وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ
Hartanya tidak mencukupkannya apabila dia telah binasa.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰwa-maa yughnii 'anhu maaluhu idzaa taraddaahartanya tidak mencukupkannya apabila dia telah binasa
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- يُغْنِيyughniimencukupkan
- عَنْهُ'anhudarinya
- مَالُهُmaaluhuhartanya
- إِذَاidzaaapabila
- تَرَدَّىٰtaraddaabinasa
Inti bacaan
Ketidakberdayaan kekayaan pada momen krusial: 'hartanya tidak mencukupkannya apabila dia telah binasa', pengingat bahwa akumulasi material tidak memiliki nilai penyelamatan pada saat yang paling dibutuhkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تَرَدَّىٰ, taraddaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti jatuh sampai binasa. Ia cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 5:3, 6:137, 20:16, 37:56, 41:23, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Di 5:3 akar itu dipakai untuk binatang yang jatuh dari tempat tinggi, dan di 37:56 untuk orang yang hampir mencelakakan temannya. Jadi akar yang sama menyebut jatuh dari ketinggian, mencelakakan, dan di sini binasanya seseorang. Kata (تَرَدَّىٰ, taraddaa) di sini berpelaku manusia, bukan binatang yang jatuh.
Di 20:16 akar itu dipakai untuk peringatan supaya tidak dipalingkan dari hari kiamat sehingga binasa, dan di 41:23 untuk sangkaan yang membinasakan pemiliknya. Jadi akar ini memikul jatuh, celaka, dan binasa, dan yang menyatukannya gambaran terjun ke bawah tanpa bisa kembali. Kata (مَالُهُ, maaluhu) mendahuluinya, dan keduanya berdiri di dalam satu kalimat.
Kata kerja (يُغْنِي, yughnii) berasal dari akar yang berarti cukup dan tidak butuh. Akar itu dipakai di 72 ayat, dan akar yang sama sudah dipakai di 92:8 lewat kata untuk orang yang merasa dirinya cukup. Jadi akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan.
Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang sama persis dipakai untuk makanan yang tidak mencukupkan dari lapar. Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama untuk menyatakan bahwa sesuatu gagal mencukupkan, dan yang di sana makanan sedangkan yang di sini harta. Bentuk (يُغْنِي, yughnii) berada di dalam pengingkaran, bukan di dalam berita.
Kata (مَالُهُ, maaluhu) berasal dari akar yang berarti harta, dan kata untuk harta muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 92:18. Jadi satu benda yang sama disebut dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Harta yang ditahan tidak mencukupkan pemiliknya, dan harta yang diberikan justru menjadi jalan menyucitumbuhkan diri. Al-Qur'an tidak menyatakan pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan jarak kedua ayat tujuh ayat.
Bentuk (تَرَدَّىٰ, taraddaa) berpola kelima, sehingga artinya menjatuhkan diri sendiri, bukan dijatuhkan pihak lain. Jadi kebinasaannya disandarkan kepada dirinya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penyebabnya di dalam ayat ini.
Ayat ini tidak punya pasangan di bagian tentang golongan pertama, sehingga kedua bagian yang tampak berpasangan tidak sama panjangnya. Jadi golongan kedua diberi satu keterangan tambahan yang tidak diberikan kepada golongan pertama, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.
Kata (عَنْهُ, 'anhu) memakai huruf yang menyatakan menjauh dari, sehingga yang dinyatakan hartanya tidak mencukupkan dirinya dari sesuatu. Jadi susunannya menyebut arah, bukan sekadar ketiadaan manfaat, dan perbedaan itu terbawa di dalam hurufnya sendiri.
Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, bukan kata sambung. Jadi ayat ini berdiri sebagai pernyataan yang mengingkari, dan bentuk yang sama dipakai di 92:19 pada bagian penutup surahnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa harta yang dikikirkan tak berguna saat kebinasaan tiba, dan kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 5:3, 6:137, 20:16, 37:56, 41:23, dan ayat ini.
Di 5:3 akar itu dipakai untuk binatang yang jatuh dari tempat tinggi, dan di 37:56 untuk orang yang hampir mencelakakan temannya. Di 20:16 akar itu dipakai untuk peringatan supaya tidak dipalingkan dari hari kiamat sehingga binasa. Jadi akar ini memikul jatuh, celaka, dan binasa.
Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 72 ayat, dan akar yang sama sudah dipakai di 92:8 lewat kata untuk orang yang merasa dirinya cukup. Jadi akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan.
Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang sama persis dipakai untuk makanan yang tidak mencukupkan dari lapar. Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama untuk menyatakan bahwa sesuatu gagal mencukupkan.
Kata untuk harta muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 92:18. Jadi satu benda yang sama disebut dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan.
Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan menjauh dari, sehingga yang dinyatakan hartanya tidak mencukupkan dirinya dari sesuatu. Jadi susunannya menyebut arah, bukan sekadar ketiadaan manfaat, dan perbedaan itu terbawa di dalam hurufnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 5:3, 6:137, 20:16, 37:56, 41:23, dan 92:11. Di 5:3 akar itu dipakai Allah untuk binatang yang jatuh dari tempat tinggi, dan di 41:23 untuk sangkaan yang membinasakan pemiliknya. Jadi akar ini memikul jatuh, celaka, dan binasa. Satu akar untuk jatuh, celaka, dan binasa menaruh ketiganya di dalam gambaran terjun tanpa kembali. Menjatuhkan diri sendiri tidak menyisakan pihak lain yang bisa disalahkan atasnya.
- Kata untuk harta muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 92:11 dan 92:18. Jadi satu benda yang sama disebut dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan. Harta yang ditahan tidak mencukupkan, dan harta yang diberikan justru menjadi jalan menyucitumbuhkan diri di hadapan Allah. Harta yang ditahan dan harta yang diberikan disebut dengan kata yang sama di dalam satu surah. Harta yang tidak menolong pemiliknya tetap harta, dan yang berubah cuma gunanya.
- Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 72 ayat, dan akar yang sama sudah dipakai di 92:8 lewat kata untuk orang yang merasa dirinya cukup. Jadi akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan: yang satu perasaan orangnya, dan yang lain kenyataan hartanya. Akar cukup yang muncul dua kali menaruh perasaan orangnya dan kenyataan hartanya berhadapan. Menjatuhkan diri sendiri tidak menyisakan pihak lain yang bisa disalahkan atasnya.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kelima, sehingga artinya menjatuhkan diri sendiri, bukan dijatuhkan pihak lain. Jadi kebinasaannya disandarkan kepada dirinya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut Allah sebagai penyebabnya di dalam ayat ini, termasuk hartanya. Menjatuhkan diri sendiri berbeda dari dijatuhkan, dan pola katanya sendiri yang menentukan. Harta yang tidak menolong pemiliknya tetap harta, dan yang berubah cuma gunanya. Harta yang tidak menolong pemiliknya tetap harta, dan yang berubah cuma gunanya.
- Kesejajaran dengan 88:7 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang sama persis dipakai Allah untuk makanan yang tidak mencukupkan dari lapar. Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama untuk menyatakan bahwa sesuatu gagal mencukupkan, dan yang di sana makanan sedangkan yang di sini harta. Dua surah yang memakai kata sama untuk sesuatu yang gagal mencukupkan berdiri sejajar. Harta yang tidak menolong pemiliknya tetap harta, dan yang berubah cuma gunanya.
- Ayat ini tidak punya pasangan di bagian tentang golongan pertama, sehingga kedua bagian yang tampak berpasangan tidak sama panjangnya. Apa yang dinyatakan Allah dengan memberi satu keterangan tambahan kepada golongan yang kikir dan tidak memberikannya kepada golongan yang memberi? Tambahan yang cuma diberikan kepada satu sisi menandai bahwa pasangannya tidak sepenuhnya setara. Menjatuhkan diri sendiri tidak menyisakan pihak lain yang bisa disalahkan atasnya.