Ayat 92:19
وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ
Padahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰwa-maa li-ahadin 'indahu min ni'matin tujzaapadahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لِأَحَدٍli-ahadinbagi seorang pun
- عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
- مِنْmindari
- نِعْمَةٍni'matinnikmat
- تُجْزَىٰtujzaadibalas
Inti bacaan
Kemurnian motif tanpa pamrih: 'padahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya', penegasan bahwa pemberian yang dilakukan bukan untuk membalas utang budi atau mengharapkan balasan dari penerima, kedermawanan yang benar-benar bebas dari kalkulasi transaksional.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تُجْزَىٰ, tujzaa) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19. Akarnya berarti membalas setimpal. Ia dipakai di 109 ayat, antara lain 2:48, 6:160, 37:39, 76:12, dan 98:8, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut balasan atas amal.
Kesejajaran dengan 20:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas menurut apa yang diusahakannya. Jadi akar yang menamai balasan dari Yang berfirman, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Kata (نِعْمَةٍ, ni'matin) di sini berada di dalam pengingkaran, bukan di dalam berita.
Kata (نِعْمَةٍ, ni'matin) berasal dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi. Akar itu dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 88:8, dan 93:11. Kesejajaran dengan 93:11 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut nikmat Tuhan yang diperintahkan disebut-sebut.
Kata (لِأَحَدٍ, li-ahadin) tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada seorang pun. Kesejajaran dengan 90:5 dan 90:7 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar juga berada di dalam pengingkaran dua kali berturut-turut.
Bentuk (تُجْزَىٰ, tujzaa) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17 yang juga menyembunyikan pelakunya.
Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa alasan yang sebenarnya.
Kata (عِنْدَهُ, 'indahu) memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17, sehingga tiga ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi keterangan tentang golongan itu berlangsung selama empat ayat sampai 92:20.
Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (تُجْزَىٰ, tujzaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata benda yang diterangkannya. Jadi kesesuaian bentuk itu terbawa di dalam kalimatnya sendiri, dan bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan.
Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, sama seperti huruf di awal 92:11. Jadi dua ayat di surah ini dibuka dengan huruf yang sama, dan keduanya mengingkari kegunaan sesuatu yang berhubungan dengan harta.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kemurnian motif orang yang bertakwa: tidak memberi karena membalas budi, dan kata kerja terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19.
Akarnya dipakai di 109 ayat, antara lain 2:48, 6:160, 37:39, 76:12, dan 98:8, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut balasan atas amal. Kesejajaran dengan 20:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas menurut apa yang diusahakannya.
Jadi akar yang menamai balasan dari Yang berfirman, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17.
Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi.
Kata pertamanya huruf pengingkaran, sama seperti huruf di awal 92:11. Jadi dua ayat di surah ini dibuka dengan huruf yang sama, dan keduanya mengingkari kegunaan sesuatu yang berhubungan dengan harta. Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya, sehingga dua ayat itu satu kalimat.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19, dan akarnya dipakai di 109 ayat. Di 20:15 akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas Allah menurut apa yang diusahakannya. Jadi akar yang menamai balasan dari-Nya, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Balasan dari-Nya dan balas budi antarmanusia berbagi satu akar, dan yang kedua justru diingkari. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
- Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup Allah kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi. Apa yang berubah pada nilai sebuah pemberian ketika diketahui bahwa yang memberi sedang melunasi utang budi? Yang ditutup bukan penerimaan nikmatnya melainkan kemungkinan pemberiannya berupa pelunasan utang. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 88:8, dan 93:11. Kesejajaran dengan 93:11 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut nikmat Allah yang diperintahkan disebut-sebut. Jadi dua surah di juz ini memakai akar yang sama untuk dua kedudukan nikmat yang berbeda. Dua surah yang memakai satu akar untuk dua kedudukan nikmat berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.
- Kata ketiganya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada seorang pun. Kesejajaran dengan 90:5 dan 90:7 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar juga berada di dalam pengingkaran dua kali berturut-turut. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk menutup seluruh kemungkinan. Kata yang menutup seluruh kemungkinan dipakai di dua surah berdekatan dengan cara yang sama. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17 yang juga menyembunyikan pelakunya. Dua ayat berdekatan karena itu sama-sama menahan penyebutan pelaku. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya berulang di dua ayat berdekatan di surah ini. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
- Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa alasan yang sebenarnya dinyatakan Allah. Kalimat yang dipecah menjadi dua ayat meninggalkan pembacanya tanpa alasan bila dibaca sendiri. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.
