لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى

Tidak memasukinya kecuali orang yang paling celaka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَىlaa yashlaahaa illaa l-asyqaatidak memasukinya kecuali orang yang paling celaka

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَصْلَاهَاyashlaahaamemasukinya
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. الْأَشْقَىl-asyqaaorang yang paling celaka

Inti bacaan

Spesifikasi penerima konsekuensi terberat: 'tidak memasukinya kecuali orang yang paling celaka', penegasan bahwa konsekuensi terberat khusus menyasar kategori tertentu, bukan hukuman acak tanpa kriteria.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang paling celaka", konsisten dengan pola elatif di 87:11 dan 91:12. Kata ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15.

Kesejajaran dengan 87:11 patut dicatat lebih jauh. Di sana kata yang sama berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti menjauhi, sedangkan di sini ia berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti memasuki api. Jadi satu kata dipakai untuk dua perbuatan yang berlawanan arahnya. Kata (الْأَشْقَى, al-asyqaa) di sini berkedudukan sebagai pelaku, bukan sebagai penerima.

Akar (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berarti celaka dan payah. Akar itu cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan ayat ini. Di 20:2 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang celaka.

Kata kerja (يَصْلَاهَا, yashlaahaa) berasal dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 87:12, dan 88:4. Kesejajaran dengan 87:12 dan 88:4 patut dicatat, sebab dua surah di juz ini memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang paling celaka. Susunan yang sama dipakai di 86:4 dan 88:6, dan di ketiga tempat itu ia menutup kemungkinan adanya yang lain.

Kata ganti pada ujung (يَصْلَاهَا, yashlaahaa) berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya api di 92:14. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu terikat menjadi satu kalimat yang dipisah oleh jeda bacaannya.

Susunan ayat ini dan 92:17 berhadapan langsung: yang di sini menyebut siapa yang memasukinya, dan yang di sana menyebut siapa yang dijauhkan darinya. Jadi dua ayat yang berjarak dua ayat membentuk pasangan, dan keduanya memakai bentuk elatif bertakrif.

Bentuk (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berdiri sebagai pelaku, sedangkan bentuk (الْأَتْقَى, al-atqaa) di 92:17 berdiri sebagai penerima perbuatan. Jadi dua elatif yang berpasangan tidak sejajar kedudukannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (لَا يَصْلَاهَا, laa yashlaahaa) memakai huruf pengingkaran yang berdiri di depan bentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan keadaan yang berlangsung terus, bukan satu peristiwa. Jadi yang diingkari bukan satu kali masuk melainkan masuknya siapa pun selain yang disebut.

Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan ia dipakai lagi di awal 92:20. Jadi dua ayat di surah ini memakai huruf yang sama, dan keduanya menyisakan satu kemungkinan sesudah menutup seluruh yang lain.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang paling celaka yang memasuki api tersebut, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15.

Kesejajaran dengan 87:11 patut dicatat lebih jauh. Di sana kata yang sama berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti menjauhi, sedangkan di sini ia berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti memasuki api. Jadi satu kata dipakai untuk dua perbuatan yang berlawanan arahnya.

Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan ayat ini. Di 20:2 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang celaka.

Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 87:12, dan 88:4. Kesejajaran dengan 87:12 dan 88:4 patut dicatat, sebab dua surah di juz ini memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang paling celaka. Susunan yang sama dipakai di 86:4 dan 88:6.

Kata ketiganya huruf pengecualian, dan ia dipakai lagi di awal 92:20. Jadi dua ayat di surah ini memakai huruf yang sama, dan keduanya menyisakan satu kemungkinan sesudah menutup seluruh yang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15. Di 87:11 kata yang sama berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti menjauhi, sedangkan di sini ia berdiri sebagai pelaku bagi kata kerja yang berarti memasuki api. Jadi Allah memakai satu kata untuk dua perbuatan yang berlawanan arahnya. Satu kata untuk dua perbuatan berlawanan arah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama. Pengingkaran yang disusul pengecualian menutup kemungkinan sebelum satu pun terbayangkan.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan 92:15. Di 20:2 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang celaka. Jadi kecelakaan itu bukan maksud kitabnya melainkan akibat dari sikap orangnya. Kecelakaan yang bukan maksud kitabnya melainkan akibat sikap orangnya menaruh sebabnya pada dirinya.
  • Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 87:12, dan 88:4. Kesejajaran dengan 87:12 dan 88:4 patut dicatat, sebab dua surah di juz ini memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis. Jadi tiga surah berdekatan menyebut masuknya seseorang ke dalam api dengan akar yang satu. Tiga surah berdekatan yang menyebut masuknya seseorang ke api dengan satu akar berdiri sejajar. Pengingkaran yang disusul pengecualian menutup kemungkinan sebelum satu pun terbayangkan.
  • Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang paling celaka. Susunan yang sama dipakai Allah di 86:4 dan 88:6, dan di ketiga tempat itu ia menutup kemungkinan adanya yang lain sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan. Pengingkaran yang disusul pengecualian menutup kemungkinan sebelum satu pun sempat dibayangkan. Satu kata untuk dua perbuatan berlawanan menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama.
  • Susunan ayat ini dan 92:17 berhadapan langsung: yang di sini menyebut siapa yang memasukinya, dan yang di sana menyebut siapa yang dijauhkan darinya. Jadi dua ayat yang berjarak dua ayat membentuk pasangan, dan keduanya memakai bentuk elatif bertakrif yang diterjemahkan dengan huruf kecil. Dua elatif bertakrif yang berhadapan di dua ayat berjarak membentuk pasangan tanpa penghubung. Pengingkaran yang disusul pengecualian menutup kemungkinan sebelum satu pun terbayangkan.
  • Bentuk kata terakhirnya berdiri sebagai pelaku, sedangkan bentuk yang berpasangan dengannya di 92:17 berdiri sebagai penerima perbuatan. Jadi dua elatif yang berpasangan tidak sejajar kedudukannya. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika yang celaka masuk sendiri sedangkan yang bertakwa dijauhkan oleh Allah? Pelaku berbanding penerima menandai bahwa dua golongan tidak sejajar kedudukannya di dalam kalimat. Satu kata untuk dua perbuatan berlawanan menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama.