الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ

Yang menginfakkan hartanya untuk menyucitumbuhkan diri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰalladzii yu'tii maalahu yatazakkaayang menginfakkan hartanya untuk menyucitumbuhkan diri

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. يُؤْتِيyu'tiimemberikan
  3. مَالَهُmaalahuhartanya
  4. يَتَزَكَّىٰyatazakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Definisi konkret ketakwaan tertinggi: 'yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk menyucitumbuhkan diri', tindakan nyata (berinfak) yang menjadi bukti dan sarana pertumbuhan spiritual, bukan klaim ketakwaan tanpa manifestasi konkret.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(di jalan Allah)" dan "(dari sifat kikir dan tamak)" tidak dipakai. Kata kerja (يَتَزَكَّىٰ, yatazakkaa) diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", konsisten dengan 80:3, 80:7, 87:14, dan 91:9. Kata ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 35:18 dan 92:18.

Akar (يَتَزَكَّىٰ, yatazakkaa) berarti tumbuh dan bersih. Akar itu dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Kesejajaran dengan 87:14 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang berdekatan dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang menyucitumbuhkan diri.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai akar yang sama untuk perbuatan yang sama, dan yang di 87:14 berbentuk lampau sedangkan yang di sini berbentuk sekarang. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (يَتَزَكَّىٰ, yatazakkaa) di sini berbentuk sekarang, berbeda dari bentuk lampau di 87:14.

Padanan yang dipakai menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain. Jadi menyucikan diri bukan cuma membuang melainkan sekaligus menumbuhkan.

Kata (مَالَهُ, maalahu) muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 92:11. Jadi satu benda yang sama disebut dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan untuk menyucitumbuhkan diri.

Kata kerja (يُؤْتِي, yu-tii) berasal dari akar yang berarti datang dan mendatangkan. Akar itu dipakai di ratusan ayat, dan bentuknya berpola keempat sehingga artinya memberikan. Bandingkan dengan kata kerja di 92:5 yang berasal dari akar yang berbeda tetapi maknanya berdekatan.

Jadi dua kata kerja yang berbeda akarnya dipakai untuk perbuatan memberi di dalam satu surah, yaitu di 92:5 dan di ayat ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian dua akar itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya menyebut perbuatan yang sama. Kata (مَالَهُ, maalahu) mendahuluinya, dan keduanya berdiri di dalam satu kalimat.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:17, sama seperti susunan di 92:16. Jadi dua golongan sama-sama diterangkan pada ayat yang menyusul penyebutan namanya, dan kesejajaran itu berlaku persis.

Bentuk (يُؤْتِي, yu-tii) berbentuk sekarang, sedangkan dua kata kerja di 92:16 berbentuk lampau. Jadi ciri golongan yang bertakwa disebut sebagai perbuatan yang berlangsung, dan ciri golongan yang celaka sebagai perbuatan yang sudah selesai.

Kata (مَالَهُ, maalahu) berbaris fathah karena menjadi objek, sedangkan bentuknya di 92:11 berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini merinci ciri orang yang paling bertakwa: menginfakkan hartanya demi menyucitumbuhkan diri, dan kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 35:18 dan 92:18.

Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Kesejajaran dengan 87:14 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang berdekatan dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang menyucitumbuhkan diri.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai akar yang sama untuk perbuatan yang sama, dan yang di 87:14 berbentuk lampau sedangkan yang di sini berbentuk sekarang. Padanan yang dipakai menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah.

Kata ketiganya muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 92:11. Jadi satu benda yang sama disebut dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan untuk menyucitumbuhkan diri.

Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:17, sama seperti susunan di 92:16. Jadi dua golongan sama-sama diterangkan pada ayat yang menyusul penyebutan namanya.

Kata ketiganya berbaris fathah karena menjadi objek, sedangkan bentuknya di 92:11 berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 35:18 dan 92:18, dan akarnya dipakai di 56 ayat termasuk 87:14 dan 91:9. Kesejajaran dengan 87:14 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang berdekatan dipakai Allah untuk menyatakan keberuntungan orang yang menyucitumbuhkan diri. Dua surah berdekatan yang memakai satu akar untuk perbuatan sama berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Harta yang sama dengan dua nasib berbeda menaruh seluruh perbedaannya pada pemiliknya.
  • Padanan kata kerja terakhirnya menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain. Jadi menyucikan diri di hadapan Allah bukan cuma membuang melainkan sekaligus menumbuhkan. Bersih dan bertambah berjalan bersama di dalam satu akar, bukan bergantian menurut keadaannya. Harta yang sama dengan dua nasib berbeda menaruh seluruh perbedaannya pada pemiliknya.
  • Kata ketiganya muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 92:11. Jadi satu benda yang sama disebut Allah dua kali: sekali sebagai yang tidak menolong pemiliknya, dan sekali sebagai yang diinfakkan untuk menyucitumbuhkan diri. Yang membedakan bukan hartanya melainkan apa yang dikerjakan pemiliknya atasnya. Harta yang sama disebut dua kali dengan dua nasib berbeda, dan yang membedakan pemiliknya. Harta yang sama dengan dua nasib berbeda menaruh seluruh perbedaannya pada pemiliknya.
  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di ratusan ayat, dan bentuknya berpola keempat sehingga artinya memberikan. Bandingkan dengan kata kerja di 92:5 yang berasal dari akar yang berbeda tetapi maknanya berdekatan. Jadi Allah memakai dua akar yang berbeda untuk perbuatan memberi di dalam satu surah. Dua akar berbeda untuk satu perbuatan di dalam satu surah menuntut pemeriksaan, bukan tebakan. Memberi sebagai cara membersihkan diri berbeda dari memberi supaya dianggap bersih.
  • Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata terakhir di 92:17, sama seperti susunan di 92:16. Jadi dua golongan sama-sama diterangkan Allah pada ayat yang menyusul penyebutan namanya, dan kesejajaran itu berlaku persis pada kedua pasangan ayat. Dua golongan yang diterangkan pada ayat yang menyusul namanya menandai susunan yang sejajar. Memberi sebagai cara membersihkan diri berbeda dari memberi supaya dianggap bersih.
  • Yang dinyatakan Allah bukan bahwa ia memberi lalu menjadi suci melainkan bahwa ia memberi dalam keadaan menyucitumbuhkan diri. Jadi pemberian dan penyucian itu satu perbuatan, bukan sebab dan akibat yang terpisah. Apa bedanya bagi seseorang antara memberi supaya bersih dan memberi sebagai cara membersihkan diri? Memberi sebagai cara membersihkan diri berbeda dari memberi supaya menjadi bersih sesudahnya. Memberi sebagai cara membersihkan diri berbeda dari memberi supaya dianggap bersih.