Ayat 92:20
إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ
Kecuali karena mencari wajah Tuhannya yang tertinggi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰillaa btighaa'a wajhi rabbihi l-a'laakecuali karena mencari wajah Tuhannya yang tertinggi
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- ابْتِغَاءَbtighaa'amencari
- وَجْهِwajhiwajah
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- الْأَعْلَىٰl-a'laaYang Mahatinggi
Inti bacaan
Motivasi tunggal yang murni: 'kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya yang tertinggi', kejelasan orientasi yang hanya mengarah pada satu tujuan, kemurnian niat tanpa pencampuran motif duniawi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(dia memberikannya semata-mata)" tidak dipakai. Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang tertinggi", konsisten dengan pola elatif di 87:1. Kata itu muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20.
Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini. Jadi satu kata berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) di sini menyifati Tuhannya, bukan wajah-Nya.
Rangkaian (ابْتِغَاءَ وَجْهِ, ibtighaa-a wajhi) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20. Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari wajah-Nya semata.
Jadi tiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.
Akar (ابْتِغَاءَ, ibtighaa-a) berarti melampaui dan mencari. Akar itu dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas.
Kata (وَجْهِ, wajhi) berasal dari akar yang berarti wajah dan arah. Akar itu dipakai di 78 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk wajah, antara lain di 88:2 dan 88:8. Kesejajaran dengan 88:2 dan 88:8 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk wajah manusia pada hari perhitungan.
Kata (رَبِّهِ, rabbihi) memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17. Jadi empat ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak, dan pengikatan itu dikerjakan kata ganti belaka tanpa mengulang sebutannya.
Kata (إِلَّا, illaa) di awal ayat huruf pengecualian, dan ia menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi dua ayat itu satu kalimat, dan yang dikecualikan bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Bentuk (ابْتِغَاءَ, ibtighaa-a) kata benda berbaris fathah, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi alasannya disebut sebagai keadaan yang melekat, bukan sebagai perbuatan yang dikerjakan pada satu waktu.
Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) berbaris kasrah mengikuti kata yang diterangkannya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi yang tertinggi Tuhannya, bukan wajah-Nya, dan perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya motif orang bertakwa adalah mencari wajah Tuhannya, dan rangkaian dua kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20.
Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari wajah-Nya semata. Jadi tiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia.
Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif dan muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini.
Akar kata pertamanya dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas.
Kata pertamanya juga didahului huruf pengecualian yang menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi yang dikecualikan bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi.
Kata terakhirnya berbaris kasrah mengikuti kata yang diterangkannya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi yang tertinggi Tuhannya, bukan wajah-Nya, dan perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini. Jadi satu kata yang menerangkan Allah berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah berdekatan. Satu kata yang membuka satu surah dan hampir menutup surah lain menandai keduanya sepasang. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
- Rangkaian dua kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20. Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari wajah Allah semata. Jadi ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia. Rangkaian yang berulang di tiga tempat seluruhnya menyangkut perbuatan tanpa mengharap balasan. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
- Akar kata pertamanya dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas, dan yang menyatukannya barangkali kesungguhan yang tidak berhenti pada tempat yang lazim. Satu akar untuk mencari sungguh-sungguh dan melampaui batas menuntut pemeriksaan atas letaknya. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
- Kata pertamanya didahului huruf pengecualian yang menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi yang dikecualikan Allah bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama tentang apa yang dikerjakan, dan yang kedua tentang mengapa ia dikerjakan. Yang dikecualikan alasannya, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu menentukan seluruh maknanya. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 78 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk wajah, antara lain di 88:2 dan 88:8. Kesejajaran dengan kedua ayat itu patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk wajah manusia pada hari perhitungan, sedangkan di sini untuk wajah Allah yang dicari. Dua surah yang memakai satu akar untuk wajah manusia dan wajah-Nya berdiri sejajar tanpa penghubung. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.
- Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17. Jadi empat ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak, dan pengikatan itu dikerjakan kata ganti belaka tanpa Allah mengulang sebutannya. Apa yang dijaga sebuah teks ketika ia menahan diri dari mengulang nama yang sudah jelas? Menahan diri dari mengulang nama yang sudah jelas menjaga teksnya tetap sepersis yang tertulis. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.