وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ

Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰwa-ammaa man bakhila wa-staghnaaadapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. بَخِلَbakhilakikir
  4. وَاسْتَغْنَىٰwa-staghnaadan merasa cukup

Inti bacaan

Kriteria jalan kedua - kekikiran dan kesombongan: 'adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup', kombinasi keengganan berbagi dan ilusi kemandirian yang mengabaikan ketergantungan pada Allah.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(tidak perlu pertolongan Allah)" tidak dipakai. Kata kerja (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) berdiri sendiri tanpa objek, dan menyisipkan keterangan tentang dari siapa ia merasa cukup akan menambah kata yang tidak ada di dalam Arabnya.

Kata (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 64:6 dan 92:8; di 64:6 yang berkecukupan Allah, sedangkan di sini yang merasa cukup manusia. Akarnya berarti cukup dan tidak butuh. Ia dipakai di 72 ayat, antara lain 3:97, 10:68, 47:38, 88:7, dan 92:11. Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan.

Akar yang sama muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk orang yang merasa dirinya cukup, dan sekali untuk harta yang ternyata tidak mencukupkan. Kata (وَاسْتَغْنَىٰ, wa-staghnaa) di sini berpelaku manusia, dan objeknya tidak disebut.

Kesejajaran itu patut dicatat lebih jauh. Yang merasa cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan tidak mencukupkan di 92:11, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan jaraknya tiga ayat.

Kata kerja (بَخِلَ, bakhila) berasal dari akar yang berarti kikir. Akar itu cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan ayat ini. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata kedua di ayat ini.

Jadi 47:38 memuat kedua akar yang dipakai di ayat ini, yaitu kikir dan merasa cukup, dan di sana keduanya juga disandingkan. Jadi dua tempat memakai pasangan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (بَخِلَ, bakhila) mendahuluinya, dan keduanya berdiri sebagai dua ciri berurutan.

Kata (وَأَمَّا, wa ammaa) huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 92:5. Jadi dua bagian surah ini terikat sebagai satu susunan berpasangan, dan huruf pembukanya sendiri yang menandai bahwa keduanya harus dibaca bersama.

Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan. Jadi dua ayat pembuka dua bagian yang berpasangan dibangun dengan rangka yang sama persis. Bentuk (بَخِلَ, bakhila) berbentuk lampau dan berpola pertama yang paling sederhana.

Bentuk (بَخِلَ, bakhila) berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.

Kata (مَنْ, man) diulang dari 92:5, sehingga dua golongan sama-sama dibuka dengan kata yang sama persis. Jadi kesejajaran kedua bagian itu berlaku sejak kata keduanya, dan yang berbeda cuma kata kerja yang menyusulnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan kedua: orang yang kikir dan merasa tak butuh Allah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 72 ayat, antara lain 3:97, 10:68, 47:38, 88:7, dan 92:11.

Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan. Akar yang sama muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan.

Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk orang yang merasa dirinya cukup, dan sekali untuk harta yang ternyata tidak mencukupkan. Yang merasa cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan tidak mencukupkan di 92:11.

Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan ayat ini. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata terakhir di ayat ini, sehingga dua tempat memakai pasangan akar yang sama.

Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan.

Kata keduanya diulang dari 92:5, sehingga dua golongan sama-sama dibuka dengan kata yang sama persis. Jadi kesejajaran kedua bagian itu berlaku sejak kata keduanya, dan yang berbeda cuma kata kerja yang menyusulnya di masing-masing ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya muncul lagi di 92:11 lewat kata kerja yang menyebut harta yang tidak mencukupkan. Jadi yang merasa dirinya cukup di ayat ini justru yang hartanya dinyatakan Allah tidak mencukupkan tiga ayat kemudian, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Yang merasa cukup dan yang hartanya tak mencukupkan dinamai satu akar, dan itu tidak diterangkan. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.
  • Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 3:180, 4:37, 9:76, 47:37, 47:38, 57:24, dan 92:8. Di 47:38 akar itu berdiri berdampingan dengan akar yang sama dengan kata terakhir di ayat ini. Jadi dua tempat memakai pasangan akar yang sama, dan Allah tidak menghubungkan keduanya. Pasangan akar yang berulang di dua tempat menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.
  • Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut makanan yang tidak mencukupkan penghuninya. Jadi akar yang di surah tetangga menyebut sesuatu yang gagal mencukupkan, di sini menyebut orang yang merasa dirinya sudah cukup tanpa Allah. Akar yang menyebut sesuatu gagal mencukupkan dipakai untuk orang yang merasa sudah cukup. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
  • Kata terakhirnya berdiri sendiri tanpa objek, dan menyisipkan keterangan tentang dari siapa ia merasa cukup akan menambah kata yang tidak ada di dalam Arabnya. Jadi Allah membiarkannya terbuka. Apa yang berubah pada sebuah teguran ketika yang tidak dibutuhkan orang itu tidak disebutkan namanya sama sekali? Dari siapa seseorang merasa cukup tidak disebutkan, dan menyebutkannya menambah yang tak tertulis. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
  • Susunan ayat ini sejajar hampir kata demi kata dengan susunan 92:5: huruf pembuka, kata sambung tanpa nama, lalu dua kata kerja yang disambungkan. Jadi dua ayat pembuka dua bagian yang berpasangan dibangun Allah dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isi kedua kata kerjanya. Dua pembuka yang dibangun dengan rangka sama menandai kedua bagian sebagai satu susunan. Kikir dan merasa cukup disebut berurutan, sama seperti urutan di sisi yang berlawanan.
  • Kata kerja ketiga dan keempat disebut berurutan, yaitu kikir lalu merasa cukup. Jadi Allah menaruh perbuatan yang tampak lebih dulu dan sikap batin belakangan, sama seperti urutan di 92:5. Kedua golongan karena itu dikenali dengan urutan yang sama, dan yang berbeda cuma arah perbuatannya. Urutan perbuatan lalu sikap batin sama di kedua golongan, dan yang berbeda cuma arahnya. Merasa tidak membutuhkan menutup pintu lebih rapat daripada menolak dengan terang-terangan.