الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
Yang mendustakan dan berpaling.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰalladzii kadzdzaba wa-tawallaayang mendustakan dan berpaling
Terjemahan per kata (3 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- كَذَّبَkadzdzabamendustakan
- وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling
Inti bacaan
Definisi final karakter yang dituju: 'yang mendustakan dan berpaling', penutup dengan identifikasi jelas dua ciri utama (penolakan keyakinan dan tindakan menjauh) yang menentukan nasib akhir seseorang.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (كَذَّبَ, kadzdzaba) diulang dari 92:9, sehingga akar yang berarti berdusta dipakai dua kali di dalam surah ini. Jadi ciri yang disebut di bagian pembagian golongan muncul lagi di bagian penutupnya, dan kedua pemakaiannya menyangkut golongan yang sama.
Kata kerja (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) berasal dari akar yang berarti dekat dan mengurus. Akar itu dipakai di 202 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk pelindung dan kata untuk berpaling. Kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat, sebab di sana dua kata kerja yang sama persis berdiri berdampingan.
Jadi 88:23 memuat pasangan kata kerja yang sama dengan ayat ini, yaitu berpaling dan mendustakan, dan yang berbeda cuma urutannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma pasangan kata kerjanya. Kata (كَذَّبَ, kadzdzaba) di sini disebut lebih dulu, dan pasangannya menyusul di ayat yang sama.
Perbedaan urutannya patut dicatat. Di 88:23 yang disebut lebih dulu berpaling dan yang menyusul menutupi, sedangkan di sini yang disebut lebih dulu mendustakan dan yang menyusul berpaling. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang berlawanan.
Bentuk (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) berpola kelima, sehingga artinya memalingkan diri sendiri, bukan dipalingkan pihak lain. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai penyebabnya.
Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:15. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan, dan bentuk yang sama dipakai di 92:18 untuk menerangkan kata terakhir di 92:17.
Kesejajaran itu patut dicatat. Dua golongan sama-sama diterangkan lewat kata sambung yang sama pada ayat yang menyusul penyebutan namanya. Jadi susunan keduanya sejajar persis, dan yang berbeda cuma isi keterangannya. Kata (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) menutup ayat ini, dan keduanya berbentuk lampau.
Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 92:18 berbentuk sekarang. Jadi ciri golongan yang celaka disebut sebagai perbuatan yang sudah selesai, dan ciri golongan yang bertakwa disebut sebagai perbuatan yang berlangsung. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Bentuk (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) berpola kelima, sehingga perbuatannya disandarkan kepada pelakunya.
Bentuk (كَذَّبَ, kadzdzaba) berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi yang dinyatakan sikapnya terhadap apa yang datang kepadanya, bukan ucapannya sendiri, dan perbedaan itu perlu dijaga.
Kata (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbaris sukun dan menerangkan kata terakhir di 92:15. Jadi kedudukan i'rabnya mengikuti kata yang diterangkannya, dan bentuk yang sama dipakai di 92:18 dengan sebab yang sama.
Tafsiran
Ayat ini merinci ciri orang paling celaka: mendustakan dan berpaling dari kebenaran, dan kata kerja pertamanya diulang dari 92:9 sehingga akarnya dipakai dua kali di dalam surah ini.
Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 202 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk pelindung dan kata untuk berpaling. Kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat, sebab di sana dua kata kerja yang sama persis berdiri berdampingan.
Jadi 88:23 memuat pasangan kata kerja yang sama dengan ayat ini, yaitu berpaling dan mendustakan, dan yang berbeda cuma urutannya. Di 88:23 yang disebut lebih dulu berpaling dan yang menyusul menutupi, sedangkan di sini yang disebut lebih dulu mendustakan.
Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:15. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan, dan bentuk yang sama dipakai di 92:18 untuk menerangkan kata terakhir di 92:17.
Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 92:18 berbentuk sekarang. Jadi ciri golongan yang celaka disebut sebagai perbuatan yang sudah selesai, dan ciri golongan yang bertakwa disebut sebagai perbuatan yang berlangsung.
Bentuk kata kerja pertamanya berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi yang dinyatakan sikapnya terhadap apa yang datang kepadanya, bukan ucapannya sendiri, dan perbedaan itu perlu dijaga.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 202 ayat, dan kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat sebab di sana dua kata kerja yang sama persis berdiri berdampingan. Jadi 88:23 memuat pasangan kata kerja yang sama dengan ayat ini, dan yang berbeda cuma urutannya. Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Pasangan kata kerja yang sama di dua surah menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut. Perbuatan yang berpangkal pada diri sendiri tidak bisa dijelaskan lewat keadaan di luar.
- Di 88:23 yang disebut lebih dulu berpaling dan yang menyusul menutupi, sedangkan di sini yang disebut lebih dulu mendustakan dan yang menyusul berpaling. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang berlawanan. Apa yang lebih dulu terjadi pada seseorang: hatinya menolak, atau langkahnya menjauh? Urutan yang berlawanan pada pasangan yang sama menuntut pembacanya memperhatikan mana yang dulu. Perbuatan yang berpangkal pada diri sendiri tidak bisa dijelaskan lewat keadaan di luar.
- Akar kata kerja keduanya memberi kata untuk pelindung dan kata untuk berpaling. Jadi satu akar memikul mendekat kepada Allah sebagai pelindung dan menjauh sebagai orang yang berpaling, dan yang menyatukannya gerakan memutar badan. Yang menjadi pelindung menghadap, dan yang berpaling membelakangi. Satu akar untuk pelindung dan untuk yang berpaling menyatukan keduanya lewat memutar badan. Perbuatan yang berpangkal pada diri sendiri tidak bisa dijelaskan lewat keadaan di luar.
- Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:15, dan bentuk yang sama dipakai Allah di 92:18 untuk menerangkan kata terakhir di 92:17. Jadi dua golongan sama-sama diterangkan lewat kata sambung yang sama pada ayat yang menyusul penyebutan namanya. Dua golongan yang diterangkan dengan susunan sama menandai bahwa keduanya disusun sejajar. Mendustakan dan berpaling berjalan bersama, dan urutannya berbeda di dua surah.
- Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 92:18 berbentuk sekarang. Jadi ciri golongan yang celaka disebut Allah sebagai perbuatan yang sudah selesai, dan ciri golongan yang bertakwa sebagai perbuatan yang berlangsung. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Selesai berbanding berlangsung menandai bahwa dua golongan disebut pada dua waktu yang berbeda. Mendustakan dan berpaling berjalan bersama, dan urutannya berbeda di dua surah.
- Bentuk kata kerja keduanya berpola kelima, sehingga artinya memalingkan diri sendiri, bukan dipalingkan pihak lain. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan Allah tidak menyebut satu pihak pun sebagai penyebabnya. Perbuatan itu karena itu tidak bisa dialihkan kepada keadaan di luar dirinya. Memalingkan diri sendiri tidak bisa dialihkan kepada keadaan di luar dirinya oleh siapa pun. Mendustakan dan berpaling berjalan bersama, dan urutannya berbeda di dua surah.