وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ

Serta mendustakan yang terbaik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰwa-kadzdzaba bi-l-husnaaserta mendustakan yang terbaik

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَكَذَّبَwa-kadzdzabadan mendustakan
  2. بِالْحُسْنَىٰbi-l-husnaayang terbaik

Inti bacaan

Elemen ketiga jalan kedua - penolakan kebaikan: 'serta mendustakan yang terbaik', penolakan aktif terhadap nilai tertinggi, melengkapi pola negatif dengan ketidakpercayaan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) diulang persis dari 92:6, sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi satu kata dipakai dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat.

Kata kerja (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) berasal dari akar yang berarti berdusta. Akar itu dipakai di 271 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta. Bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar.

Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan pada satu benda yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma bentuk yang berpasangan. Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) di sini berdiri sesudah kata kerja yang mendustakan.

Akar (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama.

Kesejajaran itu patut dicatat. Yang mendustakan di ayat ini disebut lagi di 92:16 sebagai ciri orang yang paling celaka, sehingga dua bagian surah ini terhubung lewat satu akar. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:8 dengan huruf waw, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat, sama seperti susunan 92:5 dan 92:6. Jadi kedua bagian yang berpasangan sama-sama dipecah pada tempat yang sejajar.

Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan. Jadi ketiganya berlawanan persis dengan tiga perbuatan golongan pertama di 92:5 dan 92:6.

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6. Jadi Al-Qur'an menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama di kedua tempat.

Bentuk (وَكَذَّبَ, wa kadzdzaba) berbentuk lampau, sama seperti dua kata kerja di 92:8. Jadi tiga ciri golongan kedua seluruhnya disebut dengan bentuk yang menyatakan perbuatan yang sudah selesai, sama persis seperti tiga ciri golongan pertama di 92:5 dan 92:6.

Kata (بِالْحُسْنَىٰ, bi-l-husnaa) didahului huruf ba yang menyatakan sasaran pendustaan, sama seperti huruf di 92:6. Jadi dua sikap yang berlawanan dikenakan pada satu benda dengan huruf penghubung yang sama persis, dan yang berbeda cuma kata kerjanya.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi ciri golongan kedua: mendustakan kebenaran yang terbaik, dan kata terakhirnya diulang persis dari 92:6 sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini.

Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 271 ayat, dan bentuknya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta. Bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar.

Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan pada satu benda yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Akar kata kerjanya muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama.

Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan.

Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan sasaran pendustaan, sama seperti huruf di 92:6. Jadi dua sikap yang berlawanan dikenakan pada satu benda dengan huruf penghubung yang sama persis, dan yang berbeda cuma kata kerjanya. Kata terakhirnya tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6, sehingga Al-Qur'an menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya diulang persis dari 92:6, sehingga kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi Allah memakai satu kata dua kali untuk dua sikap yang berlawanan, dan jaraknya tiga ayat. Tidak ada satu pun tempat lain di Al-Qur'an yang memakai kata itu dengan bentuk yang sama. Kedua kemunculan satu kata yang berkumpul di satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
  • Kata kerjanya berpola kedua sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, dan bentuk itu berlawanan persis dengan bentuk berpola kedua di 92:6 yang berarti menyatakan sesuatu benar. Jadi dua ayat yang berpasangan memakai dua kata kerja berpola sama yang maknanya berlawanan, dan keduanya dikenakan Allah pada satu benda yang sama. Dua pola sama yang maknanya berlawanan dikenakan pada satu benda menuntut keduanya dibaca bersama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
  • Akar kata kerjanya muncul lagi di 92:16 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan dan berpaling. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama. Dua bagian surah ini karena itu terhubung lewat satu akar tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Akar yang kembali di bagian penutup menghubungkan dua bagian surah tanpa satu kata penyambung. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.
  • Ayat ini menutup dua ciri golongan kedua yang dimulai di 92:8, sehingga golongan itu dikenali lewat tiga perbuatan: kikir, merasa cukup, dan mendustakan. Jadi ketiganya berlawanan persis dengan tiga perbuatan golongan pertama di 92:5 dan 92:6, dan Allah menyusun keduanya dengan bilangan yang sama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama persis. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.
  • Susunan ayat ini disambungkan kepada 92:8 dengan huruf penyambung, sehingga keduanya satu kalimat yang dipisah menjadi dua ayat, sama seperti susunan 92:5 dan 92:6. Jadi kedua bagian yang berpasangan sama-sama dipecah Allah pada tempat yang sejajar, dan jeda bacaannya jatuh di tempat yang sama. Dipecah di tempat yang sejajar membuat jeda bacaan kedua bagian jatuh pada titik yang sama. Tiga berbanding tiga menandai bahwa kedua golongan disusun dengan bilangan yang sama.
  • Kata terakhirnya tetap tidak dinamai apa yang dimaksud, sama seperti di 92:6. Jadi Allah menyebut benda yang sama dua kali tanpa sekali pun menerangkannya. Apa yang tersisa bagi pembacanya ketika sebuah benda disebut dua kali sebagai pokok perselisihan tanpa pernah diberi nama? Sebuah benda yang dua kali menjadi pokok perselisihan tanpa pernah dinamai menuntut penimbangan. Satu benda yang dihadapi dua sikap berlawanan menaruh seluruh perbedaannya pada sikapnya.