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- مَنْmanorang yang
- أَعْطَىٰa'thaamemberi
- وَاتَّقَىٰwa-ttaqaadan bertakwa
Inti bacaan
Kriteria jalan pertama - kedermawanan dan kesadaran: 'maka adapun orang yang memberi dan bertakwa', kombinasi tindakan konkret (memberi) dan sikap batin (takwa) sebagai fondasi jalan positif.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya berarti memberi. Ia cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.
Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Kata (أَعْطَىٰ, a'thaa) di sini berpelaku manusia, bukan Yang berfirman seperti di 20:50.
Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya. Kata (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) menyusulnya, dan keduanya berdiri sebagai dua ciri berurutan.
Kata kerja (أَعْطَىٰ, a'thaa) tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.
Kata kerja (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berasal dari akar yang berarti menjaga dari bahaya. Akar itu dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama muncul lagi di 92:17 lewat kata untuk orang yang paling bertakwa.
Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 92:8. Jadi dua bagian surah ini terikat sebagai satu susunan berpasangan, dan susunan yang sama dipakai di 89:15 dan 89:16 pada surah lain.
Bentuk (مَنْ, man) kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut lewat sifatnya, bukan lewat namanya.
Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan. Bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan.
Bentuk (وَاتَّقَىٰ, wa-ttaqaa) berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.
Kata (مَنْ, man) berbaris sukun dan berkedudukan sebagai pokok kalimat bagi huruf pembuka di depannya. Jadi susunan ayat ini menaruh pihak yang dibicarakan lebih dulu dan perbuatannya menyusul, dan susunan yang sama dipakai di 92:8.
Tafsiran
Ayat ini membuka pembagian dua golongan berdasarkan arah usahanya, dan kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5. Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, antara lain 9:58, 17:20, 53:34, 93:5, dan 108:1.
Kesejajaran dengan 93:5 dan 108:1 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut pemberian dari Yang berfirman kepada yang disapa. Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya.
Di 20:50 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa Tuhan memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya.
Kata kerja itu tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja.
Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat.
Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kedelapan, sehingga artinya menjaga diri sendiri dari sesuatu. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penjaganya di dalam ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:50, 53:34, dan 92:5, dan akarnya cuma dipakai di 12 ayat termasuk 93:5 dan 108:1. Di kedua surah tetangga itu akar yang sama menyebut pemberian Allah kepada yang disapa. Jadi akar yang menyebut pemberian-Nya, di sini menyebut pemberian manusia kepada sesamanya. Akar yang menyebut pemberian-Nya di dua surah tetangga dipakai untuk pemberian manusia di sini. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
- Di 20:50 akar kata kerja ketiganya dipakai untuk pernyataan bahwa Allah memberi tiap sesuatu bentuk kejadiannya lalu memberinya petunjuk. Jadi akar yang sama menamai pemberian yang paling mendasar dan pemberian yang dikerjakan manusia dengan hartanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Pemberian yang paling mendasar dan pemberian dengan harta berbagi satu akar tanpa satu keterangan. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Kata kerja ketiganya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan apa yang diberikan dan kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pemberian saja, padahal Allah membiarkannya seluas mungkin tanpa satu batas pun. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan menyisipkannya mempersempit apa yang tertulis. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Ayat ini membuka bagian yang berlangsung sampai 92:7, yaitu tiga ayat yang menyebut satu golongan, dan bagian yang berpasangan dengannya berlangsung dari 92:8 sampai 92:10, juga tiga ayat. Jadi kedua bagian itu sama panjangnya, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Dua bagian yang sama panjangnya mengikat keduanya menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah. Memberi dan bertakwa disebut berurutan, dan keduanya dikerjakan atas diri dan hartanya sendiri.
- Kata keduanya kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Bentuk yang sama dipakai di 92:8, sehingga kedua golongan sama-sama disebut Allah lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Jadi tidak ada seorang pun yang bisa menganggap ayatnya tentang orang lain saja. Menyebut orang lewat sifatnya menutup jalan keluar bagi siapa pun yang merasa tidak dimaksud. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.
- Kata kerja ketiga dan keempat disebut berurutan, yaitu memberi lalu bertakwa. Jadi Allah menaruh perbuatan yang tampak lebih dulu dan sikap batin belakangan. Apa yang berubah pada penilaian sebuah pemberian ketika yang disebut sesudahnya bukan besarnya melainkan sikap hati yang menyertainya? Menaruh perbuatan sebelum sikap batin membuat yang tampak dinilai bersama yang tidak tampak. Sifat yang menggantikan nama membuat pembacanya menimbang dirinya, bukan menebak orang lain.